Bravery

Semalam, aku bertelepon dengan Anita. Kami bertelepon, mengobrol apa saja, hingga tak terasa sudah jam 1 dini hari, jam 2 di Makassar.

Hal yang paling kami sering bicarakan adalah tentang pekerjaan. Kami punya profesi yang sama, jurnalis. Bedanya, aku beruntung bekerja di salah satu media nasional di ibukota, sedangkan dia bekerja di media lokal di Makassar.

Tentang Anita, mungkin belum terlalu kubahas di blog ini, tapi saat masih menjadi mahasiswa, dia termasuk yang rajin dan pintar. Aku sendiri, hanya mahasiswa yang datang, mendengar, mencatat, kerja tugas, main, pulang. Tapi Anita beda. Dia mudah paham teori-teori, dia lincah, rajin, dan tekun. Menurutku dan teman-teman lain, dia bakalan jadi dosen suatu hari, seperti teman kami yang tak kalah luarbiasa, Rido, yang sekarang sedang menyelesaikan tesisnya di Tilburg University, Belanda.

“Nit, kita semua percaya sama kamu. Kamu bisa lebih dari sekedar bekerja di situ.”
“Tidak, teman. I am just such a stupid girl”
“I hate it when you said that ‘stupid’ thing”
Dia diam atau tertawa.
“Yang kamu perlukan hanya menjadi sedikit lebih berani”,
“I don’t have any courage”
“Come on, leave your comfort zone”

Aku cuma berpikir bahwa Nita deserve a better place to work karena dia memang mampu do more. Dan modalnya cuma berani, percaya diri, take the risk. Semua orang sukses karena apa coba? Mereka berani, berani mengambil resiko, meninggalkan zona nyaman mereka dan berusaha, bekerja.

Beside, fortune favours the bold, right?

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s