Fake Follower

Saya pernah bercakap dengan salah satu sahabat tentang aturan folow-unfollow di Twitter. Entah bagaimana alur obrolan itu, kami tiba-tiba sampai pada percakapan tentang fitur ‘mute’, yaitu tentang kita meminta Twitter tidak menampilkan twit-twit akun yang kita ‘mute’ dalam waktu yang kita kehendaki. Fitur ‘mute’ itu juga bisa diatur agar akun yang dimaksud tidak tahu bahwa dia sedang di-‘mute’. Saya lalu bertanya pada sahabat saya itu, kenapa tidak sekalian unfollow saja, kenapa harus di-‘mute’ kalau memang tidak berkenan membaca twit-twit tersebut.

Dia menjawab “Tidak apa, toh mereka tidak tahu, saya tetap follow mereka karena yang mereka butuh cuma followers…”

Entahlah, saya lalu mengingat obrolan yang sudah lama ini lalu mengistilahkan sahabat saya itu sebagai “fake follower”.

Itu seperti mendiamkan hal yang buruk. Kalau memang twit seseorang tidak pantas diikuti karena satu alasan, kenapa tidak unfollow saja? Itu untuk mengukur kualitas twit mereka selama ini- jika itu memang jadi alasan utama kita mengikuti seseorang di Twitter.

Kita tidak perlu jadi fake follower untuk menjaga kesan dan hubungan yang baik. Kalau mereka cukup dewasa untuk tidak mengait-ngaitkan hubungan dunia nyata dan maya, pasti mereka mengerti.

Maksud saya, kita bebas berlaku apa saja. Suka, FOLLOW. Tidak suka, UNFOLLOW. Memilih MUTE itu seperti berada dalam situasi ABU-ABU.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s