Reina’s Life| Grandmom

Reina memegang tangan Randi, kakaknya. Pagi itu keduanya berdiri di depan pintu rumah yang bangunannya sudah tua tapi masih terawat. Seingat Reina, dia pernah sekali ke rumah ini, waktu dia berumur enam tahun. Ini rumah Neneknya yang hanya beberapa kali dikunjunginya bersama orangtuanya dulu. Kini dan seterusnya, di rumah inilah dia dan Randi akan tinggal bersama.

Randi menatap Reina yang menatapnya balik. Dia kemudian mengetuk pintu rumah itu sambil mengucap salam.
“Salam, ini kami. Reina dan Randi…”

Sepersekian detik kemudian Randi tersadar dia bukan lagi berada di Desa Tulil. Selama bertahun-tahun alasan keluarga mereka jarang sekali mengunjungi rumah ini karena rumah ini berada di Marycerll, dan jarak Desa Tulil kesini memakan tiga hari perjalanan darat. Begitu Randi tersadar, tiba-tiba ada suara dari dalam rumah yang disusul dengan bunyi derik kunci pintu. Begitu pintu terbuka, seorang wanita berumur tujuh puluhan tahun berdiri dengan senyuman hangat, menyambut mereka.

“Halo, Reina, Randi! Oh, cucu-cucuku, masuklah cepat. Diluar pasti sangat dingin…”
Reina tak menunggu disuruh dua kali. Dia lalu masuk menyeret kopernya yang langsung diambil alih oleh Randi yang juga masuk tidak lama setelah mengangkat tas dan koper miliknya. Mereka lalu merasakan betapa hangatnya berada di dalam rumah.

“Cuaca sudah tak bisa lagi diprediksi. Menit sebelumnya matahari masih ada, menit kemudian berangin dan berkabut. Tunggu beberapa menit lagi, hujan pasti akan segera turun. Orang-orang di televisi mengatakan ini akibat global warming! Ha, aku sendiri mengatakan ini karena peri-peri di langit sedang berpesta sehingga lupa mengatur cuaca. Kau mau teh, Reina? Randi? Seingat Nenek masih ada biskuit di kulkas…” jelas Neneknya sambil merapikan kardigan abu-abu yang sudah nampak lusuh namun tetap nyaman dipakainya.

Reina menguap. Dia kelelahan akibat perjalanan panjang dengan kereta tarik. Randi ingin sekali mandi dan makan agar bisa lekas beristirahat. Tapi Nenek rasanya masih ingin mengobrol. Dia menyeduh tiga cangkir teh dan mengeluarkan aneka rasa biskuit dari kulkas dan menyediakan semuanya di atas meja.

Begitu Nenek duduk, dia lalu menatap dengan amat gembira kedua cucunya itu. Dia ingin mendengar cerita atau bercerita sesuatu. Tapi setelah hampir lima belas menit tak ada satupun dari mereka yang bicara, beliau pun menyerah. Randi kemudian berdehem.

“Umm, jadi orangtua kami menitipkan kami pada Nenek. Saya bisa membantu apa saja. Reina juga sudah terbiasa mengerjakan kebutuhannya sendiri. Jadi Nenek tidak perlu repot untuk…”
“Randi, Nenek tidak repot mengurusi kalian. Minum tehnya, itu biskuitnya juga dimakan. Setelah itu kalian boleh beristirahat di kamar. Untuk sementara, Nenek hanya menyiapkan satu kamar. Besok Nenek akan menyiapkan satu kamar lagi. Untuk malam ini kalian tidur berdua dulu, tidak apa?”
“Baik. Kami mengerti…” ujar Randi. Reina ikut mengangguk.

Perlu waktu sejam hingga Reina akhirnya bisa berbaring di ranjangnya. Dia sudah mengganti seprei mawar dengan seprei Little Princess miliknya. Nenek kemudian masuk memeriksanya.
“Sudah mau tidur?”
Reina mengangguk.
“Apakah kau sudah terlalu tua untuk sebuah dongeng?”
“Tentu tidak, Nek! Aku tidak pernah dibacakan dongeng sebelum tidur. Bagaimana rasanya? Nenek punya cerita?”
“Tentu,…”
Dua puluh menit kemudian dia menyimak cerita Neneknya hingga jatuh tertidur. Tidurnya pulas sekali hingga dia tak merasa saat Randi mencium keningnya sebelum dia sendiri beristirahat.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s