Demam

Saya baru pulang dari trip Ijen-Bromo beberapa hari yang lalu. Sekarang, saya terbaring lemah di kasur, merasakan panas tubuhku semakin tinggi. Saya kena demam.

Seumur hidup, sebelum Ijen dan Bromo, saya hanya pernah hiking di satu tempat, yaitu di Grand Canyon, US.

Semalam, saya mengirim email ke mantan pacar dan saya berakhir dengan membaca percakapan kami di email yang kami kirim di masa lalu yang jauh.

Salah satunya adalah saat saya bercerita padanya tentang pendakian ke Grand Canyon itu.

Saya menulis bahwa disana sangat indah, dan betapa susahnya bagi saya untuk mendaki dan menuruninya. Namun saya tetap keukeuh melakukannya.

Sepulang dari Grand Canyon, saya meringkuk di kamar hotel dan tidak bisa menyaksikan sunset karena badanku demam.

Di email dia mengatakan bahwa hanya kita yang tau sampai mana batas kemampuan fisik kita. Dan betapa saya sering sekali melewatinya.

Saya sudah lupa bahwa perjalanan saya selama dua bulan di Amerika saat itu, terekam pula di email-email yang kami kirimkan. Dan betapa saya dan dia sebenarnya tak pernah benar-benar kehilangan kontak meskipun kami tidak lagi bersama-sama.

Ri

Advertisements

Perasaan

Siapa yang mengatur perasaan kita sesungguhnya? Apakah kita yang memiliki hati kita? Ataukah Tuhan yang mengendalikannya sebab Dia Maha Memiliki dan Maha Kaya sedangkan kita hanya seperti debu.

Memutuskan menikah adalah perkara yang paling besar yang kuambil selama 29 tahun umurku. Dan saat ini, laki-laki yang mengajakku untuk menghabiskan sisa hidup bersamanya adalah laki-laki yang paling tidak kuduga kedatangannya.

Kupikir takkan ada perasaan yang tumbuh untuknya. Kupikir akan canggung segala apa dengannya.

Tapi disinilah saya, menemukan diriku menulis ini sambil merasakan ada kupu-kupu dalam perutku setelah bertelpon dengannya sekian jam.

Saya tak punya rencana akan seperti ini. Saya hanya mengikuti arusnya. Jika memang jodoh, insya Allah dimudahkan.

Ri

Hidup Mengikuti Arus

Saya sering merasa terkesima dengan pencapaian-pencapaian teman-temanku. Apalagi kalau melihat sosial media.

Ada yang sudah selesai S2 di luar negeri dengan sederet prestasi.
Ada yang sudah menikah dan punya anak tiga.
Ada yang sudah keliling dunia.

Trus aku mah apa atuh?

Mimpi pun saya tak punya.

Dulu sekali, saya punya satu keinginan. Saya mau menikah dengan laki-laki yang bersamaku, yang setengah mati kucintai. Membangun keluarga bersamanya.
But he left me.

Jadi mimpiku pun hilang dengan kepergiannya.

Kalau kurunut ke belakang, mimpi itu juga ada karena dia hadir di dalam hidupku. Jadi kalau dia tidak ada, saya tidak berkeinginan seperti itu juga.

Waktu masih mahasiswa, saya tidak punya ambisi ke USA. Tapi Allah SWT kasih rejeki. Tiba-tiba dosen kasih tau ada IELSP, tiba-tiba ada uang buat tes TOEFL (walaupun pinjam uang teman), kebetulan skor cukup buat daftar beasiswa, dan kebetulan lulus.

Waktu kerja jadi jurnalis di Jakarta, mana pernah saya mimpi ke China jadi perwakilan Indonesia? Tapi Allah SWT kasih rejeki. Tiba-tiba sms teman masuk ke hape "Ri, mau ke China gak?" Dan kebetulan sekali, waktu itu saya jadi wartawan mingguan, jadi bisa stok berita untuk seminggu trus berangkat. Kalau waktu itu ngepos di Warta Kota pasti kantor gak ijinkan.

