Perempuan Peragu

Saya tidak mengingat banyak hal yang telah lalu. Kadang saya terkejut betapa banyaknya hal yang terjadi namun tidak terekam di kepalaku.

Namun, malam ini saya ingat satu momen malam itu. Saat bertelpon dengan Kak Aan dan entah kenapa di tengah-tengah pembicaraan saya bilang kalau saya ingin mengetes tombol mute. “Apakah kalau saya menekan tombol ini kamu tidak bisa mendengar suaraku?”

Dan ternyata tentu saja kita sudah tau jawabannya.

Kemudian Kak An bilang, “Ri, jelas-jelas disitu sudah tertulis ‘mute’ dan kau masih mau mencoba apakah itu benar-benar membuat suaramu tidak terdengar?”

Saya orang yang peragu. Ochank, sahabatku sejak SMP, mengatakan sifat itulah yang paling dia tidak suka dariku.

Saya tidak mudah percaya dengan apapun. Saya bahkan seringkali cenderung ingin membuktikan bahwa semua orang mengatakan kebohongan. Semua bohong sampai hal tersebut terbukti benar.

Kutau sifat ini sangat sulit untuk ditangani. Utamanya saat saya menjalin suatu hubungan dengan seseorang. Sebab menjalin hubungan adalah mempercayai, saling percaya. Saya harus menyerahkan perasaanku dan meyakini bahwa laki-laki ini takkan menyakitiku.

Tapi karena itu adalah sifat dasar, jadi saya merasa kesulitan.

Kenapa saya harus mempercayakan perasaanku pada seseorang? Bagaimana saya tahu mereka takkan menipuku? Apa yang bisa menjamin yang dia katakan adalah benar dan akan selamanya benar?

Ri

Advertisements

Menjadwalkan Tertawa

Hari ini sudah berapa kali kamu tertawa?
Hari ini saya belum tertawa sama sekali dan aduhai saya malah menulis tentang itu.

Kemarin saya bertemu dengan Geng Macora. Umroh, Arga dan Vby. Kami mendiskusikan banyak hal hingga magrib. Di salah satu perbincangan, saya jadi tau kalau saya bukan satu-satunya orang yang butuh tertawa dan butuh didengarkan.

Kami semua butuh teman dan tertawa dan disanalah kami kemarin, bertemu dan mengobrol.

Vby bilang alangkah leganya perasaannya bertemu dengan kami, beban masalahnya jadi terasa lebih ringan.
Arga pun bilang di rumah dia tak punya siapapun untuk berbicara dan dia sudah lupa kapan terakhir kali dia tertawa lepas.
Saya pun mengatakan hal yang sama. Tapi saya sedikit lebih beruntung, sebab saya punya dua ponakan yang lucu dan cukup bisa mengobati kesepian saya akan tawa dan teman.
Umroh tidak mengatakan apapun. Tapi saya tau dia pun merasa hal yang sama dan mungkin lebih berat dari kami, sebab ayahnya sakit keras dan harus menjalani pengobatan di rumah sakit sejak didiagnosis dua tahun yang lalu.

Kami berempat berbagi rahasia kecil, mimpi dan opini masa depan. Kupikir pertemuannya cukup produktif. Vby, sang chef, memasak Mozarella Chicken yang enak dan membuatkan kami Teh Hijau Sencha dari Jepang.

Kupikir semakin dewasa seseorang, maka hidup terasa semakin rumit. Tertawa menjadi hal yang sulit. Kalau tidak dijadwalkan, mungkin kita takkan pernah lagi tertawa! Mengerikan bukan?

Ri

Tawa Ubay

Tawa Ubay layaknya masa lalu yang jauh, yang ternyata kurindukan namun baru kusadari.
Lesung pipi dan suaranya yang menggemaskan membuat hatiku terbang dibawa kebahagiaan.

Tawa anak kecil laksana mesin waktu, yang tak mampu kita kendarai, sebesar apapun keinginan kita untuk merasakan rasa bahagia yang murni, rasa yang belum terluka oleh waktu.

Tawa Ubay memberiku alasan untuk larut dalam kepolosannya, keriangannya dan betapa mudahnya dia dibuat tertawa bahkan hanya dengan sekedar cilukba.

Tawa Ubay membuatku ingin mencintai orang-orang lebih banyak. Bahkan jika itu berarti saya harus memberi dan berkorban lebih besar.

Apa yang lebih menakjubkan dari cinta? Apa yang lebih indah dari menyayangi orang yang mencintai kita dengan dalam?

Either I will find someone who I love or I will be found by someone who loves me more. and treats me a lot better. Someone who is worth all my time waiting. Insha Allah.

Ri

Waktu

Ada masa dimana saya begitu excited akan masa depanku. Akan jadi apa saya nanti, dengan siapa nanti saya menikah, apakah mimpi-mimpiku akan terwujud dan sebagainya. Masa depan yang jauh dan misterius itu kudekati dengan bergairah dan penuh optimisme. Masa depanku pasti cerah!

Namun begitu mendekati 30 tahun, gairah itu memudar dan tergantikan oleh kekhawatiran. Excitement itu tergantikan oleh ketakutan. Sebab, belum satupun rencana dan mimpi didekap Tuhan.

Berkali-kali aplikasi beasiswa gagal, hubungan asmara yang kandas, perjalanan karir yang begitu begitu saja dan kondisi fisik yang menurun.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Setiap detik yang berlalu rasanya salah. Rasanya begitu tersiksa mengetahui waktu berjalan semakin cepat.

Tapi seperti yang kukicaukan di Twitter,
Kenapa kita mencemaskan hal-hal yang begitu jauh sedangkan belum tentu umur kita sepanjang itu?

Jangan khawatir, Ri. Fear no more. Ada Allah. Allah is near. Allah is always be with you.

Ri