Satu Laki-Laki

Aku tak pernah merasa seputus asa saat itu dalam hidupku. Aku hidup jauh dari orangtua sejak kecil. Aku diurus oleh keluarga ibu yang lalu menyekolahkanku hingga kuliah. Kau bisa bayangkan aku kuliah dan menjadi mahasiswa? Tentu saja, aku termasuk gadis yang manis. Walaupun aku tak bisa dibilang cantik, tapi pipiku sering merona merah tanpa alasan. Mungkin karena aku sering sekali tersenyum. Keluarga ibu mengurusku dengan baik. Saat menjadi mahasiswa, aku juga diterima bekerja di sebuah perusahaan asing. Aku punya gaji yang cukup. Tiap hari aku bahkan ke kampus dengan sepeda motor. Banyak laki-laki yang suka padaku. Aku pun memacari mereka sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Kadang paginya aku diantar oleh Roni, sorenya aku dibonceng oleh Rudi.

Pernah suatu kali Rudi mengirimiku surat putus. Di suratnya tertulis, “Aku tak sanggup melihatmu dibonceng oleh laki-laki lain”. Aku lalu putus dengannya.

Tapi aku bukan jenis gadis sembarangan. Aku juga memegang prinsip. Ayahku mendidikku dengan keras sejak lahir. Tidak seperti orangtua sekarang mendidik anak. Aku bisa dibilang pemilih dalam melihat laki-laki. Aku tak gampang disentuh. Boleh saja mereka dekat, tapi tak boleh menyentuhku. Tentu saja tidak seperti jaman sekarang.

Ada satu laki-laki ini namanya Halim. Dia penyayang, dia pintar, badannya tegap, tak terlalu gagah tapi tutur katanya halus. Dia merebut hatiku, aku jatuh cinta padanya. Kami menjalin hubungan. Dia laki-laki dan sosok pertama yang muncul dalam kepalaku saat aku butuh seseorang, butuh bantuan. Dia, secara ajaib, mampu melakukan apapun. Kupikir dialah cinta dalam hidupku.

Namun kemudian waktu berjalan demikian cepatnya. Aku tiba-tiba menemukan diriku telah berumur 22 tahun. Para tetangga sudah membicarakan aku setiap kali aku lewat. “Perawan tua” kata mereka. Hatiku miris. Adikku sudah menikah sebelum aku. Halim tak ada tanda-tanda akan melamar. Aku pasrah. Aku tak mau mendengar omongan tetangga.

Tiba-tiba perusahaan tempatku bekerja bangkrut. Semua karyawan kena PHK termasuk aku. Motor ditarik. Lebih parahnya lagi kejadian itu, entah apa rencana Tuhan, bersamaan dengan jadwal ujian mejaku. Aku diwajibkan membayar dua juta rupiah. Aku bahkan tak punya uang sebanyak itu di tabungan. Aku berkeliling masuk ke rumah kakak, keluarga, om, tante, untuk meminjam, tapi mereka juga tak bisa memberi. Sekian lama aku ikut kuliah, saat akhirnya aku ingin ikut ujian meja untuk wisuda, aku malah tak bisa ikut. Aku menyerah. Toh, aku sudah mati-matian berusaha kesana kemari.

Halim berkata padaku agar aku menunggunya kembali dari Surabaya. Dia mendapat pekerjaan disana dan tak bisa menemaniku lagi di Ujung Pandang. Aku sedih sekali, seakan-akan semua dari hidupku diambil tiba-tiba. Pekerjaan, kuliah dan kini Halim. Aku pun patuh karena aku cinta padanya.

***

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s