2 Years Ago

2 years ago today Akbar and I decided to be together.  
this has just been my longest ride with someone. 

the memories flooded. 

everything, every single moment.

a good and bad ones.

the laughters, jokes, the endless discussion, hugs, holding hands, sweet words, kisses, dining in a restaurant, watching movies, visiting bookstores, coffee shop, parents meetups, wedding attendees, caressing your hair in the backseat of the car. 

our fighting, jealousy, broken promises, tears and screaming in the middle of the night, lies and confession, sickness, failures, hours and hours of studying and working, boredom, exhaustion.
No one knows what’s ahead of us, but hopefully we can be together in the future, make a family, have children, live in a house, enjoy the holidays and trips. 
Insyaallah 

Ri

Blend In

It’s been 6 months I’ve been working in school and I still feel don’t belong to it. I got these complicated coworkers and sometimes I feel get left behind. I feel unwanted. 

Today I didn’t go to school. I informed them about it and they didn’t respond even only with “okay”. 

This is the first time and the first place I feel difficult to blend myself in. Everybody has already got everyone and they don’t want to take anyone new to join in. 

They never feel like to inform me about anything. I have to ask, I have to know by myself, I have to find out by my own. Nobody wants to try to getting closer to me, nobody wants to joke or something. Everything is so formal and strict. They only joke around with their friends and I don’t understand which part the funny sides.

It’s been 6 months and I don’t have a friend. 

I wish everything will be different in a year. 

Ri

Suara

Saya suka betul dengan suaranya Akbar di telepon. Suaranya adalah satu hal yang saya rindukan saat ini, saat-saat dimana saya dan dia tidak berada dalam satu kota, lalu tempatnya tak memiliki sinyal telepon yang bagus. Sehingga, percakapan telepon hanya berlangsung seminggu sekali. Sejauh ini setiap Kamis malam.

Masih untung ada wifi. Jadi masih bisa bertukar pesan lewat LINE.

Tapi tetap saja, chat berbeda dengan telepon. Saya tak bisa mendengar suaranya dalam pesan teks.

Tadi malam, kami bertelepon setelah saya mendesaknya meneleponku. Saat itu dia chat, “aku lagi antar pasien ke RS. Pulang dari sini kutelpon ya”.

Empat puluh menit setelahnya teleponku berdering dan kami mengobrol selama sejam.

“Saya hampir lupa suaramu”, kataku.

Setelah menutup telepon, saya baru menyadari betapa saya merindukan dan menyukai suaranya. Entahlah, mungkin karena saya cinta atau apa. Suaranya khas, menenangkan dan nyaman di telingaku. Suaranya membuatku betah menempelkan telepon di telinga, membuatku tak ingin mengakhiri obrolan. Membuatku selalu ingin memberitahunya “aku sayang padamu“, lalu dia akan mengatakan hal yang sama belasan kali sebelum akhirnya menutup telepon.

Ri

Pertemuan

Jangan pernah mengira kalau kamu bertemu dengan orang tanpa sebab. Jangan pernah menyalahkan nasib buruk pada Tuhan, sebab hanya Dia lah yang Maha Tahu rancangan hidup kita. Baik buruk untuk kita. Kita tak tahu apapun. 
Kenapa saya dulu lulus belajar bahasa inggris ke Amerika dengan beasiswa? 

Sebab sekarang saya menggunakan bahasa inggris untuk bekerja. Ternyata hari ini saya akan mengajar dengan skill bahasa inggris itu, skill yang kuperoleh 7 tahun yang lalu. Apakah dulu saya tau kalau akan begini? Tidak. Saya hanya menerima kado dari Tuhan. 

Kenapa Tuhan dulu memberi saya sakit? 
Sebab tak ada hal yang akan membuat saya pulang ke Makassar selain karena itu. Saya terlalu keras kepala untuk pulang karena terlalu penasaran dengan Jakarta. Hal yang kemudian saya alami adalah bertemu dengan Akbar. Dan sekarang, lihatlah sekarang. Kami saling mengubah hidup masing-masing. 

Hal-hal yang belum saya pahami dulu, sekarang jadi jelas benderang. Tuhan mengarahkan, menegur, memberi kesempatan, melatih kesabaran, menguji keyakinanku. Sekarang, hati saya lebih lapang. Saya mungkin masih akan mempertanyakan hal-hal lain di kemudian hari. Namun saya akan paham bahwa itu untuk suatu titik di masa depan, yang saya belum bisa hubungkan ke titik mana. 

Ri

Gratitude

terimakasih sayang sudah kasi kelar koas ta, ujian-ujian ta. 

alhamdulillah

macam selesai mi tugasku support ki di episode hidup ta yang ini. 

semoga lulus ki, insyaallah, bagus hasilnya, bagus nilai ta. 

semoga bisaki yudisium bulan depan trus lanjut wisuda juga setelahnya. 

aamin.
terimakasih, Tuhan. 

sudah bantu Akbar selesaikan sekolah profesinya. 

tidak bisa kalau tidak dengan bantuan-Mu. 

