Fool

Kalian tau apa hal yang memuakkan?
Ketidakpastian.
Kalian tau apa lagi?
Adalah kesedihan yang tak bisa dijelaskan, kesedihan yang ganjil. Sedih yang semestinya bisa disembuhkan dengan menangis, tapi dadamu tak cukup perih untuk membuat matamu melahirkan air. Selanjutnya kau mulai berpikir apa yang tengah melanda hatimu, namun tak kunjung kau temukan jawaban. Selanjutnya, datang hal yang lebih menakutkan; sepi, sunyi, sendiri.

Apa yang lebih menakutkan dibandingkan perasaan sepi? Tak ada. Pikiran ini menerormu, kau sendirian di dunia ini. Kau tak punya siapapun, tak ada. Memang kau punya teman, kau punya keluarga, tapi mereka jauh, mereka tak hadir di sampingmu. Bahkan suara mereka tak ada. Yang ada hanya teks: ‘Ada apa? Kau baik-baik saja?’. Kau merasa itu tak cukup. Kau butuh kehadiran. Dan karena tak ada satupun orang yang mengusahakannya, kau lalu yakin bahwa memang tak ada yang peduli padamu. Kau sendiri. Dan itu cukup membuat pikiranmu dan dadamu sesak, seperti kehabisan napas. Meskipun kau coba bernapas panjang, tetap saja kau tak bisa merasa lega.

Kau mulai memenuhi dirimu dengan kesenangan materi. Pikirmu itu akan mengusir sepi. Tapi tetap saja tak berhasil.

Sungguh, aku ingin menulis sesuatu yang lebih ceria dibanding ini. Kadang aku ingin membuat pembaca blogku terkesan dengan apa yang kutulis, bagaimana aku melewati hari-hariku dengan bahagia, dan aku tak usah lagi merana ditinggalkan oleh orang yang kucinta. Tapi it’s not human, right? Happy all the time?

Suatu hari aku ingin membaca ini kembali. Aku ingin ada yang mengingatkanku dengan persis apa yang terjadi. Seperti hal-hal bahagia yang ingin kuingat, buku apa saja yang pernah kubaca, film yang telah kusaksikan.

Sunshine

When Relationship Ends

I found @ikanatassa tweets about this and I can’t help the urge to not repost them here. Saat satu hubungan berakhir, kita memang hanya punya dua pilihan, membenci atau membuang perasaan kita. Saya tidak bisa membenci, satu hal itu sulit sekali dilakukan untuk orang yang tidak berbuat jahat padamu, you know. So, I choose to unlove. Membuang perasaan. Susah dan butuh waktu memang, tapi selalu ada kesempatan untuk menjalani prosesnya.

@ikanatassa :
When relationship ends, to hate and to unlove is totally two different things.
Hating is easy. To unlove takes the courage of the heart to let go.
And the willingness of the head to not forget but diminish the meaning of what you remember.
Forgetting is bullshit. You can’t forget. It’s physically and mentally impossible. Unless you suddenly got amnesia.
To unlove you need to remember, not forget. Remember when and where it felt so right, and when and where it went wrong.
And remember sometimes 1 wrong can beat 1000 rights. Sometimes 1 wrong is all it takes
.

Sunshine

Bored

Ahad. Gak tau ini deadline hari ini apa pekan depan. Aku gak bisa selesein berita karena narasumber satunya gak mau angkat telepon. Mestinya kita juga diajarin cara menembus telepon narasumber bukan cuma pas ketemu aja.

Rasanya semua orang punya agenda ya di pekan ini kecuali aku? Nyuci sprei udah, beresin kamar udah, ngirim satu berita udah. Twitter, bbm-an,…

Kemarin beli komik langsung ludes dalam sekian jam. Mungkin membaca aja ya sekarang? Apa recite Qur’an?

Mati gaya, boseeen beneran di kosan. Gak ada ajakan dari mana-mana juga. Berhubung agenda buka bareng udah pas di awal-awal Ramadhan. Eeeergh, what should I do to kill time alone?

