Sick

Beberapa jam yang lalu mustinya saya ke kantor. Saya sudah minta Lulu buat menunggu supaya bisa keluar sama-sama. Tapi setelah mandi, perut saya sakit sekali. Kemarin perut saya juga nyeri. Perempuan perlu merasakan baik-baik jika perutnya sakit karena itu bisa berarti banyak hal. Kuduga, saya dapat nyeri haid.

Tapi saya tak pernah dapat nyeri seperti ini sejak saya haid belasan tahun lalu.

Kemudian saat sakitnya tak tertahankan, saya mengambil keputusan untuk kembali berjongkok ke kamar mandi.

Dan kemudian saya muntah. Seluruh sarapan saya keluar dengan paksaan dari dalam. Asam. Rasanya ingin pingsan di dalam sana, tapi aku harus kuat setidaknya membersihkan badanku.

Nyeri perutku tidak juga hilang malah semakin kuat. Saya takut tidak bisa ke kantor, saya takut harus dilarikan ke rumah sakit.

Saya minum air hangat dan memohon untuk selimut. Saya kedinginan, lemas, dan nyeri perut. Sepersekian detik kemudian, saya muntah lagi.

Dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak ke kantor, menenggak Mefinal untuk penghilang nyeri, membungkus badanku dengan selimut dan tidur.

Saat memutuskan menulis ini saya kembali ingat bagaimana di tengah-tengah merasa sakit, saya mengingat mati. Saya tak pernah butuh takut untuk mati. Tapi saya pikir, mati pasti rasanya sakit, dan saya takut sakit.

Dan betapa mahalnya menjadi sehat.

RI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s