Malam Buta

Pernah suatu ketika langit pecah dan rembulan terbelah tiga. Kau dekap aku. Aku tenggelam dalam lebatnya rasa rindumu pada anak-anak kita yang takkan pernah ada. 

Mari kita berpisah. 

Kau mengucapkannya hanya untuk menyakitiku. Agar aku melepaskanmu dan membiarkanmu menanggung semuanya, kepedihan-kepahitan. 

Anak-anak kita takkan datang, sayang. 

Apa yang tak ada tak usah dirisaukan. Bayang-bayang akhirnya pun hilang saat cahaya redup. 

Aku mencintaimu, istriku dan biarkan aku terus begitu. Meski terang bahkan dalam gelap. 

Aku pun cinta padamu, takkan pernah bisa ku berpikir jenis kehidupan apa yang akan kujalani tanpamu. 

Lalu malam buta menyergap. Memerangkap cahaya dalam matamu. 

Kemudian kita membuat keajaiban. 
RI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s