Jakarta, Kota yang Menyedihkan

Jakarta

JAKARTA — Aku orang baru di kota ini. Selama dua puluh tiga tahun, aku hanya mengenal kota ini dari media televisi dan cetak. Citra yang dibangun dari media tentang kota ini sangat bagus, mewah dan bergaya. Kota yang berkembang sangat jauh dari kota-kota lain di Indonesia, termasuk kota kelahiranku, Makassar. Semua orang tahu, Jakarta merupakan kota modern, pusat pemerintahan, hiburan dan bisnis menjadi satu. Semua ada di Jakarta. Rasanya hampir semua orang pernah punya mimpi untuk menjadi bagian darinya. Termasuk aku sendiri.

Kemudian, aku diberi kesempatan untuk tinggal di kota ini dan berinteraksi dengan masyarakat di dalamnya. Aku mengenal kota ini lebih dekat, lebih dalam dan intens. Jauh melebihi apa yang aku ketahui dari sebatas kotak televisi. Dan hari demi hari, aku melihat orang-orang yang wajahnya sendu dan lelah. Mereka bahkan tidak bisa melakukan apa-apa dengan hidup mereka. Mereka seperti tak bisa kemana-mana lagi. Orang-orang yang pasrah dan malang.

Aku berkunjung ke Kapuk Muara dan menemukan warga disana berteriak-teriak pada PALYJA karena mereka tak juga mendapatkan air bersih padahal mereka membayar iuran setiap bulan. Aku ke Kalibaru, Cilincing, dimana warga tinggal di rumah yang berdempet-dempetan dalam lorong kecil yang bahkan sepeda motor pun tak bisa masuk. Mereka tinggal disana selama berpuluh-puluh tahun tanpa bisa mengakses air bersih. Mereka hidup dengan membeli air pikulan yang digunakan untuk masak, mandi dan mencuci. Temanku, Rahma, bahkan pernah menyaksikan warga Kali Ciliwung yang menggunakan air kali untuk mencuci. Padahal tak jauh dari situ, tetangganya sedang buang air di sungai yang sama. Air kali itu tercemar dan mereka tahu tapi mereka tetap menggunakannya. Jawaban yang paling sering kudengar adalah, ‘YA MAU BAGAIMANA LAGI?’

Di kota ini, lalu lintasnya parah. Kemacetan hampir terjadi di semua titik. Angkutan umum bahkan berhenti di tengah jalan untuk mengambil atau menurunkan penumpang. Dampaknya, kendaraan di belakangnya berturut-turut ikut berhenti. Dalam waktu sepersekian detik angkot itu berhenti di tengah jalan, antrian kendaraan sudah mencapai tiga kilometer. Sopir angkot itu tentu tahu tindakannya salah. Penumpang yang naik pun tentu paham bahwa ia membuat kendaraan terhenti. Tapi toh, mereka pun tetap saja melakukannya.

Pemandangan yang paling miris dan merobek hatiku adalah melihat penjual-penjual jalanan menjajakan dagangannya dengan menunggu di pinggir jalan. Mulai dari penjual otak-otak, tahu gejrot, rujak, penjual minuman yang beraksi di tengah kemacetan hingga pengamen jalanan dengan puluhan modus operandi. Ada juga penjual air pikulan yang keberatan memanggul jerigen airnya bahkan odong-odong keliling pun ada yang melakoni.

Tadi di angkot aku melihat anak perempuan berumur lima tahun dengan kulit yang seperti melepuh. Tubuhnya kurus, kaki dan tangannya kecil tapi perutnya membuncit. Mirip anak yang kekurangan gizi. Ibu yang menemaninya justru kebalikan, kulitnya segar putih dan tubuhnya berisi. Saat mereka turun, sontak penumoang lain membicarakan mereka. Mereka mengatakan mungkin ibunya tak memedulikan anaknya dan sibuk bekerja.

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s