Pelita Lita | Bagian 2

Tuhan mendengar setiap doa dan harapan manusia walau yang tak terucap sekalipun. Saat masih SMA, Lita sering berharap dia punya kekasih seorang penikmat film seperti dirinya. Saat Lita bertemu dengan Faris, dia tahu Tuhan mengabulkan pengharapannya. Setiap Jumat selepas sekolah, dia dan Faris akan ke bioskop dekat sekolahnya dan memilih film untuk ditonton. Selepas membeli tiket, mereka akan mencari bangku kosong dan mengobrol. Obrolan mereka mirip seperti kritikus film tamatan luar negeri.

“Kim Ki Duk?” Faris memancing topik pembicaraan.

“3 Iron! Atau film biksu muda itu boleh juga. Kau sendiri?”

“Samaria…”

“Sudah kuduga. Ya ampun, sutradara itu gila. Ganteng sih tapi gila.” Lita mencibir.

Faris terbahak.

“Kenapa? Salah?”

“Tidak. Memang apa hubungannya ganteng dengan film yang dibuat?”

“Hmm, setidaknya dia bisa main di filmnya sendiri”

“Bukan itu maksud pertanyaanku…”

“Iya, aku tahu.”

Mereka lalu terdiam memandangi poster Black Swan di NOW PLAYING section. Tak ada film bagus lagi selain itu yang ingin Lita tonton. Tapi setelah mereka membeli tiket pertunjukkan pun Faris tetap tidak yakin pada pilihan Lita.

“Yakin mau nonton ini?” Faris bertanya.

“Kenapa memangnya?”

“Aku sudah liat trailernya dan ini juga salah satu film ‘gila’ yang mungkin tak kau suka.”

“Aku juga sudah baca reviewnya di Internet dan banyak yang bilang film ini luarbiasa, apalagi aktingnya Natalie Portman”.

“Hey, bukankah kau suka Natalie Portman?” Lita lanjut bertanya.

Faris mengangguk. “She’s such an incredible actress, indeed.”

“That’s it?”

“Aku suka hampir semua filmnya. Dia memilih peran dan film. Dan dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Mestinya totalitas yang ditunjukkannya dalam seni peran, dicontoh banyak aktris muda lainnya.”

“Bukan berarti dia satu-satunya aktris yang bekerja dengan baik, kan?”

Faris baru akan menjawab saat bunyi studio berbunyi. Panggilan untuk studio mereka. Lita lalu beranjak dan mengatakan, “Masuk, yuk!”

Faris menjawab dia akan membeli popcorn dan Coke dulu dan meminta Lita masuk duluan. Tiket mereka bagi dua. Saat Faris pergi meninggalkan Lita menuju lobi, Lita berjalan menuju studio. Sebelum masuk, Lita mendapat firasat bahwa Faris tak akan menonton film ini bersamanya. Firasat yang sama yang dirasakan Ran Mouri persis saat Shinichi Kudo melambaikan tangannya sehabis kencan mereka di taman kota.

Dan firasat Lita, sedihnya, benar. Itu pertemuan mereka yang terakhir. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s