Pencarian

Saya tidak suka kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan Mama. Pertanyaan-pertanyaan yang sampai menulis ini pun, terus menerus menggerogoti pikiranku.
Saya sedih dan galau, tak tahu harus melakukan apa.

Jenis pertanyaan seperti, “Apa sebenarnya yang kau cari disana, Nak?”
Kemudian, pertanyaan selanjutnya muncul.
“Apa yang coba kau buktikan sebenarnya, Ri?”

Mama seolah-olah berkata, “kau sudah membuktikan bahwa kau bisa. Setelah itu apa? Pulanglah, Nak. Apa lagi yang kau cari?”

Apakah hidup itu memang proses menemukan diri sendiri? Ataukah cuma saya yang terlalu keras berpikir? Toh, semua orang kelihatannya baik-baik saja menjalani rutinitasnya.

Sunshine
I really want to going home, Ma. But I just can’t. I need to  stay at least for getting the answer of your question. Please, let me.

Celebrating Friendship

Hari ini Calitoseven, nama angkatanku pas kuliah, berulangtahun yang kelima. Saya membuat tulisan ini pada saat jalan pulang ke kosan di busway. Tulisan ini untuk mereka, sahabat-sahabatku, kesayanganku.

Betapa anehnya di Calisto7, aku bisa berteman dengan semuanya. Tak ada teman yang terlalu baik, terlalu jahat, terlalu pintar, terlalu cantik atau terlalu kaya untuk didekati. Semuanya sama, semuanya baik dan asik-asik.

We shared the same insanity. Kita bertingkah bodoh bersama-sama. Berbagi keceriaan bersama. Jatuh cinta dengan satu sama lain. Menyayangi bagaikan adik kakak. Saling melindungi dan memperhatikan layaknya saudara.

Lima tahun sejak nasib mempertemukan aku dengan 72 orang-orang ini untuk pertama kalinya.

Dan aku masih bisa mengingat jelas saat kami dalam balutan seragam hitam putih dengan status mahasiswa baru. Sejelas ingatan saat Muthia Hikmasari menyapaku dengan bertanya aku alumni SMA apa. Atau kenangan saat Kudra dengan absurdnya mengatakan bahwa ia tak pernah merasa bahagia saat FIGUR.

Hahaha.

Selamat 5 tahun, Cals. I heart you. Masa-masa kuliah pasti takkan sama jika aku tak bertemu dan berjodoh dengan kalian.

Mestinya kita juga bisa merayakan persahabatan, bukan? Anniversary bukan cuma milik para kekasih kan?

Sunshine

Sabar. Patient

Mungkin ini karma, atau hukuman, atau sesuatu yang harus saya lewati dulu sebelum akhirnya mencapai kebahagiaan.

Stars won’t shine bright without darkness, right?

I choose to be patient. not lame, but patient.
Saya memilih untuk bersabar. Bukan menjadi lemah, tapi sabar.

Sabar bekerja. Sabar beribadah. Sabar menahan nafsu. Sabar melewati hari-hari yang berat. Sabar merasa kesepian dan sendiri. Sabar buat cuma makan sehari sekali. Sabar karena makannya cuma mi instan. Sabar dikala gaji telat. Sabar pas mau kemana-mana dan gak ada temennya. Sabar, sabar, sabar.

Patient however, is endlessly act.

Back to beginning, the first time I came to this city. I told my mother that I was all alone. I did my everything all by myself. I can’t count on anyone because everybody else has their own business and stuff. So, I only can lean on to Allah SWT. I only have Allah to protect me. And I feel blessed.

Dan saya harus bersabar hingga sekarang. Bersabar. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Membaca ayat-ayat dan surah-surah dalam Qur’an tentang jaminan Allah pada orang sabar, membuat saya semakin kuat. Sabar itu buahnya manis, sebagaimana firman Allah SWT “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran atau pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)

Sunshine

Jangan Sampai Lupa

Jangan sampai lupa apa yang telah diberikan pekerjaan ini buatmu, Ri. Banyak sekali. Bahkan pekerjaanmu ini memberimu pengalaman dan pengetahuan yang tak akan bisa dihitung dengan materi.

Pekerjaan pertama selepas sarjana lah yang biasanya menentukan karir profesional kita di masa depan. Banyak sekali sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan apa yang dipelajarinya saat kuliah. Bahkan mereka bekerja tidak pada apa yang disukainya.

Tapi tetap saja, bagaimanapun, skill itu bisa dilatih dan dipelajari. Apa yang kemudian dinilai selain itu adalah karakter kita.

Kau jangan sampai lupa, Ri. Apa yang telah kau punya saat mulai menjadi wartawan. Dan apa yang telah kau dapat saat sudah setahun ini menjalaninya. Kau tak menyangka bukan, kau sudah bertahan selama ini. Kau bertahan! Dan itu amazing. Tak mudah, Ri. Profesimu ini, tak mudah dijalani, tapi kau melewatinya.

Pekerjaan ini membentukmu jadi seorang yang nekat, berani dan mandiri. Tak sadarkah kau? Mustinya ini membuatmu lebih percaya diri.

Jadi, ingatlah pekerjaanmu ini, nanti jika kau suatu hari berhenti atau ganti profesi. Inilah jodohmu. Awal kisahmu di perantauan. And you did good, young lady. You done well. You are amazing.

Sunshine

Bad Dream

Barusan saya mimpi.

Entah saya berada dimana, banyak orang keluar masuk. Rata-rata bule kulit hitam. Ada tempat duduk ini, terbuat dari kulit, mampu menampung banyak orang. Bisa dijadikan perosotan anak-anak.

Kemudian udara bertambah dingin. Keliatan teman-teman lain datang mengenakan jaket tebal. Lalu, kami berkumpul, mengobrol soal teman kami yang menyebar hoax tentang Jokowi yang membagikan galaxy tab buat para wartawan balkot.

Saat penyebar gosip itu datang, kami bubar.

Lalu kami menuju aula besar yang berada di ujung jalan.

Saya datang terlambat. Jalanan ke aula sudah sepi. Langit gelap. Salju turun. Saat tengah ke aula, dari sebuah bagasi mobil saya mendengar suara Isti kedinginan. Dalam mimpi itu, saya meneruskan jalan kaki ke aula. Apapun itu, sudah dimulai. Penonton penuh. Saya belum duduk saat memutuskan kembali ke suara Isti tadi.

Ada anak-anak kecil yang membantu saya mengingat suara Isti berasal dari mobil yang mana.

“yang ini! Dia suruh kami berjaga disini”.

Karena mimpi memang absurd, jadi saya mulai membuka mobil itu dan disitu, tubuh Isti sudah membeku tak bergerak lagi.

Saya berteriak-teriak dan apapun itu yang terjadi di aula sudah selesai. Teman-teman datang dan melihat saya menangis, semua bertanya.

Tak ada yang percaya itu Isti.

Setelah itu saya terbangun.

Dan Isti menelpon.

“Isti? Are you okay?”

Sunshine