Rumah Badai

Sebelum badai datang, Sayang
Marilah membangun rumah kita
mendirikan pondasi demi pondasi
sekuat-kuatnya.

mungkin langit masih cerah
dan hujan belum pula turun
karena itu, mari kita menaikkan atap rumah kita
membingkai jendela persegi di dekat pintu

Rumah kita betapa indah, sungguh
takjub aku memandangnya
kita berdua bersama anak-anak
kita akan hidup bahagia bersama di dalamnya

Sesaat, ketika badai datang menghantam-hantam
pikirku kita akan aman di rumah

Kalau kau takut, aku takut melihatmu ketakutan
aku memelukmu, kau mendekapku
tak ada suara, diluar hujan lebat
petir menyambar-nyambar

badai menghantam-hantamaku memelukmu, kau mendekapku
kita berdua di dalam rumah
rumah kita…

Advertisements

Adina and Jasmine

Adina and Jasmine

I had a nice conversation with Adina and Jasmine. They are my senior’s daughters who came to our apartment this evening.

Adina is six years old and Jasmine is eleven. They’re beautiful. Their mother, Lisa, came from the same hometown with me, Makassar, Indonesia.

Adina just put her plate on the table when I and Wiwid asked her to come and talk with us. She was kind of shy but she came in to us.

I asked about her school, and she told me about the name of her school but I didn’t catch it. She said that she’s kinda a good student. She got yellow more than green. Green means great. Yellow means there’s something wrong but you still can work on it. And red means you have call your parents to school. She never gets red.

She told me about her sister, Jasmine, how often they fight each other just because of comb or anything else. She told us that she forgot once when she went to Makassar, Indonesia, because she was two years old that day. Maybe Jasmine still remembered it. We told her that she have to see Indonesia, because it’s a beautiful country. She knows some words in Indonesia like; terima kasih for thanks and sama-sama for your welcome.

When I asked her, if she likes to read or not, she answered that Jasmine read a lot of books than she did. So, I called Jasmine to come gather with us and talk.

If Adina is cute, Jasmine is pretty. I think every girls are beautiful, aren’t they? When she came, she sat between me and Wiwid. Jasmine told us about the books that she usually read. It calls, “Warriors”. When Adina told me that it’s a cat story, I couldn’t believe it was true so I confirmed it to Jasmine and she said, yes. “Cat is a main character?” I asked her.

She didn’t read Harry Potter although she liked a magic story. Her father told her that Harry Potter’s books contained more detail than it’s movies. So, if they wanted to know the story, just watched the movie. I told her, that was not pretty much true, because I enjoyed the books than the movies. I suggested her to read the books.

I really like them. It’s just interesting to listen how they spoke, how the words came out so easily. I like their accent and their style was so funny. I hope I could meet them next time while I’m still in Tucson.

Tucson, 2010
Sunshine

Question

People keep questioning me
what’s so special in you
why do I love you
how could I so madly in love with you
am I mad or something?
or did you put any charm on me, somehow?
which I bluntly won’t believe any of it

I just love him.

words won’t enough to describe any feeling we felt
or any circumstance we had
It just happened and happened

Koruptor atau Kita yang Bodoh

Koruptor itu bukan hanya serakah tapi juga bodoh.
Sebenarnya saya tidak mau berkomentar tentang kasus korupsi manapun yang merajalela di Indonesia. Kasus korupsi yang sudah tidak terhitung jumlahnya itu terasa sangat memuakkan. Indonesia sudah overdosis untuk kasus korupsi. Jika korupsi itu anggur merah, Indonesia sudah mabuk dan puyeng berkepanjangan.

Kasus yang sedang hangat di televisi sekarang adalah apalagi kalau bukan tentang perseteruan ANAS dan NAZARUDDIN. Media terus-menerus mengekspose soal sumpah pocong versus hukum gantung di Monas. Kita menonton televisi, masyarakat memberi suara dan pendapat soal kedua istilah ini, lalu kemudian apa?

Percayakah kalian bahwa sebenarnya tak akan ada yang berubah misalnya jika Nazar ataukah Anas yang bersalah?

Setidaknya untuk saya pribadi.