Jadi sebenarnya, saya itu tidak pernah berencana apa-apa.

Jadi guru sekarang pun, saya tidak pernah mau, atau mimpi, atau ambisi dari kecil. Tidak pernah.
Tapi Allah SWT kasih rejekinya dari mengajar. Jadi saya manut saja.

Saya ternyata hidup mengikuti arus. Apapun yang dikasih, saya terima, saya berusaha jalani dengan ikhlas dan bahagia.

Kalau misalkan besok, dikasih rejeki liburan ke Bali, itupun bukan saya mau atau saya rencanakan. Tiba-tiba ada saja kesempatan dan rejeki. Alhamdulillah, dikasih waktu dan uangnya.

Trus kalau misalkan lagi besok dikasih kesempatan liat keajaiban Blue Fire di Ijen, itu tidak pernah saya mimpi, angan-angan kesana. Alhamdulillah kalau dikasih rejeki sama Allah.

Apakah hidup dengan rencana itu lebih baik dibandingkan mengikuti arus? Apakah hidup dengan rencana-rencana itu akan lebih bahagia karena kita punya tujuan?

Entahlah.

Ri

Kejanggalan-Kejanggalan

Kemarin, driver GoJek ku berhenti di sebuah warung makan untuk berteduh dari hujan. Dia tidak membawa jas hujan dan apapun untuk melindungi handphonenya.
Saya menolak berhenti karena sudah hampir magrib, badan capek sekali dan tinggal beberapa ratus meter lagi sudah sampai rumah.
Tapi drivernya tetap tidak mau melanjutkan perjalanan dan minta agar saya mengerti kondisinya.
Saya marah dan membayarnya. Mungkin karena sudah capek juga, mood nda bagus. Pas drivernya tawarkan saya topup GoPay, saya jawab, "tidak mau, karena saya tidak diturunkan di rumah". Drivernya terkejut mendengar jawabanku dan akhirnya mulai marah juga. Saya bilang tidak usah marah, Pak. Dan saya langsung pergi dari hadapannya, mencari atap lain untuk berteduh.
Saya menelpon orang rumah minta dijemput. Bapak suruh saya menunggu.
Lima menit kemudian, Bapak belum muncul. Hujan sudah reda. Driver GoJek itu menghampiri saya dan menawarkan kembali jasanya untuk membawa saya ke rumah. Saya, tanpa menoleh, menggelengkan kepala dan memintanya pergi.
Akhirnya Bapak datang.
Sampai di rumah, saat saya mau memberi penilaian performance pada driver Gojek itu dengan bintang yang tidak penuh 5, sesuatu yang janggal terjadi: kotak dialog penilaian tidak muncul-muncul.
Setelah menunggu beberapa saat dan tak terjadi apapun, saya menyerah dan berpikir mungkin drivernya melakukan sesuatu pada orderan saya supaya saya tidak bisa menilai dia. Apapun itu, untunglah. Saya berhasil tidak berbuat jahat. Jika saja kotak nilai muncul, saya pasti kasih dia bintang 1. Dan tentu itu akan berdampak sama performance dan tentu saja gaji hariannya.

Hari ini, saat saya memeriksa mutasi rekeningku, kejanggalan terjadi. Data penarikan yang tertulis tidak sesuai dengan jumlah uang yang adek ambil semalam.
Saat saya menanyainya, dia insist dia benar dan data salah. Tapi pas saya tanya ke teman yang bekerja di bank, data mutasi tidak akan pernah salah.
Saya tidak tau mau percaya siapa. Satunya manusia, satunya komputer.
Ini bukan masalah jumlah uang yang hilang, hanya saja saya tidak tau saja kenapa kejanggalan ini terjadi.

Ri

At Night

Night is the scary thing. The moment when I rarely do something but looking at my bedroom's ceiling thinking, daydreaming.
And the most thing I hate to think of but apparently the most often, is about you.
How you left me.
How precious our time together in the past was.
How sweet your promises were.
But still, all of them are not enough to make you stay.
By my side.

