Habib

Dear Mama,

I’ve never told you about this guy. His name is Habib. He is a friend of mine. Dia salah satu orang yang bertemu denganku pada program beasiswa ke Arizona, US, 2010 lalu.

Dan aku akhirnya bertemu dengannya lagi di Jakarta. Setelah tidak bertemu tiga tahun, rasanya waktu tak mengubah apapun.

Dia masih tetap Habib yang dulu kukenal. Yang suka menyapu kepalaku, yang suka merangkul tanganku, yang gampang sekali kubuat tertawa dan gampang sekali membuatku tertawa.

Pertamakali kita bertemu lagi, dia mengatakan sedang menjalin hubungan dengan dua wanita. Satunya, wanita seksi. Satunya lagi, mahasiswi. Aku geleng-geleng kepala.
Saat aku bertemu dengannya lagi, dia bertanya apa aku masih memikirkan Brainwave dan aku menjawab ‘tidak tahu’ dan dia mengatakan ‘jika seorang perempuan bilang tidak tahu itu berarti ‘iya’. Aku tidak menjawab, dia geleng-geleng kepala.

Hahaha, selalu terasa lucu kalau membicarakan apapun dengan Habib.

Waktu itu Ma, aku menghabiskan waktu kerja di Istora Senayan. Dia menyusulku. Kami pulang bersama naik busway karena rumahnya dekat Cawang UKI sedangkan aku transit disitu. Kami singgah sebentar makan malam di warung milik pamannya, lalu dia mengantarku sampai ambil busway ke arah Priok.

Aku memberikannya buku berjudul Maria karangan Vladimir Nabokov. Dia pasti tidak tahu buku itu. Tapi tak apa. Aku tahu dia terlalu suka baca buku.

Sebenarnya saat itu, aku menyimpan kaos Ancol di tasku. Aku ingin memberikannya, tapi kaosnya sudah kuniatkan buat Brainwave. Walaupun aku tahu, B pasti sudah lupa perihal ‘aku akan memberinya kaos’, tapi tak apa. Sometime we meet, baru aku akan memberinya. Toh, aku sudah janji, kan?

Mama, aku terus menerus memberi Habib wejangan, agar mencari dan fokus pada satu perempuan saja buat hubungan serius. Bagaimanapun, dia kan sudah 25. Tapi dia juga sering sekali membalasku dengan, ‘banyak sekali laki-laki diluar. move on laah’. Tapi aku selalu menjawab, ‘memangnya move on itu berarti pacaran lagi? Gak kan?’.

B katanya sudah berganti tempat kerja lagi, Ma. Jadi dia sudah tidak bolak balik Singapore lagi. Dia sekarang masuk di perusahaan televisi yang diasuh oleh Wishnutama. Entahlah, bagaimana media itu nantinya. Soalnya itu kan media baru. Wishnu harus bekerja keras untuk bersaing di industri media yang ketat ini.

By the way, belakangan aku semakin nyaman dengan pekerjaanku. Tapi menurut info, aku bakal di pindah lagi ke wilayah baru. Padahal aku sudah betah sekali di utara. Banyak temen baru, Ma.

Mama, semoga kau sehat selalu.

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s