Aku juga belum tau gimana lebaran entar. Sama siapa, di rumah siapa, kemana. Masih, lagi-lagi, belum ada agenda maupun rencana.

somehow, I missed my old times. I want to go back home, Mom. 😦

Sunshine

Keluarga

What family means to you?
For me, they’re everything.

I realize, I had so much love inside me. Saya tahu, kadangkala saya begitu memperhatikan seseorang sampai dia sesak napas. Saya memeluk orang yang saya sayang begitu erat, mencemburuinya begitu hebat, dan sadar bahwa itu tak menjadi apa-apa. Mereka butuh ruang dan jarak. Dan cinta memberi keduanya.

Untuk saat ini, tak ada lagi sosok seseorang yang cintaku jatuh padanya. Kadang saya selalu merasa ingin memberi cinta, perhatian, hadiah, waktu dan telingaku kepada seseorang. Namun, sosok itu tak ada. Butuh adaptasi memang. Fokusku sekarang mencintai diriku, teman-temanku, dan tentu saja, keluargaku. Mereka lah yang pantas mendapat semua perhatian, cinta dan kalimat-kalimat mesra dariku. Tak perlu mendamba seseorang yang tak bahagia bersama kita, cukup cintai saja mereka yang kita miliki.

Ah, mestinya tulisan ini jadi lebih panjang. Tapi saya lupa apa yang mau saya utarakan. Jadi, cukup dulu.

Sunshine
Love what you get. Get what you love.

Pacific Rim (2013)

Pacific rim

Hello!
Ah, senang sekali rasanya bisa nonton film lagi di bioskop. Apa terakhir itu nonton The Great Gatsby? Haha, been a long time right?
So, I watched Pacific Rim two days ago with Lidatyas at XXI TIM Cikini, setelah tidak berhasil menempuh jarak puluhan kilometer ke BSD.

Film karya sutradara asal Mexico, Guillermo del Toro (Hellboy, Pan’s Labyrinth) ini mengisahkan tentang perang yang terjadi antara manusia dan monster laut yang disebut Kaiju. Manusia dengan temuan teknologi dan penelitiannya, berhasil membuat robot yang merupakan satu-satunya senjata untuk memusnahkan Kaiju dari kota di seluruh dunia. Robot ini disebut Jaegers, dikendalikan oleh dua pilot yang berada di dalam, bersinergi dan menyatukan diri dan pikiran serta emosi dan ingatan.

Raleigh Becket (diperankan oleh Charlie Hunnam) yang sempat pensiun menjadi pilot karena kecelakaan yang menewaskan kakaknya, dipanggil kembali oleh Stacker Pentecost (Idris Elba). Ia lalu bertemu dengan Mako Mori (Rinko Kikuchi), seorang gadis yang punya trauma dan dendam pada Kaiju. Raleigh dan Mako akhirnya menjadi satu tim (pilot dan co pilot) di dalam Jaegers dan bertarung mengusir Kaiju dari bumi.

Saya tidak banyak menonton film karya Guillermo del Toro. Namun dapat dipastikan, kesan yang muncul pertama kali saat menonton film ini adalah ingatan tentang Ultraman. Yap, pahlawan asal cerita Jepang pembasmi monster-monster laut yang ditayangkan di televisi tiap pekan itu. Entah kenapa premis ceritanya sama. Hanya saja di film ini Jaegers tidak hanya satu tapi ada puluhan dan tersisa tinggal empat dan akhirnya tinggal satu. Kendali Jaegers yang adalah dua pilot berada di bagian dada, mengingatkan saya pada Power Rangers. Semoga masih ada yang ingat bahwa robot Power Rangers dikendalikan di dalam kepala robotnya oleh para rangers.

Saya tak tahu kenapa imdb memberi rating 7,8/10 pada film ini yang menurut saya, biasa saja. Sorry to say, but that’s how I feel. Spesial efeknya luarbiasa tapi apapun yang hendak disampaikan sutradara melalui film ini, tidak sampai kepada saya as audience. Maksud saya, humornya tidak dapat. Dan Hollywood memang jago membuat film dengan spesial effect, jadi film ini tidak menjadi spesial hanya karena itu. Robot? Sepertinya The Transformers lebih fokus pada hal itu dan pasti penonton lebih menjagokan Transformers dibanding film ini.

