I Pity Myself

This is going to be a quick post since less than 20 minutes, my evening class will be started.
I just can’t get this thought out of my mind.

I pity myself.
I pity myself not to have enough time to take care of my parents.
They are busy, so am I and I just can’t manage to only say “Hi” every morning. I hate that. I hate for the fact that I am sometimes not able to wake up to pray Subuh or to make tea for my sick mother and to my busy and old father. I hate that yet I do it every single day.

This morning I realized all these things and I drowned in regrets.

O dear God, I hope there will be enough time for me to take care of my parents in the near future.

RI

Kebakaran

Tadi malam kepala nyut-nyut kayak dipukul-pukul. Pas pulang kantor malah makin sakit dan rasanya gak mau naik ojek pulang. Jadi terpaksa minta K jemput di kantor. Dia datang sepuluh menit kemudian. 

Pas kelar makan malam di penjual bakso langganan, kita niat cari roti daging. Tapi karena udah dekat rumah, jadi aku bilang ke K klo ya udah pulang dulu aja. Pulang dulu taroh tas dan ijin sama Bapak kalo mau keluar lagi. 

Tapi pas uda mau dekat rumah, aku kaget karena banyaak banget orang berkumpul di sekitar rumahku. Kupikir ada kawinan, K pikir ada demo. Pas udah di depan rumah, aku turun dan nanya. 

Kenapa rame Bu?

Kebakaran tadi siang sekitar jam satu.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. 

Jadi di samping rumahku ada tanah lapang luaaas banget. Disitu tinggal sekitar 30 KK illegally. Mereka muncul gak tau darimana tiba-tiba bangun rumah disitu. Rumahnya dari papan, tripleks dan kayu. Jenis rumah yang emang bukan permanen. Mereka udah tinggal lama disitu, udah beranak pinak. Anak-anaknya banyak. Nah rumah-rumah inilah yang terbakar. 
Jarak rumah mereka ke rumahku itu cuma 30 meter dan kalau gak ada pohon tinggi dan jalanan kecil yang membatasi, bisa-bisa rumahku juga ikut hangus. 
Mama cerita kalau yang pertama kali liat api adalah tukang yang lagi kerja bangunan rumahku. Hal pertama yang dia lakukan adalah mematikan semua saklar listrik. Kemudian, dia teriak “Bu, kebakaran!”

Api menjalar cepaat banget sampai-sampai pas selang dan sumber air sudah nyambung, rasanya udah telat banget. Asap hitam membumbung di langit mengundang banyak orang. 

Mama di rumah sudah berhasil mengamankan barang-barang, buku-buku, pakaian, dipak dan dimasukin ke mobil. Mobil diparkir sejauh mungkin dari api.
Tapi emang kuasa Allah SWT, rumahku alhamdulillah gak kenapa-kenapa. Bahan bangunan yang disimpan di luar juga gak tersentuh api sedikitpun. Padahal angin berembus ke arah rumahku!

Terimakasih ya Allah, Engkau masih melindungi kami sekeluarga. 

RI

Tetap Diam

Tetap Diam*
oleh Pablo Neruda

Sekarang kita akan berhitung hingga dua belas
dan jangan bergerak.

untuk sekali saja di atas wajah Bumi,
mari tak berbicara dalam bahasa apapun;
mari berhenti selama sedetik,
dan tidak menggerakkan tangan terlalu banyak.

ini adalah momen yang eksotis,
tanpa gegas, tanpa mesin-mesin;
kita semua akan berkumpul bersama
dalam keanehan yang mendadak.

Nelayan dalam lautan yang dingin
takkan menyakiti seekor paus
dan lelaki pengumpul garam
akan memandangi tangannya yang perih.

orang-orang yang menyiapkan perang-perang hijau,
perang dengan minyak gas, perang dengan api,
kemenangan tanpa korban-korban yang selamat,
akan mengenakan pakaian bersih
dan berjalan bersama saudara-saudara lelaki mereka
dalam bayang-bayang, dalam diam.

apa yang kuinginkan jangan disalahartikan
dengan kemalasan menyeluruh.
Hidup adalah tentang hidup itu sendiri;
Saya ingin tak ada truk kematian.

Jika saja kita tidak begitu bertekad
untuk membuat hidup terus berjalan,
dan kita bisa diam,
mungkin kesunyian yang dalam
mampu menunda kesedihan ini;
kesedihan akan ketidakpahaman diri sendiri
dan kesedihan akan ancaman kematian.

Mungkin dunia dapat mengajarkan kita,
seperti saat segalanya terlihat mati
dan kemudian hidup kembali.

Sekarang saya akan menghitung hingga dua belas,
kau akan diam dan aku akan pergi.

*diterjemahkan secara bebas dari puisi Pablo Neruda berjudul “Keeping Quiet”
RI

Satisfy

A man  will never be satisfied with their life. 

Dan itu merepotkan sebab ada konsekuensi yang tidak terhindarkan, bahwa mereka, orang-orang yang tidak puas itu, selalu harus berusaha lebih keras dari orang kebanyakan. 

Mereka punya banyak keinginan yang tidak masuk akal. Mereka gak bisa stay still di satu tempat dan merasa bebas. Selalu ada pikiran buat get something bigger, do something more. 

This morning I just want to be an ordinary one. I wish I could. So I needn’t make my life more complicated. Please Ri, why can’t you stay in your zone now and wait  for something new to be happened? 

RI