Mendekap Mimpi

“It’s not hard to get what you want. It’s hard knowing what you want” #readsomewhere

Belakangan ini, saya sering sekali ke toko buku tanpa membeli apa-apa. Bukan karena tak ada buku bagus, tapi saking banyaknya buku yang bagus, saya tak tahu harus membeli yang mana. Sering juga telah ada beberapa buku yang sudah terpegang, tapi akhirnya saya kembalikan lagi ke rak.

Benar bahwa banyak buku yang bagus, tapi jarang sekali ada buku yang begitu saya baca sinopsisnya di cover belakang, di detik itu juga saya yakin bahwa saya akan membawa buku ini sampai ke kasir dan membawanya pulang.

Terakhir, saya ingat sekali. Buku yang saya beli itu berjudul Pulang karya Leila S chudori. Bukunya saya baca sampai habis dan merasa sangat bahagia karena pilihanku tidak salah. Berani Mengubah nya Pandji pun demikian.

Setiap kali berkunjung ke Periplus, Gramedia, Konikuniya, Toko Buku Agung dan sebagainya, saya sering sekali diserang perasaan panik. Panik dampak dari girang tak terkira.
I am a nerd, I guess. I love books so much.

Kupikir, suatu hari, saya akan mencipta karya seperti apa yang saya impikan. 🙂

Sunshine

Advertisements

Diriku yang Dulu

Aku rindu diriku yang dulu. Perempuan yang bebas, hatinya tak dimiliki siapapun. Perempuan yang hanya menikmati menulis dan merasakan hal-hal yang diberikan dunia. Perempuan yang peka dan suka sekali membaca puluhan judul buku dalam setahun. Perempuan yang menulis setelah menonton film yang menginspirasinya. Perempuan yang mencipta cerita rekaan Clare Henry. Perempuan yang seringkali cuma menghabiskan hari-harinya di dalam kamar dan saat ibunya membuka pintu kamar mencarinya, Ibunya akan mendapatinya memegang novel setebal kamus Oxford.

Dia tidak pintar tapi dia tahu mengutarakan pendapat. Dia pemalu bahkan tidak percaya diri. Tapi tentu saja dia cantik, mirip Bapaknya, kata orang-orang.

Perempuan yang dulu ini menulis banyak sekali cerita fiksi dan khayalan. Ide-idenya bertarung luarbiasa dalam kepala, ingin mewujud dalam cerita utuh namun tak pernah selesai. Tulisan-tulisannya bagus, begitu kata teman-temannya.

Perempuan ini cepat sekali menyerap sesuatu, sehingga dia harus selalu berada di sekitar orang-orang yang positif. Perempuan yang hanya menikmati menjadi dirinya sendiri, sampai dia bertemu dengan laki-laki itu.

Aku rindu benar dengan diriku yang dulu. Masa-masa di Makassar, sebelum bertemu denganmu.

Sunshine

Work Hard Play Harder

As I mentioned like thousand times that my work is tiring me inside and outside. I need to find another work to do as a job. Now I just to stay for 3 months ahead. Then I am going to quit. I need a break.

I’d love to spent my money on stuff. I like being lost in mall alone. Just explore shop by shop by myself. If I take an escalator, I like to see my reflection in a wide mirror beside me until it’s gone. It’s playful, and somehow, that could make me smile and feel better.

I love discounts. But I prefer finding an appropriate price for stuff. The more I do it, the more I’m expert about it. Now I know if the price fit or not. Is it too expensive, or is it an even price.

Geez, maybe I will turn to be a fashion designer. Hahaha.

Sunshine

Same Pattern

Waktu itu, aku pernah bilang ke Lida, alangkah indah ceritanya jika kita berjuang bersama lelaki yang kita kenal, lelaki yang kita suka dan suka kita balik juga. Berdua sama-sama menjadi saksi jatuh bangun satu sama lain. Kita ada pas dia lagi gini, pas lagi hadapin gitu. Kita satu-satunya orang yang jadi tempat sandaran dan inspirasi dia buat bangkit lagi dalam masa rapuhnya. Kita satu-satunya orang yang bisa bikin dia bahagia. Kita merasa sedih dan seneng bareng-bareng.

