Senja di Jakarta

Kutulis pesan ini saat senja telah turun di Jakarta dengan ditemani setangkup kenangan pahit dan secangkir kopi tanpa gula di kafe yang namanya mirip dengan nama kota ini di jaman Belanda. 

Hatiku lebih getir dibanding cecap lidah yang mengisap gelapnya minuman yang beralaskan tatakan piring keramik putih. 

anak-anak di depan kafe sedang berlari-kejaran penuh ceria hingga tangan mereka direntangkan bagai sayap. 

mereka tahu takkan bisa terbang. namun seolah-olah saja, rasanya cukup bahagia. 

aku tahu kau takkan membalas pertanyaanku yang lebih mirip pernyataan itu dengan jawaban “ya”.

namun membayangkan kau menyambut tanganku yang kudiamkan di atas meja saja, 

sudah membuatku terbang 

bahagia

dan itu

kadang-kadang 

lebih indah

dari segala realitas yang ada disini. 

dunia butuh lebih banyak sayap dan kebahagiaan. 

RI

Mimpi Pergi

ketakutan membakar mimpi
matamu redup
tak lagi kulihat kerlip cahaya disana
yang biasanya memantulkan bayangan wajahku yang bahagia
sehabis menangkap lengkung senyum di bibirmu

apa yang kau khawatirkan, sayang?

katamu dengan datar,
‘aku ingin pergi’
sepersekian detik aku menunggu
kau tak jua melanjutkannya dengan penjelasan

‘kini apa yang salah?’

tak kutanyakan pula perihal penyebabnya
aku hanya menuntunmu
membantu mengepak pakaian, buku-buku,
dan setiap keping kenangan yang ada padanya
aku menangis tapi kesedihanku raup oleh ketakutan

mulutku tertutup
pikiranku liar
hatiku perih dan pedih
mataku kering

derik pintu
membahana
menutup
cahaya mataku
sirna
aku berdiri menyaksikan langkahmu tak henti di ujung mimpiku

kusadari kaulah ketakutanku
kau pula yang membakar mimpiku
lalu pergi begitu saja
seperti asap
yang tak kenal api mana dia berasal

Di Kepalamu Ada Matahari

Berlarilah engkau dari tempat yang begitu jauh
Di atas kepalamu ada matahari yang hendak terbit
Hujan takkan turun, katamu.
Padahal awan kelabu bergulung-gulung di langit.

Apa yang begitu menyakitkan dari jatuh cinta?
Kita mungkin adalah mayat-mayat berjalan
yang mencari tempat perlindungan abadi
dari hati yang patah berkali-kali

Musim gugur telah tiba
Daun-daun yang kering kini tergelatak di jalanan
Seseorang yang menyukai kamera, mengambil gambar kakinya dan dedaunan itu,
Lalu membuatnya abadi.

Berpuluh tahun kemudian dia menyesal tak membubuhi tanggal di gambar itu.
Sebab gambar tak seperti kenangan,
Ia tak pernah hidup
Walaupun ia mampu berbicara ribuan kata.

Pohon mangga di depan rumah kita sudah semakin tinggi.
Daun-daunnya lebat menghalau sinar matahari
Dari kepalamu.
Musim hujan datang.
Awan kelabu menggantung di langit yang tak bertepi.
Aku telah menemukanmu.
Hatiku yang pernah patah, kini sempurna karenanya.

RI

I’ll Stand By You

These are the most bullshit words men could ever said to me
“I’ll stand by you”
But you know what,
everytime The Pretenders sings it thru my earphone, I melt.

Mustinya kalimat itu tak sekedar kata.
Mustinya kalimat itu lebih dari ikrar dan lebih dari janji.
Tapi apakah karena dinamakan janji lalu kemudian orang mudah melupakan?

I might be stupid.
But even the dullest person has a heart.
And heart is innocent.
And you are sinner if you betray an innocent thing.

I love you.
I love you more than the sunshine to the sky.
I love you more than the rain that brings a rainbow.
I love you more than I live.

But you won’t tell.
You just stab me in my heart and rip the pieces out.
Like I am nothing.
Like I am nonsense.
Like I am the most bullshit words a man could ever say to a woman.

RI

Voice Within

Sore ini saya mencoba untuk bersujud lebih lama dari biasanya. Selesai sholat, saya duduk lebih diam dari biasanya. Kemudian, pikiran saya mulai berbicara. Saya mendengarnya lebih jelas. Pikiran saya berbicara pada Tuhan.

Apakah saya siap mati? Saya belum siap ya Allah. Tak ada yang akan menjawab sebaliknya. Tapi apakah saya sudah bersiap-siap? Itupun belum. Tanggung jawabku pada Mu belum tuntas dan saya hanya memikirkan dunia dan saya amat payah dalam mengatur pertemuan dengan-Mu.

Saya takut akan masa depanku. Tapi saya yakin kalau semua orang juga khawatir. Bagaimana jika rencana yang saya atur tak terealisasi? Apakah saya mampu berkompromi dengan rencana B? Rencana C?

Apakah saya siap dengan apapun kejutan-kejutan-Mu?

Tuhan,
saya bahkan tak tahu apa yang paling baik untukku. Kadangkala saya tak tahu apa yang harus saya lakukan.

RI