Di Suatu Masa

Setahun lebih Halim pergi. Aku sudah 23 tahun. Desakan menikah kian keras. Siapa yang bisa kunikahi? Semua keluargaku sudah mengenal Halim dengan baik. Dia cinta dalam hidupku. Tapi makin aku menunggu, kabarnya makin redup. Mama akhirnya menyerah dan memintaku berhenti menunggu Halim. Aku kian terpuruk.

Titik terendah dalam hidup kuhadapi sendirian mendekam dalam kamar tanpa membiarkan cahaya masuk sedikitpun. Aku mengurung diri selama seminggu, menutup jendela, tak membiarkan siapapun masuk. Aku menangis dan memohon pada Yang Kuasa. Aku berpuasa, hanya makan sesekali di saat matahari sudah turun. Aku berdoa, menyerahkan seluruh nasibku pada-Nya. ‘Jika memang Halim jodohku, mudahkan ya Allah. Kalau bukan dia orangnya, biarkan dia pergi sejauh mungkin dan berikanlah aku penggantinya yang jauh lebih baik’.

Aku merapal doa itu seperti tabib merapal mantra.

Tuhan menjawab doaku dengan kehadiran Anwar sepekan kemudian. Laki-laki sederhana ini sungguh jauh dari radarku. Dia bahkan tak punya apa-apa selain rasa yang dipendamnya begitu lama kepadaku. Dia tidak masuk dalam kategoriku, anak muda jaman sekarang mengatakannya dengan, ‘he’s not my type’.

Anwar memang laki-laki ajaib. Dia tak pernah bilang cinta, dia tak pernah memberiku apa-apa yang romantis. Suatu malam, saking seringnya dia mengikutiku, aku membentaknya kasar dan mengusirnya dari pagar rumahku. Esoknya, dia datang lagi seakan-akan aku tak pernah membentaknya. Dia benar-benar tak tahu diri.

Namun, keluarganya datang ke rumahku tiga bulan setelah aku mengenalnya. Kelak dia bercerita, bahwa dengan susah payah dia meminta Ibunya (ayahnya sudah meninggal saat dia masih berumur tiga tahun) untuk meminangku, ‘Itu satu gadis yang kucintai, Bu. Saya hanya mau dia’.

Keluarganya datang melamarku. Aku tak tahu apakah inilah cara Tuhan menjawab doaku. Tapi aku membatin. ‘Semua pintu sudah tertutup, Eri dan Tuhan membuka satu jendela ini’. Tapi, aku belum bisa melupakan Halim. Apakah ini kisah yang akan kuceritakan pada anak-anakku kelak? Bahwa Ibunya masih memikirkan satu laki-laki saat ayahnya datang melamar?

***

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s