Becermin

Saya baru saja menyakiti hati kakakku yang sedang susah. Suaminya kerja di luar kota. Gajinya lumayan. Tapi entah pemasukannya tak juga cukup menutupi seluruh pengeluaran. Akhirnya kakak jadi nyusahin ibu bapak yang juga sudah susah. Jadinya saya marah. Maksudku kenapa sudah berkeluarga tapi masih nyusahin ibu bapak?

Kakak menangis sambil bilang padaku, “nanti kau rasa sendiri bagaimana berkeluarga!” sambil berjanji kalau dia memang menyusahkan, dia bakalan out dari rumah.

Jadinya saya makin marah. Pokoknya begitulah. Kami jadi adu mulut sampai mama bapak menegur keras, kami pun berhenti bicara.

Muncullah pertanyaan di kepalaku. Memangnya berkeluarga itu sesusah apa? Kalau memang susah untuk apa menikah?

Mama bilang jangan berpikir begitu. Menikahlah, maka sempurnalah ibadahmu. Lagipula kalau kalian menikah, masalah paling cuma soal ekonomi. Kalian atasi bersama, kelar. Nanti bahagianya sama-sama.

Jadi sekarang, karna jodoh pun belum tampak juga (saya tak tahu Tuhan kasih ketemunya kapan). Saya mau enjoy masa-masa sekarang. Momen dimana cuma mikirin masalah diri sendiri. Momen “aku” nya lebih banyak dibanding “kami”.

Dan menunggu waktu buat mendewasakan semua hal yang ada dalam diriku.

Karena saya gak mau nantinya setelah menikah masih menyusahkan orangtua. Karna menurutku kita harus balas budi dulu sama orangtua. They have done a really super awesome mission for raising us up.

Saya berharap saya bisa memberi lebih banyak pada orang tua setelah menikah nanti.

I am so sorry kakak.

RI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s