Sakit

Mama,

Akhirnya setelah nyaris tiga tahun, sakit itu muncul lagi. Di tengah malam, tanpa satupun yang bisa menemaniku melawan sakitnya.

Awalnya Mama, saya menangis seperti orang kesetanan. Tak tahu kenapa, tapi sakitnya sampai di ulu hati. Tak tahu apa sebabnya, ia datang menusuk-nusuk belakangku. Aku pasrah. Cuma bisa menelpon Tya, mengabarkan kondisiku sambil menangis dan megap-megap.

Ma, ternyata Tya menelpon Brainwave, yang lalu menelpon Rahma. Mereka katanya segera meluncur ke tempatku berada.

Waktu itu sudah pukul 11.00 malam, Ma. Aku tak mau merepotkan Rahma atau Brainwave. Aku harus bisa kuat. Brainwave suka kalau aku kuat.

Jadi, aku mulai berpikir rasional di tengah kepanikanku melawan sakit. Kaki dan tanganku dingin. Aku harus kuat, Ma, karena kau tak ada disini.

Akhirnya, aku duduk. Menenangkan diri, memikirkan hal lain. Membuka notifikasi grup bbm dari kantor. Beberapa menit kemudian, aku mulai baikan. Detik itu juga, aku menelpon Rahma, B, dan Tya, mengabarkan kondisiku, juga meminta mereka tak usah datang. Juga minta maaf sudah bikin panik.

Jadi sekarang aku baik-baik saja. Belakangku masih perih. Sekarang aku akan menyemprot kamar dengan obat anti nyamuk, matikan lampu dan tidur nyenyak layaknya putri. Besok liputan pagi, Ma. Doakan aku baik-baik saja ya, Ma. Aku rindu padamu.

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s