Perfeksionis

Jika menyanyi, aku harus bernyanyi dengan baik. Karena Mama dari kecil mengajarkanku seperti itu. Bernyanyi harus bagus, sesuai lagu, tempo, irama. Maka, suaraku menjadi bagus. Entah kenapa bisa begitu.

Jika berpakaian, harus rapi dan bersih. Warna-warnanya harus seragam, jika berbeda boleh saja tapi harus tetap terlihat enak dipandang. Modelnya harus sesuai. Badan tak boleh gemuk. Harus ramping. Apalagi jika pendek, sama sekali harus menjaga badan. Kamu perempuan. Mama sering sekali berkata hal itu saat aku beranjak remaja. Kemudian, seperti inilah aku sekarang. Suka sekali berpakaian bagus-bagus. Suka sekali protes jika ada yang tidak berpakaian tidak sesuai. Dan sangat kagum pada perempuan yang pakaiannya cantik-cantik.

Di sekolah, harus ranking 1. Kalau lomba, harus juara 1. Ada hadiah yang menanti kalau dapat juara. Kalau tidak, yaa, tidak apa-apa. Tidak juga dapat apa-apa.

Mama banyak sekali memengaruhi hidupku. Mama melatihku dari kecil, tanpa kusadari menjadikan aku perfeksionis seperti ini. Aku dibisiki begitu banyak pikiran, ide dan pandangannya. Aku tiba-tiba menjadi proyeksi ideal dirinya.

Aku menjadi keras kepala. Aku membaca banyak buku. Aku selalu merasa tidak cukup pintar, tidak cukup hebat, tidak cukup baik. Jadi hamba-Nya pun belum cukup taat. Aku selalu berpikir demikian. Aku selalu keras pada diriku. Keras pada mimpi-mimpiku. Karena Mama mengajarkan hal itu padaku. Dan buku-buku mengajarkanku tentang mimpi.

Pekerjaanku sekarang, desk ku yang sekarang, aku syukuri. Sangat. Aku bisa banyak belajar agama. Belajar sambil bekerja dan jalan-jalan? Apalagi yang kurang? kata Clarita.

Laki-laki pertama yang masuk dalam hidupku tidak sempurna. Dia jauuh dari sempurna. Aku mencoba mengubahnya dan kami berpisah.

Akhirnya ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai harapanku.

Dan kadangkala, kita harus belajar menerima. Karena yang Sempurna itu cuma satu. Cuma Tuhan Allah Ta’ala.

Aku pun cuma bisa berusaha jadi yang terbaik buat Mama. Tapi semuanya kembali pada Allah. Aku percaya bahwa kadang, jika nasib mempermainkan kita dan kita sudah nyaris menyerah. Rencana Tuhan pasti lebih baik dibandingkan mimpi yang ingin kita raih.

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s