Dari segi casting, sutradara memasang jejeran aktris dan aktor yang tidak begitu dikenal publik. Ada Charlie Hunnam yang pernah berakting di Children of Men (2006) dan Green Street Hooligans (2005). Ada Rinko Kikuchi yang pernah bermain di Bible (2006), hingga Idris Elba, aktor British yang pernah bermain di Thor (2011) dan Ghost Rider: Spirit of Vengeance (2011).

Sang screenplay, Travis Beacham, turut mencipta prequel graphic novel film ini dengan judul Pacific Rim: Tales From Year Zero #1 yang dirilis pada Juni 2013.

Tapi bagi kalian penggemar film action diramu dengan visual tajam dan pertarungan yang mendebarkan, film ini worth to be watched. Buktinya, pihak 21cineplex provide us 3D versionnya. Ah, it should be more awesome. As the conclusion, Pacific Rim is one of the movie that are made for the big screen, yes it’s true.

Sunshine

Takdir

Saya percaya takdir. Saya percaya ada alasan sebuah hal terjadi. Mengapa hari ini hujan misalnya turun pukul tiga sore dan bukan turun pukul tujuh saja. Saya percaya ada kekuatan yang Maha Besar yang menggerakkan alam hingga seluruh atom, materil terkecil bersatu padu membuat satu hal tertentu untuk terjadi. Tapi tentu saja, kita tak bisa paham di awal. Kita baru paham jika melihat secara utuh ke belakang, setelah hal-hal tersebut terjadi.

Entah kenapa, saya jadi ingat cerita soal powerbank milikku sekarang. Seakan-akan, kami sudah ditakdirkan bersama. Seluruh alam bersatu padu membuat powerbank yang ada disampingku sekarang ini, ADA di sampingku, menjadi milikku. Dan kalian tahu? Saat sesuatu memang telah DITAKDIRKAN bersatu, mereka akan bersama. Rintangan takkan jadi masalah. They’re going to against all odds.

Jadi, sekitar tujuh bulan yang lalu, saya berhasil membeli powerbank merk HIPPO putih. Kapasitasnya 5800mAh, harganya 275ribu. Saya beli di salah satu mall di Bekasi. Harganya itu termasuk murah dan kualitasnya bagus. Powerbank ini memang sangat saya butuhkan jika kalian tahu sekecil apa daya batere Blackberry. Ugh, everyone need one powerbank for their smartphone. So, I got one. I was happy.

Tapi Hippotalamus (begitu ia kuberi nama) raib begitu saja dari tanganku saat liputan. Jangan tanya saya detailnya. Last thing I remembered, it just gone. I was desperate and broken heart. Untuk mengobati kesedihan, saya hanya berpikir begini, “Ri, jangankan powerbank, nyawa saja bisa hilang” dan hatiku lalu lebih terasa ringan. Saya ikhlas lah.

Kemudian, saya tidak punya powerbank untuk beberapa bulan kemudian. Saya hanya nebeng pinjam punya teman atau bawa charger kemana-mana. Hingga dua bulan setelah itu, saya berhasil membeli satu powerbank via online. Saya lupa merk dan kapasitasnya apa. Saya lalu menunggu datangnya powerbank itu, namun tak kunjung datang. Ternyata, ada kesalahan teknis dalam metode konfirmasi pembayaran, dan akhirnya, powerbank itu gagal sampai di tangan.

Kemudian, Juni kemarin, saya secara ajaib sampai di China, tepatnya Guangzhou. Malam itu, saya dan teman-teman berjalan pulang ke hotel. Sudah tengah malam. Tapi sepanjang jalan, penjual asongan baru bermunculan seperti hantu. Salah satunya seorang nenek yang menjajakan jualannya di atas meja. Saya dan Alim singgah. Saya lalu mengambil powerbank berwarna putih dan bertanya berapa harganya. Nenek itu memberi harga 180 yuan. Saya menimbang-nimbang. Powerbanknya besar dan berat. Kapasitasnya 20000mAh. Itu besar sekali. Tapi saya tak punya 180 yuan di dompet. Saya menawar 100 yuan. Namun akhirnya deal terakhir adalah 120 yuan, itu sekitar 190ribu rupiah. So, I got it and I was happy.

