Hati

Patah hati bermula dari sini.
Rayya hanya menyimpan Tuhan dalam hatinya yang sungguh besar. Saat Tuhan meminta untuk selalu memuliakan orang tua, dia memberi ruang untuk orang tuanya. Kemudian, orang tuanya meminta Rayya untuk menyayangi adik-adiknya. Maka ruang hatinya tadi diisi lagi oleh adik-adik kesayangannya.

Lalu Rayya hidup dengan bahagia. Dimanapun dia berada, senyumnya tak pernah lepas dari bibir. Saat melihat hal-hal yang indah, dia teringat Tuhannya, yang disimpannya dengan baik dalam hatinya yang besar. Dia berucap, “subhanallah, Allahu akbar” dengan tercekat. Rayya seringkali takjub dengan hidupnya dan hal-hal yang melalui penciptaan Maha Sempurna.

Kata orang, hati kita cuma satu. Dan orang-orang yang kita cinta, menempati ruang-ruang yang berbeda di dalam sana.

Kebahagiaan Rayya dimakan waktu. Dia merasa hatinya terlalu lapang bahkan setelah membagi-baginya untuk Tuhan, orang tua dan adik-adiknya. Dia butuh seseorang, yang bisa dicintainya, yang mampu membuatnya menjadi utuh  (bukan berarti awalnya dia hanyalah kepingan).

Waktu berlalu. Tak lama, muncullah Zaffar. Laki-laki yang lembut dan penyayang. Sosok pemimpin yang cerdas dan menawan. Laki-laki paling baik yang bisa diharapkan Rayya.

Tapi Zaffar jauh dari jangkauan. Dia begitu bersinar, begitu terang seperti bintang. Rayya mengakui dirinya seperti ingin memetik bintang yang tak terjangkau. Kecuali oleh matanya saja.

Namun Tuhan menghendaki Zaffar hadir dan mengenal Rayya. Selanjutnya, Dia hanya menjalankan rencana dan gerakan kecil agar Zaffar menjadi bagian dalam hati Rayya yang lapang.

“Aku cinta padamu”,

Adalah mantra ajaib. Tiga kata itulah yang membuat Zaffar lalu masuk dalam kehidupan Rayya dan dalam hati perempuan itu.

Tuhan, orang tua, adik-adik dan Zaffar mengisi ruang-ruang berbeda dalam hati Rayya yang besar.

Kemudian dalam satu petikan jari, CLAP!

Di suatu subuh, orang tua dan adik-adik Rayya tewas dalam kecelakaan maut pada perjalanan dari Bogor ke Jakarta. Seorang bocah yang kembali dari mengantar pulang pacarnya, melarikan mobil mewahnya seperti orang kesetanan. Saat mobilnya lepas kendali di jalan tol kilometer 19, mobilnya menghantam pemisah jalan dan menabrak mobil keluarga Rayya. Keluarga Rayya tewas dan bocah ugal-ugalan itu selamat.

Beberapa bulan kemudian, bocah itu divonis bebas. Pengadilan memutuskan bahwa ia masih dibawah umur untuk diperlakukan seperti kriminal pada umumnya. Orangtua bocah itu lega, anaknya bebas dari tuntutan.

Rayya merasa dirinya ikut mati di mobil itu bersama seluruh keluarganya. Dia nyaris tak bisa berpikir, bahkan dia tak yakin dia sungguh-sungguh bernapas, dan hidup. Hatinya berantakan. Ruang yang dulu ditatanya rapi, kini hancur. Tak ada yang bisa menanggung perihnya kehilangan.

Beberapa pekan setelah mencoba menata hidupnya, Zaffar kembali menghancurkannya. Dia memutuskan untuk menikah dengan calon pilihan orangtuanya.

“Maaf Rayya, semoga ini yang terbaik buat kita”,

Dan begitu saja, Zaffar pergi. Dia pergi setelah Rayya menyimpannya rapi dalam ruang hatinya yang lapang. Bagaimana bisa Zaffar berpikir ini akan menjadi hal yang baik bagi Rayya? Apa dia pikir menyimpan seseorang dalam hati kemudian minggat begitu saja adalah perbuatan yang pantas?

Begitu perih kehilangan, begitu sakit rasanya ditinggalkan.
Dan dari situlah patah hati bermula.

Sunshine
Menunggu pagi datang.
Ramadhan 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s