Ri

20/05/2017

Relationship

Kalau ada satu topik yang saya paling senangi tulis, pikir dan bahas itu adalah tentang hubungan lelaki dan perempuan.

 
Saya bahkan subscribe beberapa mailing list dari coach tentang misalnya, How to Get Your Ex Back, atau How If He Is Not Into You, Signs That He Loves You, hal-hal semacam itu. Saya selalu penasaran tentang laki-laki, apa yang dipikirkannya, apa yang mereka rasakan tentang perempuan yang mereka cinta dan tidak. 

Mungkin itu karena Akbar. Saya selalu mau tau isi kepalanya. Isi hatinya. Tentang saya. Tentang hubungan kami yang sudah berjalan selama dua tahun. 
Kadang jika ada rasa ragu, saya lalu mengingatkan diri sendiri bahwa dia tidak mungkin tidak serius ingin bersama-sama, sebab dia sudah memberanikan diri untuk datang ke rumah dan bicara soal komitmen pernikahan kami ke Mama. 

He loves me. 

And I love him.
Ri

Perkara Pelukan

Memeluk seseorang yang belum menjadi pasangan kita secara halal, butuh keberanian. Apalagi kalau mau dilakukan di tempat umum. 

Saya sering sekali menahan keinginan memeluk Akbar hanya karena perkara belum boleh, dan malu dilihat orang. 

Namun ada beberapa momen saya ingat memeluknya dengan segenap perasaan. 

Seperti misalnya saat mengantar dia pulang ke Ternate beberapa bulan yang lalu di tahun ini. Dia berangkat pagi-pagi. Kita naik gocar ke bandara. Saya membuatkannya bekal nasi goreng dan ikan pepes. Dia bilang mau makan dulu sebelum masuk check-in dan dia mau ditemani. Pas di bandara, kita ke Starbucks. Akbar makan dengan lahap. Enak sekali, kata dia sambil makan. Saya bahagia sekali padahal cuma liatin dia makan bekal yang saya bawakan. 

Di gerbang keberangkatan, saya akhirnya berhenti dan bilang, saya cuma bisa antar sampai disini. Trus dia pamit dan dia memelukku. Saya mencium pipi kanannya. Disitu kita tidak perlu khawatir terlihat banyak  orang sebab semua orang juga paham perpisahan dengan masing-masing orang yang diantarnya. Saya ingat saya memeluknya dan begitulah, rasanya nyaman sekali, kalian tahu kan, memeluk orang yang kalian sayangi. 

Lalu seperti juga malam itu, sehabis nonton Fantastic Beasts and Where to Find Them. Kita bertengkar. Dia punya janji temu yang dia batalkan karena saya bikin agenda lain tanpa bilang dia dulu. Saya marah, dia marah. Saya ngambek dan bilang mau pulang naik angkot saja. Dia mengejar. Saya tidak mau. Dia marah lagi dan bilang, “ya sudah kita gak usah ketemu lagi”. Saya akhirnya mengalah dan mengejar dia balik. Trus saya memeluk dia di tengah-tengah parkiran sambil bilang, “maaf”. Dia luluh dan akhirnya ajak balik bareng. Disitu saya benar-benar takut sekali dia bilang pisah hanya karena marah sebentar. Pas di jalan, kita akhirnya bisa ketawa-ketawa lagi dan lupa persoalan tadi. Saya ingat saya memeluknya, melingkarkan tanganku di lehernya sambil jinjitan karena gak sampe. 

Malam ini, Akbar ke rumah bawain kotak makanku setelah dia kelar jaga di klinik. Pas mau balik, saya peluk dia. Tapi rasanya canggung sekali karena dia gak mau dipeluk. Dia bilang, “ada Shandy, gak enak diliatin”. Jadi, saya cuma bisa ngambek. 

Perkara memeluk ini mungkin akan seperti ini terus, hanya akan terjadi di momen-momen yang “besar”. Kau tahu perempuan suka sekali dipeluk, apalagi di saat-saat mereka membutuhkannya. 

Lagipula, Akbar itu ya, bukan laki-laki yang suka nyosor. Saya yang biasanya gemes. Dia ini sayang gak sih? Tapi dia sayang kok, cuma dia gak suka sayang pake cium apa peluk gitu. Dia cuma kerja dan belajar. Dia bilang, “tungguin saya selesai, Ri. Saya mau bikin kamu bahagia jadi saya harus kerja keras. Saya mau kita sama-sama terus”, 

Akbar baru saja chat line, dia udah di asrama dan langsung mau istirahat. 
So sekian ceritanya, good night. 

Ri