Cerita tentang Eskrim

Aku sudah lupa cerita ini semestinya, hingga Rahma bercerita suatu hari yang lampau, yang ia habiskan bersama Nendenk saat masih mahasiswa di Makassar dulu.

Siang itu, seperti siang-siang biasanya di Makassar, amat panas. Matahari sepertinya ada lima belas mengikuti tubuh siapapun yang membawa motor di jalan. Termasuk saya dan Nendenk. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kami haus dan lapar.

Waktu itu entah kami sedang mengejar apa hingga sangat terburu-buru sekali. Saya dan Nendenk hanya membeli roti goreng dan air minum botol. Nendenk yang membawa motor dan saya diboncengan belakang.

Kami berdua yang kelaparan, lalu memakan roti itu. Saya memakan roti dengan tangan kiri dan menyuapi Nendenk dari belakang dengan tangan kanan. Tapi hal itu kami lakukan di setiap pemberhentian lampu merah. Pada lampu merah keempat, roti itu sudah habis. Perut kami sudah lumayan terisi.

Sejak saat itu, setiap kali saya melihat roti goreng dijual, saya selalu mengingat Nendenk, dan hari yang kami lewati berdua di setiap lampu merah itu.

Aku mendengar Rahma menceritakan hal itu padaku, pada suatu malam di kosan, dan aku lalu ingat kisah yang lain.

Aku suka sekali eskrim. Kau tahu itu. Aku suka sekali ngambek dan marah dan kau tahu aku akan baikan lagi bila aku diberi eskrim. Aku berumur dua puluh dan kau mengatakan sikapku yang seperti itu mirip anak kecil. Aku menjawab tak ada yang menyuruhmu suka padaku.

Hari itu, eskrim yang kau berikan kubagi berdua denganmu. Aku menyodorkanmu sepanjang kau membawa motor. Kita berhasil menghabiskan eskrim itu sepuluh menit persis setelah bungkusnya dibuka.

Sunshine

Advertisements

Stay Alert, Stay Safe

Kemarin, dompet saya dalam tas, raib. Entah jatuh, entah kecopetan, entah, saya tidak sadar. Last thing I know, saat saya memeriksa tas yang restletingnya terbuka sejak desak-desakan dalam TraJa (TransJakarta) hingga mengantri edan di Halte Dukuh Atas, dompet yang merupakan horcrux keduaku (horcrux pertamaku adalah phones), sudah tak ada.

Apes? Mungkin.
Teledor? Iya, hundred percent.

So, bagi yang sebagian besar menghabiskan waktu kerja di jalanan ibukota yang kejam ini, keep alert, keep safe. Protect your own precious things.

Sunshine