Cinta yang Galau

Entah sejak kapan kata ‘galau’ beredar dan meluas di ranah publik. Saya pribadi mengetahui istilah ini dari tentu saja, Twitter. Bahkan ada jargon yang muncul berbunyi, “Nggak galau, nggak gaul”. Dua kata itu, “galau” dan “gaul” yang awalnya tak ada hubungannya sama sekali, kemudian begitu saja dikait-kaitkan.

Lalu bagaimana dengan cinta? Kenapa galau sering dikaitkan dengan cinta? atau sebaliknya, kenapa cinta dekat sekali dengan galau? Who comes first?

Sebab menurut saya, yang menggalau itu sebagian besar adalah orang-orang yang merasakan cinta: jatuh cinta, merindu, patah hati, dan sebagainya.

Seperti saya dan juga hampir sebagian besar manusia, yang pernah dikenai cinta, mustinya pernah merasakan kegalauan hati.

That’s why, setiap kali kita rindu, hati kita jadi susah. Setiap kali kita jatuh cinta pada seseorang yang belum tentu merasakan hal yang sama, hati kita resah tak terpadamkan. Apalagi saat cinta yang selama ini kita pegang dan jaga erat lalu kemudian hilang dan pergi, perasaan kita jauh lebih kelam daripada yang pernah kita rasakan. Umumnya, semua manusia merasa begitu. Makanya, cinta itu dekat dengan galau.

Dan seperti yang saya pernah tulis di status Facebook, “It hurts. It humiliates. but it’s our choices to or not to shared it publicly”– “Mungkin memang kita sakit hati dan galau. Tapi pilihan kita untuk membagikannya pada publik atau tidak”. Tergantung kita, apa mau menyebarluaskan kegalauan kita pada banyak orang atau menyimpan itu untuk diri kita sendiri saja.

Sunshine
🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s