Dibandingkan…

Kita bersama lelaki yang sudah mapan, sudah sukses, sudah punya semuanya. Kita jadinya gak tahu dulunya dia kayak apa kecuali dari cerita dia doang, cerita temen-temennya, cerita orangtuanya. Which is telah mengalami beberapa kalimat dramatis. Hidup kita memang terjamin, aman tentram dan mungkin takkan berkekurangan, tapi setelah itu apa?

Sunshine

Trust

What is trust, anyway?

Saya termasuk orang yang sulit mempercayai orang lain. Bahkan kadangkala untuk teman yang sudah bertahun-tahun saya kenal dan dekat, kepercayaan bahkan belum bisa saya berikan dengan penuh. Mungkin karena saya sering berbohong, makanya orang lain tak jujur pula padaku, dan alhasil saya sulit mempercayai.

Atau mungkin saja saya kurang mempercayai diri saya sendiri, lalu semua orang kelihatannya tak akan jujur.

Misalnya, saya sampai sekarang belum penuh penuh percaya pada Brainwave, dan hal itu pernah saya akui di depan Ochank. Dan Ochank mengatakan bahwa saya takkan bisa bersama Brainwave jika hal yang paling penting dalam hubungan itu pun tak kuberikan padanya.

Menurutku kepercayaan itu tidak diberikan. Ia diusahakan.
Jika memang begitu, apa selama saat itu dia tak juga membuatku percaya padanya? Usaha yang tak sampai?

Atau mungkin saya lah yang sulit?

Sunshine

Tergerus Sepi

Mama,

Sore ini setelah Magrib, aku tidur dan pukul 01.03 terbangun. Disini sepi sekali. Aku tidak suka dan rasanya ingin sekali menangis.

Mama, aku kadang menyukai pekerjaanku, tapi kadang juga tidak.

Yudi mengirimkanku pesan di WA. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal berkenaan dengan umur dan menikah, aku tak tahu. Maksudku, aku tahu aku sudah 24 tahun dan mestinya telah menikah dan segala macam. Tapi karena hal itu diingatkan oleh Yudi, aku jadi memikirkannya lagi. Siapa perempuan yang tidak ingin menikah dan terselamatkan? Aku ingin menikah, tapi jalannya belum ada. Pasangan pun aku tak punya. Aku tak mau memaksa-maksa. Tapi kondisinya memang sudah urgent begini.

Sedikit lagi, beberapa bulan lagi. Segera setelah semuanya usai, aku ingin mengambil jeda. Rasanya ingin memiliki waktu yang tak terbatas untuk memikirkan ulang tentang hidupku, apa yang ingin kulakukan, apa yang kuinginkan, apa yang ingin kubuktikan. Aku butuh waktu lebih banyak, dan rasanya waktu malah berjalan semakin cepat, cepat dan cepat.

Sunshine

UN Payah, Apa yang Terjadi?

Saya tidak mengikuti asal muasal ide pembuatan paket 20 soal Ujian Nasional yang keputusannya tentu dari Kemendikbud. Apa yang jelas sekarang adalah UN tidak dilaksanakan serempak seluruh Indonesia, dan tentu ini mengaburkan kata NASIONAL itu sendiri. Lembar soal dibuat siam dengan lembar jawaban dan membuat siswa grogi memisahkannya. Pasalnya, setiap paket soal diberi barcode. Jika saat memisah jawaban dan soal tersobek sedikit, harus minta soal baru lagi. Belum, lembar jawaban UN yang tipis. Siswa harus ekstra care untuk menghapus jawabannya jika keliru. UN akhirnya kehilangan ruh, maknanya jatuh. Apa yang terjadi? Pendidikan mestinya menjadi poin yang paling diperhatikan. Bukankah pendidikan punya porsi paling besar di APBN dan APBD? Lalu, apa yang terjadi? Semoga siswa-siswi seluruh Indonesia yang tahun ini menjalani UN bisa bersabar dan ikhlas. Tetap semangaaat. 🙂

Komentar ini muncul setelah membaca ini.

Sunshine