Mayday

Hello, there!

Now I want to write about my perspective about labor in Indonesia.

Jadi, seperti yang kita tahu, Mayday yang jatuh pada setiap tanggal 1 Mei, diperingati sebagai Hari Buruh Internasional. Which is, dimanfaatkan oleh seluruh buruh di Jabodetabek untuk melakukan aksi di Bunderan HI, Istana Negara dan titik-titik di wilayah lain. Ada ribuan buruh yang meliburkan diri dari pabrik tempat mereka bekerja hanya untuk berdemo. Yap, demo, aksi, panas-panasan, blokade jalan, membuat kemacetan, dan merugikan perusahaan tempat mereka mencari makan.

Hari ini, saya yang pos di Jakarta Utara, akhirnya ke Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung untuk pantau aksi buruh disana. Menurut info, buruh sering ricuh kalau aksi. Soal demo buruh sebenarnya saya sudah khatam saat pos di Bekasi kemarin. Jadi, sungguh liputan tadi tidak begitu terasa baru. Meskipun untuk Mayday, it was my first.

Bersama teman-teman wartawan lain, akhirnya saya tiba di satu perusahaan garmen milik Korea di KBN itu. Diantara kantor-kantor lain yang ada, hanya di depan kantor perusahaan inilah yang sedang ramai. Rupanya ada sweeping buruh.

Sweeping buruh adalah istilah yang dipakai untuk mengecek satu-satu pabrik perusahaan apa di dalam masih ada buruh yang gak ikut aksi. Tujuannya agar tak ada buruh yang tidak berpartisipasi. Intinya sih, “masa teman-teman buruh lain panas-panasan demo dan kalian tetap bekerja?”

Nah, di pabrik garmen Korea itu sudah ada berjaga beberapa personel kepolisian berseragam, hingga Kapolres pun turun tangan langsung menjaga. Pihak perusahaan masih menahan beberapa karyawannya sebab saat itu mereka ada rencana ekspor dan kalau pesanan batal, akan ada banyak pihak yang komplain.

Situasinya seperti itu. Di depan kantor perusahaan, sudah ada buruh dari serikat pekerja yang berteriak-teriak lantang menggunakan TOA. Mereka meminta agar 5 line atau sekitar 200 orang pekerja diijinkan libur Mayday. Pihak perusahaan mempersulit karena alasan tadi. Alasannya saya kira, logis banget.

Setelah mendapat keterangan dari berbagai sumber, menulis dan keramaian pun telah menghilang pelan-pelan, saya langsung balik ke Polres Utara.

Dalam perjalanan, saya membahas hal buruh ini pada Fio. Dan membahasnya lagi di pikiranku sendiri. Lalu membahasnya lagi pada Rahma, yang kebetulan berulangtahun di hari yang sama.

Jadi, menurut saya, buruh itu terlalu banyak komplainnya. Terlalu banyak maunya. Mereka itu menuntut pihak selain diri mereka.

Mereka mau upahnya gede, tapi saya mikir, pendidikan mereka kan rata-rata minimal SMA. Bukannya gimana, ada kok ya, lulusan S1 gajinya cuma bahkan cuma sejuta, sejuta setengah dan mereka sabar-sabar aja kerja. Memangnya kalau kita dapat kerjaan dengan gaji kecil itu salah siapa?

Maksud saya itu sederhana. Mereka itu tidak menyalahkan diri mereka sendiri atas nasib yang mereka alami sendiri. Kalau orangtua kamu buruh, it doesn’t mean kita juga harus jadi buruh. Seharusnya buruh-buruh itu mau kerja lebih keras, berdoa lebih keras untuk mengubah nasibnya.

Karena gak ada kok di dunia ini yang mudah. Gak ada yang baik diraih dengan mudah. Kita harus berjuang. Kalau kamu gak suka dengan hidupmu sekarang, ya, jangan salahkan dan protes ke pihak lain. Kalau kamu gak suka dengan upahmu sekarang, ya, cari kerjaan lain, jangan stuck deh dengan nasib. Tuhan ada kok.

Sekian.

Diantara adzan Jumatan dan deadline.

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s