Perempuan Peragu

Saya tidak mengingat banyak hal yang telah lalu. Kadang saya terkejut betapa banyaknya hal yang terjadi namun tidak terekam di kepalaku.

Namun, malam ini saya ingat satu momen malam itu. Saat bertelpon dengan Kak Aan dan entah kenapa di tengah-tengah pembicaraan saya bilang kalau saya ingin mengetes tombol mute. “Apakah kalau saya menekan tombol ini kamu tidak bisa mendengar suaraku?”

Dan ternyata tentu saja kita sudah tau jawabannya.

Kemudian Kak An bilang, “Ri, jelas-jelas disitu sudah tertulis ‘mute’ dan kau masih mau mencoba apakah itu benar-benar membuat suaramu tidak terdengar?”

Saya orang yang peragu. Ochank, sahabatku sejak SMP, mengatakan sifat itulah yang paling dia tidak suka dariku.

Saya tidak mudah percaya dengan apapun. Saya bahkan seringkali cenderung ingin membuktikan bahwa semua orang mengatakan kebohongan. Semua bohong sampai hal tersebut terbukti benar.

Kutau sifat ini sangat sulit untuk ditangani. Utamanya saat saya menjalin suatu hubungan dengan seseorang. Sebab menjalin hubungan adalah mempercayai, saling percaya. Saya harus menyerahkan perasaanku dan meyakini bahwa laki-laki ini takkan menyakitiku.

Tapi karena itu adalah sifat dasar, jadi saya merasa kesulitan.

Kenapa saya harus mempercayakan perasaanku pada seseorang? Bagaimana saya tahu mereka takkan menipuku? Apa yang bisa menjamin yang dia katakan adalah benar dan akan selamanya benar?

Ri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s