Adaptation

So I moved back into Kabar Kota desk. For many medias they said it with Metropolitan desk, which is reporting all things happened in city or people or public facilities around.

For me and maybe for most of junior reporter, it becomes the hardest desk. Physically and mentally tiring.

Mestinya setelah menjalaninya beberapa bulan dulu, sebelum di Dialog, kali ini saya bisa adaptasi dengan cepat. Tapi ini sudah hari ketiga dan saya belum juga bisa bekerja maksimal. “Besok liputan apa” selalu jadi pertanyaan setiap malam dan terus menjadi “hari ini liputan apa” karena esoknya pertanyaan semalam belum terjawab juga.

Salah satu hal krusial yang membuat saya tidak suka desk ini adalah saya diminta berhubungan dengan birokrat yang luarbiasa sombong. Bukan apa-apa, saya sudah merasakan bekerja di desk agama dan setiap kali saya mengirim sms permintaan wawancara, bahkan via telepon, selalu dibalas dengan hangat, selalu direspon dengan baik.

Saat kembali di desk Barkot, saya bertanya-tanya kenapa saya mendapati hal ini sulit? Mengontak narasumber? Pesan yang saya kirim defaultnya sama tapi responnya berbeda. Tadi saja saat saya mau wawancara Walikota Jaktim, saya harus melewati protokoler berbelit belit. Dan jawaban apa yang saya dapat? Pak Walikota tidak berkenan di wawancara.

Hahaha.

Padahal Walikota itu pelayan warga, abdi negara juga. Saya tau kita mestinya menghormati pemimpin. Tapi pemimpin juga harus menghormati warganya, bukan? Bukannya saya mengurusi personal business, saya bahkan mengurusi urusan relokasi warga dan tuntutan warga agar masjidnya jangan dibongkar. Untuk hal semacam ini pemimpin tidak berkenan di wawancara, begitupula dengan jajaran ke bawahnya, Camat, Lurah, dsb.

Padahal dulu di Dialog, ustaz-ustaznya memberi waktu di tengah-tengah ceramah mereka. Rektor universitas Islam memberi penjelasan singkat di telepon, dosen dan anggota MUI menjelaskan soal halal. Pimpinan ormas Islam bahkan memberi respon dengan amat baik.

Saat narasumber Barkot ini menghalang-halangi pekerjaan peliputan. I don’t like this. And I can’t find a reason why I have to stay in this job, profession and company selain saya butuh pemasukan untuk keep alive di kota besar ini sendirian.

I don’t care anymore.

Sunshine

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s