Suara

Saya suka betul dengan suaranya Akbar di telepon. Suaranya adalah satu hal yang saya rindukan saat ini, saat-saat dimana saya dan dia tidak berada dalam satu kota, lalu tempatnya tak memiliki sinyal telepon yang bagus. Sehingga, percakapan telepon hanya berlangsung seminggu sekali. Sejauh ini setiap Kamis malam.

Masih untung ada wifi. Jadi masih bisa bertukar pesan lewat LINE.

Tapi tetap saja, chat berbeda dengan telepon. Saya tak bisa mendengar suaranya dalam pesan teks.

Tadi malam, kami bertelepon setelah saya mendesaknya meneleponku. Saat itu dia chat, “aku lagi antar pasien ke RS. Pulang dari sini kutelpon ya”.

Empat puluh menit setelahnya teleponku berdering dan kami mengobrol selama sejam.

“Saya hampir lupa suaramu”, kataku.

Setelah menutup telepon, saya baru menyadari betapa saya merindukan dan menyukai suaranya. Entahlah, mungkin karena saya cinta atau apa. Suaranya khas, menenangkan dan nyaman di telingaku. Suaranya membuatku betah menempelkan telepon di telinga, membuatku tak ingin mengakhiri obrolan. Membuatku selalu ingin memberitahunya “aku sayang padamu“, lalu dia akan mengatakan hal yang sama belasan kali sebelum akhirnya menutup telepon.

Ri

Advertisements