Rencana Tuhan

Belakangan, di dua bulan pernikahan kami, saya sering flashback ke masa lalu. Saya merenungi dan berusaha menghubung-hubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Biasanya renunganku akan berujung pada bagaimana saya dan suami akhirnya bersama-sama. Dan betapa jalan tersebut adalah salah satu hal yang paling saya syukuri.

Tentu saja itu bukan kebetulan. Jodoh ada di tangan Tuhan. Betapa jauhnya garam dan asam berasal, akhirnya mereka toh bertemu juga di panci dapur kita. Betapa besarnya usaha kita untuk bersama seseorang, jika mereka bukan jodohmu, pasti ada saja jalan agar kalian tidak bersama, begitu pula sebaliknya.

Suamiku, Lam, adalah orang yang baik. Saya sering sekali terharu dengan perhatian kecil dan kasih sayangnya. Saya tahu dia mencintai saya segenap jiwa. Saya tahu saya mencintainya segenap raga. Saya merasa Tuhan mencintai saya sebab Dia menakdirkan saya menjadi istri Lam.

Keputusan kami menikah bukan perkara mudah dan cepat. Kami terpisah jarak dan enam tahun itu bukan waktu yang kau habiskan begitu saja tanpa ada orang lain singgah di hidupmu, bukan?

Tapi Lam yakin, meskipun segalanya, suatu saat, saya akan bersama dia.

Saya senang sekali menatap lekat wajah Lam saat dia tidur di sampingku. Bernapas, mendengkur atau kadang mengigau. Kadang dia gelisah, kupeluk dia sampai tenang. Kusapu rambutnya. Kucium pipinya. Kupastikan agar dia nyaman. Hingga dia tertidur.

Betapa dia adalah suami yang bertanggung jawab dan pengertian adalah anugerah yang sangat kusyukuri. Dia mengutamakan kebahagiaanku, kecukupanku, kebutuhanku. Memang belum bisa dia berikan semua yang kuinginkan, tapi dia selalu berhasil menenangkan hatiku dan hal-hal yang kurang darinya, menguap begitu saja.

Kadang saya merenung kejadian di masa lampau. Mengapa begini, mengapa begitu, mengapa yang ini harus terjadi dulu. Saya belum paham alasannya, jawabannya. Tapi apapun itu, saya percaya, saya yakin. Bahwa apapun itu, adalah rencana Tuhan.

Dan rencana Tuhan adalah yang paling baik.

Ri

Berumah Tangga

First of all, happy new year 2019! Can you believe it’s already January 2019? Time runs really fast, doesn’t it?

Okay,
It’s been 2 weeks since I have arrived here in Jakarta. My Mom and Dad accompanied me coming here to see my rented house that I’m going to live in with my husband, Lam. They came back last Sunday to Makassar. I was a bit worried and terrified at first, knowing the fact that I wasn’t going to be in one roof with them anymore.

However, Lam has been a really wonderful husband that anyone has ever asked for. He is so understanding, so kind, so helpful, so loving and he talks gently at me. He works as hard as horse every morning till evening. And when he comes home, after we have dinner together, he plays Mobile Legend for hours. I can’t complain. I don’t want to, either.

How about me?
I’m trying to survive. I cook, I take care Lam’s clothes, I prepare him meals, I clean our house, I do the dishes, I eat, I watch movies, I write, I read, and I look for a job. In Jakarta, everybody is looking for a living. I can’t annoy Lam when he’s at work. Sometimes I am bored as hell, sometimes I cry for homesick. But what can I say? That’s the life I am living now. I have to make my own new comfort zone. I have to be here supporting my husband. I have to be useful at least for him because that’s what a wife should do, beside her husband. Nowhere else.

Ri