Perantauan

Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah,kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah,manisnya hidup akan terasa, setelah lelah berjuang.
Singa jka tak tinggalkan sarang, takkan dapat mangsa.
Anak panah jika tak tinggalkan busur, takkan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia akan bosan padanya dan enggan memandang.

(Imam Syafi’i dikutip dari Novel Negeri 5 Menara)

Delapan bulan yang lalu, saya mendapat gelar sarjana dari universitas. Alhamdulillah, selama 4 tahun kuliah, akhirnya bisa mengundang orangtua menghadiri acara wisudaku.

Kemudian, ‘welcome to the real world’ menanti. Teman-teman yang sudah lulus duluan, ada yang sudah bekerja di Makassar, ada pula di Jakarta, ada yang pulang kampung, ada pula yang sudah menikah dan punya anak. Saya sendiri, baru bulan ke 3 setelah wisuda memikirkan mencari kerja dengan serius.

Lalu, waktu serasa terbang secepat kilat.

Kemudian kesempatan ke Jakarta akhirnya datang. Sampai sekarang ini pun masih seperti mimpi yang terus melahirkan ragu, cemas dan takut.
Demi apa saya berani merantau sendiri di ibu kota? Tak punya siapa-siapa untuk diandalkan, tak tahu jalan, tak kenal daerah, dialek bahasanya berbeda, apa sebenarnya yang mendorong saya berani dan nekat? Sampai sekarang, percayalah, saya juga belum tahu.

Satu hal yang saya tahu pasti. Saya kesini membawa bekal restu Mama dan Bapak. Orang tua terhebat di seluruh dunia. Walaupun berat, mereka terus mendukungku sampai di titik ini.

Sejak dulu, cuma satu bayangan profesi yang paling kuat yang pernah saya citakan: JURNALIS yang sekaligus PENULIS buku. Dan akhirnya, setelah mengirim beratus aplikasi dan menghadapi berbagai macam tes di banyak perusahaan, saya diterima di Republika. Hebatnya lagi, saya masuk dan tes bertahap-tahap sendiri, tanpa rekomendasi siapapun. Benar-benar usaha sendiri. Mungkin Allah memang sudah menggariskan seperti itu. Republika kental dengan liputan Islaminya.

Insya Allah, saya akan memulai dari awal. Bekerja dan belajar dengan keras. Membuat orangtua bangga. Semoga keberanian untuk merantau kesini membuahkan hasil yang saya harapkan. Tak ada usaha keras yang sia-sia bukan?

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s