Maksud saya, kasus besar yang melibatkan petinggi-petinggi negara itu takkan mempengaruhi kehidupan masyarakat kecil. Koruptor memang merugikan negara. Koruptor memang harus dihukum berat. Koruptor memang pencuri, penipu dan penjahat. Tapi, tahukah kalian hal itu tidak berarti apapun?

Lain halnya jika uang yang dikorupsi itu mempengaruhi kenaikan harga BBM. Misalnya, Anas dan Nazar itu terlibat korupsi uang negara yang mestinya menjadi subsidi BBM. Uang yang mestinya dijadikan uang pembeli migas Indonesia, tapi malah dikorupsi. Nah, itu baru pengaruh. Pengaruhnya bahkan besar sekali bagi rakyat kecil. Tidak heran kan, mahasiswa berdemo mati-matian menentang keputusan pemerintah. Meskipun sebenarnya, takkan ada yang berubah.

Saya tidak peduli Angelina Sondakh dan Miranda Gultom ditahan atau tidak. Toh, mereka akan tetap KAYA. Saya juga tidak peduli Gayus kedua, alias Dhana Widyatmika punya rekening gendut hingga puluhan miliar atau tidak. Toh, itu urusannya. Saya hanya peduli bagaimana sekarang saya bisa menjadi lebih baik untuk hidup saya sendiri dan untuk orang-orang di sekitar saya.

Bukankah itu gunanya dibuat lembaga-lembaga, divisi-divisi, seksi-seksi? Agar mereka hanya mengurusi apa tugas dan tanggung jawab mereka dengan sebaik-baiknya? Maksud saya disini, kerjakan apa tanggung jawabmu masing-masing dengan berharap bahwa hal itu akan membawa dampak yang baik bagi keseluruhan dan satuan inti.

Iya, koruptor itu bukan hanya serakah tapi juga bodoh. Serakah, karena mereka sudah KAYA tapi masih ingin lebih KAYA. Bodoh, karena mereka tahu nasib apa yang menanti mereka jika ketahuan tapi masih juga korupsi.

Mau dibilang tidak pedulian atau apa tapi memang kenyataannya begitu. Pemerintah sekarang sudah tidak peduli sama masyarakat. apalagi masyarakat kecil. jadi kalau mau mengubah hal yang besar, berpikir dan jadilah sesuatu yang besar untuk dirimu sendiri lalu kemudian orang lain.

Sunshine

Ditulis setelah menonton televisi di rumah seharian dan menemukan kemuakan dan kejenuhan dengan berita yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali.

Dilema (2012)

Dilema
“Dilema” 5 Kisah dalam Sebuah Film

Genre : Drama, Crime
Sutradara : Adilla Dimitri, Robert Ronny, Robby Ertanto Soediskam, Rinaldy Puspoyo
Skenario : Wulan Guritno , Adilla Dimitri , Robert Ronny , Robby Ertanto , Rinaldy Puspoyo
Pemeran : Winky Wiryawan,Pevita Pearce , Wulan Guritno , Roy Marten, Baim Wong, Lukman Sardi,Reza Rahadian,Kenes Andari,Jajang C. Noer,Rangga Djoned,Ario Bayu,Roy Sungkono,Ray Sahetapy,Abimana Aryasatya.

Rilis : 23 Februari 2012
Produksi : WGE Entertainment

Seorang anak yang berprofesi sebagai seorang polisi, bisa saja bingung untuk memutuskan antara ingin memenjarakan atau membebaskan ayahnya yang diciduk berjudi di sebuah kasino ilegal. Seorang ikhwan dengan kebimbangan luar biasa harus memilih untuk menegakkan agama Islam atau rela kepercayaannya dibeli dengan uang. Seorang ayah yang anaknya akan menikah dua minggu lagi pun harus memilih antara ingin menebus kembali jam tangan warisan keluarga untuk diberikan kepada anaknya atau tidak berjudi lagi. Belum lagi cerita tentang seorang bos mafia terbesar di Jakarta harus memilih akan diwariskan kepada anak yang mana semua harta dan kekuasaannya dan kisah anak perempuannya yang tenggelam dalam dunia pesta dan obat terlarang.

