What If

Having such good friends around sometimes burdens me. They expect so many things from you to do because they want to see you achieve your aspiration. They want to see you have a good life, good career, good recognition.

Sometimes I act such a coward by thinking: “hey, it doesn’t matter if I want it, it doesn’t mean it’s going to happen”-

Then my friends will absolutely say: “why not?”

Exactly like Erin Gruwell said to her husband.

You know, sometimes it jumps my mind every time I wake up in the morning like this moment. “Ri, you have to do something with your life like they expect you to be”,

But you know, sometimes it’s just too hard to do it once you are in your safe zone.

My Mom, K, my bestfriends, love me so much I know. They want me to have better life, not like this life because they are sure I deserve that.

It’s just, you know…

RI

I Want To End This Soon

Since I moved back to my old centre, I have this kind of uncomfortable situation. 

That makes me feel “oh, I want to end this soon”, everytime I sit down and start my work. 

I want to go away. I need some escape. 

Or is it possible I am just having bored?

And it will be passed as time goes by? 

Oh,  I had to hurry. I am already late working. 

RI

Resiko

Saya tak pernah menyangka akan punya partner seorang dokter. Well, first, profesi itu sama sekali bukan dalam lingkaran sosialku. Saya banyak bergaul dengan pekerja kreatif atau pekerja seni. 

Saya tak mengenal baik dan penasaran dengan teman-teman yang memilih masuk sekolah kedokteran. Bagi saya, mereka jauh dan sangat berjarak dengan kehidupanku sehari-hari. Meskipun kakakku seorang dokter gigi, dia pun tidak dekat dengan dokter. Suaminya sekarang adalah seorang sarjana teknik mesin dari ITB.

Bertemu dan mengenal K, membuatku masuk ke lingkaran itu. He is going to be a doctor. Setiap bertemu, ada saja fenomena biologis yang dijelaskannya secara medis. Hal itu kadang terasa menyebalkan sebab otakku tiba-tiba macet. Belum lagi cara bicaranya yang begitu cepat, saya sulit mengikuti. Kerap kali saya memotong pembicaraannya dengan berkata “tunggu, bisa ulangi bagian yang ini?”. 

Hari ini, K bertugas jaga di rumah sakit. Seharian kami nyaris tidak berkomunikasi kecuali bertukar kabar soal saya sudah di rumah atau belum. Saat ini, saya jadi memikirkan hal itu. Kemarin dia bilang bakalan jaga 7×24 jam di rumah sakit lain mulai minggu depan. It means, seminggu nanti komunikasi akan sesempat-sempatnya saja. 

Itu resiko yang harus saya jalani karena memilih buat bersama-sama dia, bukan?
Jadinya saya ingat drama korea berjudul Reply 1998. Tokoh utamanya juga adalah perempuan yang menyukai seorang residen rumah sakit. Residen itu adalah dokter yang sedang ingin mengambil spesialis. Hubungan mereka manis sekali, walaupun si cowok sibuknya amit-amit. Adegan melamar pun dilakukan di ruang istirahat rumah sakit, coba. Hehehe. 

Mungkin K sekarang sedang memeriksa, mengukur suhu tubuh atau memeriksa tekanan darah pasien. Pasti dia capek sekali. Pasti dia mau banget istirahat tapi belum bisa. 

Mengingat hal itu betul-betul mengingatkanku pada Oppa residen di Reply 1998. 🙂
RI

I Quit

AskLychee

*Disclaimer – this should have been posted on Thursday last week but I was having too much fun on my hen weekend!

Pay close attention, this story might be about you.

In life we are often told to go out and find a job and make money and therefore somehow we will become happy……….

Today, August 20, 2015, was my point of no return.

I just walked out of the revolving doors of 280 Bishopsgate for the last time and I feel……….nothing. Not sadness, not relief, not even happiness….. just nothing! It’s indescribable. It’s such a strange feeling to know that a place I worked at for 4 years 10 months and 24 days or the equivalent of 32,760,000 seconds, will never ever be apart of my life again, and all I can feel is NOTHING!

