Om

Suatu waktu saat makan malam, Om menegur saya kenapa memakai piring putih plastik. Piring itu ada di dapur, dan piring di dapur cuma dipakai makan sama embak dan sopir.
Saya jawab, gak apa-apa, Om.

Kemudian, tadi pas saya pulang beliau mendapati saya ada di depan televisi menyaksikan dengan antusias tayangan kekerasan wartawan. Beliau mengatakan, kalau saya yang diwawancarai, saya bisa langsung terkenal.

Kupikir, piring plastik putih itu ringan. Piring batu besar yang dari Perancis itu berat. Saya tidak suka memberatkan diri dengan hal-hal kecil. Bukankah itu cuma piring? Apa piring menunjukkan status sosial?

Kupikir, wartawan tidak butuh terkenal. Mereka hanya butuh narasumber yang baik dan kooperatif.

Sunshine

Advertisements

One thought on “Om

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s