Dan disinilah powerbank ini sekarang berada. Di sampingku. Baru saja di charge penuh. Saya selalu berpikir, dia memang ditakdirkan dibeli olehku. Ada hal yang membuat powerbank pertama tadi raib, dan ada hal lain yang membuat powerbank kedua gagal saya dapatkan. Powerbank ini memang untuk saya. Dari negeri yang jauh, saya harus ke China dulu untuk bertemu dengannya. Saya ke China pun itu sudah satu skenario lain, bukan?

Kawan, ini sebenarnya hanya little things happened. Masih banyak, various kinds of story related to another. Kita hanya perlu lebih yakin dan lebih teliti melihat dan memaknai sesuatu. Saya selalu percaya takdir. Kita memang punya kekuatan untuk memilih. Tapi ada semacam dorongan yang membuat kita memilih ke arah satu dan bukannya ke arah sebaliknya. Saya selalu percaya hal-hal seperti itu. Mempercayai hal seperti itu membuat saya tak mau menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Dan itu membuat saya menjadi tenang. Semua sudah diatur.

Sunshine
come on, sleep now. sahur’s coming.

Di Suatu Masa

Setahun lebih Halim pergi. Aku sudah 23 tahun. Desakan menikah kian keras. Siapa yang bisa kunikahi? Semua keluargaku sudah mengenal Halim dengan baik. Dia cinta dalam hidupku. Tapi makin aku menunggu, kabarnya makin redup. Mama akhirnya menyerah dan memintaku berhenti menunggu Halim. Aku kian terpuruk.

Titik terendah dalam hidup kuhadapi sendirian mendekam dalam kamar tanpa membiarkan cahaya masuk sedikitpun. Aku mengurung diri selama seminggu, menutup jendela, tak membiarkan siapapun masuk. Aku menangis dan memohon pada Yang Kuasa. Aku berpuasa, hanya makan sesekali di saat matahari sudah turun. Aku berdoa, menyerahkan seluruh nasibku pada-Nya. ‘Jika memang Halim jodohku, mudahkan ya Allah. Kalau bukan dia orangnya, biarkan dia pergi sejauh mungkin dan berikanlah aku penggantinya yang jauh lebih baik’.

Aku merapal doa itu seperti tabib merapal mantra.

Tuhan menjawab doaku dengan kehadiran Anwar sepekan kemudian. Laki-laki sederhana ini sungguh jauh dari radarku. Dia bahkan tak punya apa-apa selain rasa yang dipendamnya begitu lama kepadaku. Dia tidak masuk dalam kategoriku, anak muda jaman sekarang mengatakannya dengan, ‘he’s not my type’.

Anwar memang laki-laki ajaib. Dia tak pernah bilang cinta, dia tak pernah memberiku apa-apa yang romantis. Suatu malam, saking seringnya dia mengikutiku, aku membentaknya kasar dan mengusirnya dari pagar rumahku. Esoknya, dia datang lagi seakan-akan aku tak pernah membentaknya. Dia benar-benar tak tahu diri.

Namun, keluarganya datang ke rumahku tiga bulan setelah aku mengenalnya. Kelak dia bercerita, bahwa dengan susah payah dia meminta Ibunya (ayahnya sudah meninggal saat dia masih berumur tiga tahun) untuk meminangku, ‘Itu satu gadis yang kucintai, Bu. Saya hanya mau dia’.

Keluarganya datang melamarku. Aku tak tahu apakah inilah cara Tuhan menjawab doaku. Tapi aku membatin. ‘Semua pintu sudah tertutup, Eri dan Tuhan membuka satu jendela ini’. Tapi, aku belum bisa melupakan Halim. Apakah ini kisah yang akan kuceritakan pada anak-anakku kelak? Bahwa Ibunya masih memikirkan satu laki-laki saat ayahnya datang melamar?

***

Sunshine