Panas Tubuh

Hari ini entah kenapa, saya tidak punya nafsu untuk makan apapun. Kalian tau rasanya? Itu seperti sesuatu membuatmu tidak merasa lapar, sesuatu membuatmu merasa bahwa kau tidak butuh makan. Haha penjelasan yang hebat, bukan?

Alhasil, bekal makan yang dibuatkan Mama, bersisa banyak sekali. Saya menyesal. Perutku tidak mampu menampung makanan. Bahkan mulutku tidak ingin mengunyah apapun lagi.

Di kamar, sambil tidak melakukan apapun, saya sadar saya berkeringat banyak sekali. Tiba-tiba saya ingin saja menulis. Saya bisa menyalakan kipas untuk menyejukkan tubuhku yang panas, tapi saya enggan. Seperti enggannya saya makan.

Belakangan ini, saya mulai pasif di sosial media. Saya sering berpikir untuk menutup semuanya, atau tak mengapdet lagi apapun tentang hidupku. Saya juga sudah sangat kurang bercerita apapun ke teman siapapun. Saya cenderung lebih memilih sendiri. Sedih sendiri. Kadang saya hanya membaginya dengan Tuhan saat bertemu. Terapi yang baik, kau tahu? Berbicara tanpa henti tentang semuanya, menangis dan tertawa, dan tak ada yang membalas dan menjawab apapun. Tapi Tuhan Maha Mendengar. Saya yakin. Dia tau semuanya. Kucurahkan semua pada-Nya.

Perkara dengan sosial media dan teman kadangkala membuatku merasa muak. Tak ada yang begitu penting menurutku untuk dibagikan dengan orang-orang yang bahkan tak pernah menanyakan kabarmu. Membunyikan teleponmu. Hanya karena semuanya terlihat dan terpapar jelas di Instagram, Facebook, dan yang lain, tak ada lagi yang penasaran dengan jawaban "are you feeling okay?" "how are you?".

Yang penting hanyalah, seberapa banyak kau bisa mengepos tentang hidupmu yang bahagia. Membuat orang lain merasa ingin bernasib sama bahagianya denganmu. Berkunjung ke tempat yang seindah itu, memiliki kekasih yang sesempurna itu, memiliki pakaian dan sepatu yang bermerk seperti itu.

Saya, hanya tetap menulis, mengepos blog yang saya tau tak ada yang membacanya. Menulis panjang, pendek, apapun yang kusuka.

Tahun ini, beberapa hari menjelang umurku ke-29, saya hanya ingin menikah dengan orang yang saya cinta. Dan saya tau, tak ada yang mampu membantuku kecuali nasib baik dan izin dari Tuhan.

Ri

Advertisements

Masa Depan

Tadi sore, salah satu teman di Facebook bernama JH membagikan foto-foto Prof I dan istrinya yang sedang berlibur di desa kecil di Jepang. Dia menulis beberapa baris catatan tentang foto itu. Betapa pasangan itu masih saling menyayangi dan menjaga satu sama lain padahal usia pernikahannya sudah lama sekali.

Kemudian entah, saya mengangankan bisa seperti itu kelak berdua denganmu. Menikmati hari tua dengan berlibur di suatu tempat dan mengabadikannya dalam beberapa potret wajah kita saling tersenyum dengan pemandangan yang indah di latar belakangnya.

Temanku itu mengutip kata-kata istri Prof itu dan menceritakan betapa sabarnya ia menemani suaminya sejak awal hingga sekarang.

Dan betapa di belakang laki-laki yang berhasil, ada seorang perempuan yang juga tak kalah hebatnya. Perempuan yang sabar, yang kuat dengan cinta yang besar yang tampaknya tak pernah habis.

Sayang,
saya bermimpi kelak kita bisa seperti itu. Atau bahkan lebih dari itu. Saya tahu kita bahkan belum memulainya. Tapi membayangkan kita akan hidup bersama-sama di satu titik dalam hidupku, membuat hatiku bahagia hingga jauh sekali menembus awan.

Saya bukan seseorang yang punya ambisi dan mimpi ingin menjadi seseorang yang kaya atau terkenal atau sebutlah semuanya. Sejak bertemu denganmu, saya hanya berharap bisa menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu lalu kita hidup bahagia sampai dunia berakhir. Tapi kusadari kemudian bahwa itu bukan cita-cita yang kecil. Bagiku, itu adalah mimpi yang besar.

Sekarang dan seterusnya, mari tetap saling memberi kekuatan. Sebab mencintai butuh kesabaran dan kesabaran butuh kekuatan.

Ri

2018

Setiap orang memiliki kegilaannya sendiri-sendiri. Beberapa orang yang tidak merasa gila, kemudian memberi kategori-kategori kegilaan orang lain. Untuk apa? Agar mereka merasa sedikit gila dari sebenarnya?

Pagi ini di hari kedua tahun 2018, saya terbangun pukul 5 lewat 15 karena suara lantang tadarus Mama. Padahal semalam saya tidur hampir pukul 2. Setelah sholat subuh, saya tidak bisa melanjutkan tidur dan terjaga hingga sekarang.

Saya membuka tirai dan jendela kamar, membiarkan udara pagi yang selama 2 minggu lebih liburan di rumah, jarang lagi saya hirup karena keseringan bangun siang.

Belum ada satupun orang rumah yang bangun waktu begini. Kelihatannya saya mau yoga, sarapan, mandi, dhuha lalu tidur lagi hingga dhuhur. Saat bangun saya mau melanjutkan drama korea “It’s Okay It’s Love” karena stok film baru yang kucopy dari Dini hanya sisa itu yang belum kunonton.

Tidak lama lagi libur berakhir dan saya akan mulai kerja lagi hingga libur selanjutnya di Maret dan April.

Semoga ada rejeki bisa jalan-jalan tanpa pakai uang sendiri nanti.

Aamin

RI