Lima kisah itu diramu dalam film berjudul “Dilema”. Film ini dirilis pada 23 Februari 2012 dan disutradarai oleh Adilla Dimitri, Robert Ronny, Robby Ertanto Soediskam dan Rinaldy Puspoyo yang entah mengapa menjajarkan pemain watak Indonesia dari segala generasi. Sebut saja Abimana, Ario Bayu, Baim Wong, Jajang C Noer, Lukman Sardi, Pevita Pierce, Ray Sahetapy, Reza Rahadian, Roy Marten, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Verdi Solaiman, Winky Wiryawan dan Wulan Guritno.

Proyek film pertama produksi WGE Pictures ini mungkin saja bisa dikatakan sebagai ambisi Wulan Guritno- pemain, penulis sekaligus produser film ini. Namun diluar hal itu, tema film tentang perjudian, mafia, kepolisian, narkoba hingga perseteruan agama yang bisa dibilang berat dan berani ini, patut dipuji. Wulan Guritno pun tampil maksimal dengan kondisi sedang hamil namun mampu membawa peran drug dealer dan juga seorang lesbian.

Diceritakan dengan gaya film omnibus (kumpulan film pendek berdurasi 3-10 menit dengan tema yang sama untuk dijadikan satu buah film utuh) film ini juga dikuatkan dengan penataan gambar yang apik dari Yudi Datau (Arisan 2, Denias Senandung Di Atas Awan, GIE) dan musik yang cukup bikin merinding. Mengambil tagline film “Life Will Find Its Way” ini pun diharapkan menjadi tontonan segar bagi penonton di Indonesia.

Have a nice watching!
Sunshine

@hurufkecil: “Saya Belajar dari (Si)apapun”

Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

 

Saya cukup beruntung punya kesempatan untuk mewawancarai M. Aan Mansyur atau lebih dikenal dengan @hurufkecil di Twitterland. Saya bertanya tentang buku terbarunya, “Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita” yang akan launching April mendatang di Jakarta. Dalam kesempatan ini dia menjelaskan tentang ada apa di balik buku TTYMKDSC, mulai dari tema, penerbit bukunya yang baru hingga inspirasi menulisnya.

Apa maksud dari “Tokoh-Tokoh yang Melawan”?

Saya kira banyak orang akan bertanya kenapa judulnya Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita? (Si)apa yang dimaksud ‘tokoh-tokoh yang melawan’ dalam himpunan puisi ini? Judul himpunan puisi ini diambil dari judul bagian ketiga buku ini. Bagian itu berisi 18 puisi yang secara garis besar berkisah tentang kita, manusia-manusia Indonesia, yang dikepung tokoh-tokoh jahat, tokoh-tokoh yang menyiksa kita dengan kekuasaan yang mereka miliki.

Secara keseluruhan buku ini punya tema tentang apa?

Saya tidak bisa merangkum buku puisi ini ke dalam satu tema. Sengaja buku ini dibagi menjadi bagian-bagian. Bagian pertama, misalnya, berkisah tentang cinta dan waktu. Bagian kedua dan ketiga lebih banyak bertema sosial-politik. Bagian-bagian lain bertema cinta dalam pengertian yang bisa luas, bukan sekadar cinta antara sepasang kekasih. Bukan cuma itu, sejumlah puisi di bagian lain bercerita tentang puisi, kematian, dan lain-lain.

Kenapa memakai penerbit baru untuk buku ini?
Rencana awal buku ini terbit 2 tahun lalu, tetapi kemudian saya merasa naskahnya belum selesai. Saya menunda dan melakukan banyak perubahan, termasuk menambahkan sejumlah puisi baru. Kenapa penerbit baru? Penerbit baru itulah yang mulanya mengajak saya menerbitkannya.

Oh, iya, saya harus, menceritakan bahwa penerbitan buku saya ini menggunakan sistem Print on Demand, dicetak sesuai pesanan. Ini untuk pertama kalinya saya menerbitkan buku menggunakan sistem semacam ini. Di Indonesia, sistem penerbitan semacam ini mungkin belum terlalu populer. Penulis masih banyak yang takut memilih menyerahkan naskahnya untuk diterbitkan dengan sistem semacam ini. Kebanyakan penulis masih percaya penerbit-penerbit mainstream.

