Teh Pagi dan Selimut Hangat 

Ingin kutulis bait-bait puisi yang hangat seperti pelukan ibu. 

Tapi aku hanya punya selimut yang cukup menahan dinginnya pagi  masuk dan membuat gigil. 

Dulu jika aku bersin, ibu akan berlari ke arahku dengan segelas teh panas yang uapnya terbang ke udara.

Ibu akan menasehatiku tanpa jeda, betapa kesehatan itu penting

Dan percuma mimpi dan ambisi kita besar jika tubuh tak mampu menopangnya. 

“Kenapa kau brengsek pada tubuhmu sendiri? Makan! Minum ini!” katanya

Lalu ibu akan memberikan kedua lengannya melingkar di seluruh badanku tanpa berkata apa-apa

RI

Advertisements

One thought on “Teh Pagi dan Selimut Hangat 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s