Om

Suatu waktu saat makan malam, Om menegur saya kenapa memakai piring putih plastik. Piring itu ada di dapur, dan piring di dapur cuma dipakai makan sama embak dan sopir.
Saya jawab, gak apa-apa, Om.

Kemudian, tadi pas saya pulang beliau mendapati saya ada di depan televisi menyaksikan dengan antusias tayangan kekerasan wartawan. Beliau mengatakan, kalau saya yang diwawancarai, saya bisa langsung terkenal.

Kupikir, piring plastik putih itu ringan. Piring batu besar yang dari Perancis itu berat. Saya tidak suka memberatkan diri dengan hal-hal kecil. Bukankah itu cuma piring? Apa piring menunjukkan status sosial?

Kupikir, wartawan tidak butuh terkenal. Mereka hanya butuh narasumber yang baik dan kooperatif.

Sunshine

Advertisements

Alley

Saya turun dari G5 dan berjalan kaki sejauh 15 menit untuk bisa sampai rumah.
Saya harus melewati rumah Pak Roland dan melawan debar jantung karena lolongan anjingnya yang memekakan telinga.
Sepanjang jalan sepi. Angin berdesir, daun di pepohonan bergoyang. Langit gelap, lampu jalan terang.
Saya selalu membayangkan Professor Dumbledore dengan gaun panjang penyihirnya berdiri di bawah lampu dan mencabut semua cahaya lampu jalan lalu menyimpannya dalam saya-lupa-apa-namanya.
Benda itu diwariskan kelak pada Ron, sahabat Harry.
Tapi tentu, Professor Dumbledore tak ada disitu. Semua jelas hanya khayalanku.
Sampai di rumah, saya yang biasanya langsung naik ke kamar, mendapati diriku sudah berada di depan televisi dan menonton berita penganiayaan TNI kepada wartawan juru foto di Riau.

Jatiwaringin.