Menjadi Tsukuru

Saya sedang membaca buku Murakami yang terbaru berjudul “Colorless Tsukuri Tazaki and His Years of Pilgrimage”. Di buku itu diceritakan tentang laki-laki bernama Tsukuru, yang ditinggalkan empat sahabatnya saat dia kuliah di Tokyo dan sahabatnya tetap tinggal di Nagano. Dia ditinggalkan tanpa alasan. Akhirnya Tsukuru hidup sendiri, membiarkan dirinya tidak bahagia selama bertahun-tahun di perantauan. Ia juga tidak mengangankan rumah sebagai tempat damai untuk pulang.

Murakami menulis kesakitan ditinggal sahabat seperti sesuatu yang benar-benar nyata.

Belakangan ini saya merasa sahabat lama saya menjauh. Saya tak tahu alasannya. Dan saya tak pernah mau bertanya kenapa. Saya pun sudah tidak minat mengomentari grup angkatan semasa kuliah. Saya diam-diam mengangankan dan membayangkan menjadi Tsukuru.

Dan menjalani keseharian dengan orang-orang di kantor saja. Bepergian dengan yang ingin mengajak saja. Menjalani hari di rumah dan kantor saja.

Tapi apakah itu yang kuinginkan? Ditinggal-lupakan?

Atau seperti kata Jodha, “kau ingin pergi karena berharap Raja akan mengejarmu kan?”

RI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s