The funny thing about this post is that I am actually writing it on…

View original post 1,023 more words

Lima Puluh Ribu

Kebaikan lain yang diajarkan padaku adalah bersedekah lima puluh ribu setiap hari Jumat. 

Waktu itu Jumat. Bapak akan segera ke mesjid untuk Jumatan. Tidak lama, Mama bilang ke saya untuk beritahu Warni, kakakku, untuk titip uang sedekah ke Bapak. Jadi saya ke kamarnya Warni.

“Nong, Bapak mau ke mesjid. Mau titip uang sedekah tidak?”, kutanya.

“Oh iya. Tolong ambil di tas. Ada uang lima puluh ribu”, 

“Semua ini disedekahkan? Banyak sekali”, kutanya.

“Iya, semuanya.”

Setelah itu kuberi titipan uang Warni pada Bapak. 

Beberapa Jumat kemudian, saya di kantor. Teman kantor akan segera Jumatan dan saya ingin titip uang sedekah. Di dompetku tinggal lima puluh dua ribu. Kuambil lima puluh ribu dan kuberi padanya.

“Titip nah uang sedekah mesjid”,

“Semuanya ini?”, temanku bertanya.

“Iya.”, kujawab.

“Astaga, banyak sekali”, katanya.

Intinya, kupikir kita sering berpikir nilai lima puluh ribu itu banyak, kadang juga sedikit. Lima puluh ribu kalau dibawa ke mall mah, gak seberapa. Tapi kalau mau dimasukkan ke mesjid, kita betul-betul berpikir bahwa itu terlalu banyak. Sedekah uang kecil saja, tidak usah yang besar. Begitu pikir kita, kan?

K bilang berapapun nilai sedekahnya, asal jangan sampai kita sedekah karena mengharap diganti berkali lipat sama Allah. Sedekah ya sedekah saja, niat karena Allah. 

RI

Kemarin

Kemarin, saya dan Nita singgah makan di Coto Lesehan dekat kampus Unhas setelah lari sore. Baru beberapa menit kami makan, tiga bocah pengemis masuk dan meminta uang ke beberapa pelanggan, termasuk ke Nita.

Kupikir Nita tidak akan memberi bocah laki-laki itu apapun. Tapi saya salah duga. 

Nita tidak memberinya uang tapi memesankan dua porsi coto untuk anak itu dan teman-temannya.

“Kenapa ko belikan Nit?”, kutanya.

“Ya daripada saya kasih uang? Mending saya kasih makan”, jawab Nita singkat.

Saya tidak pernah mendapat teman yang seperti itu. Teman lain, ya seringnya tidak peduli sama pengemis dan peminta-minta. Tapi Nita, dia mengajarkan saya untuk mengubah cara kita berbuat baik. Sebab, jika kita memberi mereka uang, mereka bisa salah gunakan. Tapi kalau makanan? Mereka bisa apa selain memakannya?

Tapi sayang sekali, setelah bocah-bocah itu makan, mereka sama sekali tidak berterimakasih pada Nita. Mereka langsung pergi. 

“Sayang sekali, mereka tidak diajarkan berterimakasih”, Nita bilang. 
RI

Attraction

Maybe some of you still wonder, why do I like K? What attracts me most about him? Well, you know, that question also always comes up in my mind. 
FYI, he is not attractive, at all. Well, physically. He has black skin: typical East people, he is plumpy with big stomach, he is taller than me, his body is covered by hair. 

But he has this smile that could melt my heart, he has this kind of staring that could paralyze my eyes. He has a very big heart that he can use to love me and accept all my flaws. 
He came into my house couple hours ago and brought me a bouquet of pink roses! I super loveeed it, I couldn’t stop smiling!
He surprised me a looot. 
And those are his most charming-attraction that attracts most. 

And I haven’t told you about his brain. 
RI 

Butterflies

“Kita telah saling menemukan tanpa pernah merasa saling mencari” -RI

Dear My Significant Other,

Kau mungkin suka lesung di pipiku yang setelah kita hitung bersama, ada lima. Kau mungkin suka saat aku tersenyum. Kau suka saat aku bercerita dengan penuh semangat tentang apa yang terjadi dengan murid-muridku di sekolah. Kau suka memandangku saat sedang makan. Kau suka saat aku bertanya. Kau mungkin punya puluhan hal lain yang kau suka dariku.