Why am I such a fool when it comes to you?
I hate myself.
I wish Allah SWT grants me the man who is hundred times better than you.
(and I can't believe what I've just wished it's true from my heart because after all this time I've been wanting you to come back. God knows I want you only – how sad it is- I know it's only a wishful thinking)

Maybe I'm just too tired.

Ri

Perempuan Peragu

Saya tidak mengingat banyak hal yang telah lalu. Kadang saya terkejut betapa banyaknya hal yang terjadi namun tidak terekam di kepalaku.

Namun, malam ini saya ingat satu momen malam itu. Saat bertelpon dengan Kak Aan dan entah kenapa di tengah-tengah pembicaraan saya bilang kalau saya ingin mengetes tombol mute. “Apakah kalau saya menekan tombol ini kamu tidak bisa mendengar suaraku?”

Dan ternyata tentu saja kita sudah tau jawabannya.

Kemudian Kak An bilang, “Ri, jelas-jelas disitu sudah tertulis ‘mute’ dan kau masih mau mencoba apakah itu benar-benar membuat suaramu tidak terdengar?”

Saya orang yang peragu. Ochank, sahabatku sejak SMP, mengatakan sifat itulah yang paling dia tidak suka dariku.

Saya tidak mudah percaya dengan apapun. Saya bahkan seringkali cenderung ingin membuktikan bahwa semua orang mengatakan kebohongan. Semua bohong sampai hal tersebut terbukti benar.

Kutau sifat ini sangat sulit untuk ditangani. Utamanya saat saya menjalin suatu hubungan dengan seseorang. Sebab menjalin hubungan adalah mempercayai, saling percaya. Saya harus menyerahkan perasaanku dan meyakini bahwa laki-laki ini takkan menyakitiku.

Tapi karena itu adalah sifat dasar, jadi saya merasa kesulitan.

Kenapa saya harus mempercayakan perasaanku pada seseorang? Bagaimana saya tahu mereka takkan menipuku? Apa yang bisa menjamin yang dia katakan adalah benar dan akan selamanya benar?

Ri

Menjadwalkan Tertawa

Hari ini sudah berapa kali kamu tertawa?
Hari ini saya belum tertawa sama sekali dan aduhai saya malah menulis tentang itu.

Kemarin saya bertemu dengan Geng Macora. Umroh, Arga dan Vby. Kami mendiskusikan banyak hal hingga magrib. Di salah satu perbincangan, saya jadi tau kalau saya bukan satu-satunya orang yang butuh tertawa dan butuh didengarkan.

Kami semua butuh teman dan tertawa dan disanalah kami kemarin, bertemu dan mengobrol.

Vby bilang alangkah leganya perasaannya bertemu dengan kami, beban masalahnya jadi terasa lebih ringan.
Arga pun bilang di rumah dia tak punya siapapun untuk berbicara dan dia sudah lupa kapan terakhir kali dia tertawa lepas.
Saya pun mengatakan hal yang sama. Tapi saya sedikit lebih beruntung, sebab saya punya dua ponakan yang lucu dan cukup bisa mengobati kesepian saya akan tawa dan teman.
Umroh tidak mengatakan apapun. Tapi saya tau dia pun merasa hal yang sama dan mungkin lebih berat dari kami, sebab ayahnya sakit keras dan harus menjalani pengobatan di rumah sakit sejak didiagnosis dua tahun yang lalu.

Kami berempat berbagi rahasia kecil, mimpi dan opini masa depan. Kupikir pertemuannya cukup produktif. Vby, sang chef, memasak Mozarella Chicken yang enak dan membuatkan kami Teh Hijau Sencha dari Jepang.

Kupikir semakin dewasa seseorang, maka hidup terasa semakin rumit. Tertawa menjadi hal yang sulit. Kalau tidak dijadwalkan, mungkin kita takkan pernah lagi tertawa! Mengerikan bukan?

Ri