Obrolan

Saya punya teman dekat namanya Ochank. Dia teman SMP saya di Makassar. Saya jarang membicarakan dia disini karena intensitas pertemuan kami sangat minim. Meskipun begitu, saya dan Ochank berteman sudah lama sekali dan kami punya beberapa kesamaan, hal yang membuat kami dekat.

Ochank penggila bacaan seperti saya. Dia juga suka menulis, tapi sayangnya dia sudah jarang melakukannya karena dia menemukan ‘surga’ lainnya di mengajar dan berdiplomasi. Sekarang dia berprofesi sebagai pengajar Bahasa Indonesia untuk aristokrat dan pengusaha atau penghuni Jakarta yang datang dari luar negeri.

Sejak dia menjalani profesi barunya ini, maka setiap pertemuan kami adalah sebuah obrolan yang sangat mengesankan, jauh dari sesi curhat keluhan soal hidup. Jenis obrolan yang melibatkan pemikiran yang kadang sulit saya pahami, karena dia bercerita soal murid-muridnya dan betapa absurdnya percakapan antara dia dan muridnya itu.

Kemarin, saya bertemu lagi dengan Ochank setelah entah berapa lama, saya tak ingat lagi, pokoknya sudah lama. Dalam pertemuan itu, obrolan dalam baswei menuju pulang lah yang paling berkesan buat saya.

Dia bercerita tentang salah satu muridnya yang berumur 25 tahun dan sudah mendapat gelar PhD dari Cambridge University. Muridnya ini nenghafal di luar kepala kisah lengkap Tan Malaka yang bahkan orang Indonesia saja tidak tahu siapa Tan Malaka. Ochank bercerita pada saya  betapa jeniusnya muridnya ini karena ia mampu menebak kutipan kalimat para pemikir dunia.

Ochank mengucapkan satu kutipan dari Karl Marx, “Agama adalah candu”. Saya tak paham artinya dan memang saya baru pertama itu mendengarnya.

“stop sampai disitu Bu Faudzan (nama lengkap Ochank)” muridnya berkata.
“Kenapa?”
“karena para atheis membaca cuma sampai disitu, padahal Karl Marx punya lanjutannya”, muridnya menjelaskan.

Saya bertanya pada Ochank apa makna “agama adalah candu”.

Jadi para atheis yang tidak memiliki agama dan tidak percaya adanya Tuhan sangat percaya pada tiga kata ini. Kenapa? Karena mereka menganggap bahwa orang-orang yang punya agama hanya memperlakukan agama sebagai candu, dicari saat mereka perlu saja, saat mereka terpuruk saja. Lalu untuk apa punya agama kalau mereka tak pernah terpuruk, dan jika mereka memang jatuh mereka bisa bangkit lagi sendiri? Untuk apa percaya ada Tuhan kalau hanya dicari saat kita perlu saja?

Kurang lebih begitu.

“padahal Karl Marx melanjutkan bahwa pencarian akan agama adalah penemuan akan kebenaran” ujar muridnya.

Lalu kemudian saya berkata pada Ochank, bahwa bagaimana orang-orang atheis itu bisa hidup tanpa percaya adanya Tuhan? Bagaimana bisa mereka hidup tanpa punya pegangan sedangkan hidup ini sangat keras?

Ochank bilang karena kebanyakan atheia itu percaya saat mereka jatuh, mereka bisa bangkit lagi tanpa bantuan apapun, siapapun, usaha mereka sendiri, murni. Sedangkan yang percaya adanya Tuhan selalu percaya bahwa ada yang menggerakkan sesuatu itu bekerja dan berfungsi sedemikian rupa, sehingga satu hal bisa terjadi.

“Saya saja, kalau mau dapat kerja, mintanya sama Tuhan. Mau uang, mintanya sama Tuhan. Apa-apa minta sama Tuhan. Jodoh dan ampunan dan kesehatan pun minta sama Tuhan. Saya tidak punya daya atas hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan”,  ujarku pada Ochank.

Ochank mengiyakan.

“mungkin atheis yang tak bisa bangkit dari keterpurukan itulah yang biasanya committed suicide, ya?”

Ochank said, “yeah, probably”.

Saya merasa kasihan pada orang-orang yang tidak percaya itu.

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s