Menyayangi seseorang itu kuyakini butuh alasan. Tapi seberapa sering pun aku meneriakkan alasan itu dalam kepalaku, rasanya tetap tidak masuk akal. 

Aku suka suaramu. Aku suka saat aku merasa menjadi begitu bodoh saat ngobrol denganmu. Aku suka saat kau tersenyum dan berkata “hey” di chat line ataupun saat kita bertemu. Aku suka tatapanmu padaku. Aku suka saat kau menulis segalanya tentang aku dan kita di blog pribadimu, yang kelihatannya, cuma aku pembacanya. Aku suka dirimu yang begitu sabar dan penyayang dan percaya padaku. 
Kau adalah alasan mengapa kupu-kupu beterbangan di dalam perutku, yang seringkali kau pertanyakan.

“I don’t know what is butterfly in your belly”, you said.

“You never feel it? Oh, you might never fall in love! Even with me”, I said.

“Why do you say that? Do you know? I might never feel it but I know I fall for you since my heartbeat beats fast when you are around, when I think of you!”, 

And then I smiled. 
I might be crazy but that’s how I feel and that’ okay. 
RI

Jarak Dengan-Mu

Ada saat dimana menghubungimu adalah suatu kewajiban. Saat itu, aku akan melakukannya dengan penuh keengganan. Aku benci jarak, bahkan jika itu hanya berbeda seinci.

Tapi Tuhan, belakangan aku sadar. Satu-satunya jarak yang harus kumusnahkan adalah jarak kita berdua. Aku bisa saja melakukannya agar kita menjadi sedekat urat nadi. Agar apapun keinginan yang kubisikkan mampu kau dekap, bisa kau peluk.

Tapi jika aku melakukannya agar aku bahagia, bukankah kedengarannya begitu egois?

Apakah berspasi dan berjarak denganmu itu perlu? Apakah rindu baru akan tercipta saat ada jarak?

Aku ingin melakukannya tanpa merasa HARUS melakukannya. Aku ingin menghubungimu, bercakap denganmu karena aku MEMANG merasa bahagia saat melakukannya. Aku ingin merindukanmu seperti saat aku merindukan dekapan seseorang yang begitu kucinta.

RI

Ruang Kelas

Di ruang kelas yang luas ini saya merasa lebih leluasa menenangkan pikiran dari hal-hal yang selalu menjadi lebih liar di dalam otakku. Ditambah lagi, suara Ed Sheeran terdengar lebih jelas saat ia bernyanyi Photograph ataupun Thinking Out Loud dari dua speaker besar yang digantung di dua ujung atas ruangan. Meskipun volume yang kusetel hanya 34/100, suaranya sudah sangat lantang.

 
Apa yang saya pikirkan?

Saya kadang ingin menjadi orang lain betapapun seringnya kampanye ‘Be Yourself’ kubaca dimana-mana. Katanya ‘everybody else was taken so be yourself’. Tapi ada saja orang yang sering menyarankan hal sebalinya padaku. 
“Ri, kenapa kamu gak coba belajar make up juga, kan lumayan seperti temanmu si A, dia udah sukses. Dipanggil dimana-mana. Penghasilannya gede”,
atau 

“Ri, coba aja begini seperti di B. Daripada kamu gitu-gitu terus. Liat dong si itu”,

Kadangkala ada satu titik saat saya merasa begitu merasa bahagia karena bisa menjadi diriku sendiri. Saya bisa membuat pekerjaan yang saya suka mendatangi saya dengan rela. Saya bisa menarik teman yang cocok denganku dan saya juga bisa menjalin hubungan dengan lelaki yang sayang dan pantas untukku. Maksudku, kalau saya tidak menjadi diriku sendiri, bagaimana bisa ada yang menyukaiku apa adanya?

RI