Change

Happy Independence Day Indonesia!
I am so proud to be Indonesian!

Saya baru saja buka laman home Facebook dan menemukan teman-teman menulis soal dirgahayu Indonesia ke 68 ini dalam beberapa versi makna merdeka. Apa itu merdeka? What is freedom?

Saya juga tak akan membahas soal kemerdekaan disini. Saya mau memikirkan dan membahas soal perubahan. Change.

Salah satu yang saya tahu selama sembilan bulan berkutat di desk Perkotaan, adalah sebagai reporter kita bisa membuat beberapa perubahan. Perubahan yang memang dampaknya dirasakan lokal tapi hey, bukankah perubahan itu seluas apapun adalah kebaikan?

Salah satu sahabat saya yang kini menjadi reporter di Makassar, Nita, seringkali bercerita bahwa kota kelahiranku itu semakin amburadul.

Titik kemacetan bertambah banyak. Lalu baliho-baliho caleg di pohon dan dimanapun ada space kosong di jalanan, semakin menjamur. Dua hal itu sepertinya hal yang paling meresahkan.

Dan pada suatu malam saya mengatakan pada Nita, kenapa tidak kau menulis soal itu, Nit?

Reporter bukanlah profesi biasa, namun  profesi yang luarbiasa menguras energi dan pikiran. Tugas meliput adalah tanggungjawab kepada masyarakat. Reporter tidak bekerja buat dirinya sendiri, tapi buat masyarakat. Reporter atau jurnalis punya kekuatan untuk memperbaiki dan mengkritisi pemerintah jika mereka bekerja tidak becus.

Jadi jurnalis adalah tugas mulia, mirip dengan pahlawan, sebenarnya. Namun banyak yang tidak sadar. Banyak yang memandang rendah. Banyak yang terlalu lelah melanjutkan karena seperti yang saya katakan, profesi ini butuh ekstra power.

Maka kembali lagi ke kondisi aktual Makassar dan kota-kota lain serupa. Hal-hal pemasangan atribut kampanye itu setau saya punya ketentuan. Ketentuan itu diatur oleh KPU dan Panwaslu. Bagi yang melanggar bisa dilaporkan hingga ke Bawaslu. Dan hukumannya bisa dibawa hingga ke pengadilan.

Hanya butuh satu reporter untuk mengangkat hal itu ke permukaan dan buat pemerintah bisa melek dan bergerak. Rakyat biasa percuma teriak-teriak di Twitter. Cukup satu reporter yang konfirmasi kondisi itu pada bagian yang bertanggungjawab telah merusak keindahan kota. Satu orang. Buka mata pemerintah. Jangan maunya cuma duit duit, padahal gajinya sudah semilyar pun tak puas juga.

Soal kemacetan, angkat saja keluhan masyarakat. Setelah itu konfirmasi ke bagian dinas tata kota atau PU jalan. Kapan ada langkah nyata pemerintah memperbaiki? Padahal itu sudah bertahun-tahun. Jangan sampai anggaran perbaikannya sudah masuk APBD tapi tidak dikerjakan. Huft banget.

Semoga menulis ini saya gak dianggap sok pamer atau sok pintar. Kadang jengah juga sama kondisi kota yang pemerintahannya tidak mau berusaha keluar dari carut marutnya. Look at Jokowi, he is one of the leader who didn’t do broken promises. Dia salah satu pemimpin yang juga agen perubahan. Dan dia nyata, bukan angan-angan.

Saat ini banyak rakyat yang mengangankan pemimpin yang baik. Dan kenyataannya jauh dari itu.

Do something, Nit. Do change. If it’s not for you, do it for your friends or family yang sering terjebak macet dan suka ngomel karena kotanya dirusak sama baliho tidak penting itu. Memangnya baliho bisa memakmurkan warga?

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s