Saya kira perangkat teknologi dan komunikasi sudah sangat memungkinkan menerbitkan dan menjual buku dengan sistem seperti ini. Daripada buku menumpuk di gudang, lebih baik buku itu dicetak jika ada yang pesan. Saya kira ini satu metode sederhana juga untuk menghemat penggunaan kertas. Apalagi, umum diketahui, buku puisi tidak begitu diminati pembaca di Indonesia.

Untuk buku ini, berapa lama proses menulis dan mengumpulkan tulisan?

Saya mulai menulis puisi-puisi yang ada di buku ini jauh sebelum buku ketiga saya, Cinta yang Marah, terbit. Sejumlah puisi dalam buku ini saya tulis pada tahun 2008. Sebagian besar puisi yang ada di buku ini pernah terbit di media-media seperti Kompas dan Koran Tempo.

Banyak puisi yang mengalami penyuntingan besar-besaran, tidak sama dengan versi awal sewaktu puisi itu dimuat di media.

Tokoh-tokoh apa saja yang ada dalam buku ini dan apa alasan memasukkan tokoh tersebut? Dari mana inspirasinya?

Tokoh-tokoh apa saja? Banyak. Tokoh dalam puisi ini tidak melulu menunjuk ke orang. Dalam puisi ini tokoh-tokoh bisa berupa korupsi, pengadilan, teknologi, agama, rumah sakit, dan sebagainya.

Inspirasinya datang dari berbagai hal. Saya membaca hasil penelitian, media, buku-buku, peristiwa sehari-hari, dan pengalaman-pengalaman saya bersentuhan dengan siapapun.

Apakah Kakak punya tokoh idola? Apa ada dalam buku ini?

Ini pertanyaan yang selalu sulit untuk saya jawab. Saya tidak pernah merasa mengidolakan orang tertentu. Saya belajar dari siapapun. Tetapi kalau pertanyaannya siapa yang penyair lain yang mempengaruhi kepenyairan saya, sejumlah orang barangkali bisa menemukan jejak-jejak penyair lain dalam puisi-puisi saya.

Beberapa tahun terakhir saya banyak membaca puisi-puisi penyair asing. Sejumlah penyair kontemporer di Amerika dan Eropa banyak mempengaruhi saya akhir-akhir ini. Tetapi sebagai penyair, saya sendiri terus berusaha menunjukkan cara saya sendiri dalam menulis puisi. Saya kira begitulah setiap penulis, harus terus berjuang agar memiliki cara ungkap sendiri.

Saya tidak mengidolakan satu atau dua penulis, bukan berarti saya tidak menyerap pengaruh dari banyak penyair. Saya menyukai puisi Wislawa Zymborska, Pablo Neruda, John Ashbery, Allen Ginsberg, Naomi Shihab Nye dan banyak lagi.

Beberapa puisi di buku ini justru dipengaruhi oleh seniman visual, bukan sastrawan. Bagian pertama buku ini berisi lebih 20 puisi yang merupakan hasil interpretasi saya terhadap sejumlah karya fotografi. Beberapa puisi di bagian lain juga berangkat dari film, lukisan, dan komik. Sebagian lagi berangkat dari lagu.

Begitulah saya belajar dari banyak orang, sehingga sulit menyebut siapa sesungguhnya idola saya. Intinya, saya belajar dari siapapun.

Apa perbedaan buku kumpulan puisi ini dengan buku sebelumnya, misalnya, Aku Hendak Pindah Rumah? Adakah kesan yang istimewa Kakak rasakan dalam proses menulis buku ini?

Banyak hal yang berbeda antara TTYMKDSC dan buku-buku saya sebelumnya. Di buku ini, utamanya 4 bagian pertama, saya menggunakan cara ungkap yang asing bagi orang-orang yang selama ini sering membaca puisi-puisi saya. Lebih kompleks.

***

Sunshine.
interview dilakukan via email dan sms.

P.S :
Bagi kalian yang ingin memesan buku “Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita” dapat dilakukan dengan cara mention akun @katabergerak di Twitter. Just check its timeline. 🙂