Unfair

Di perjalanan pulang ke rumah dari Sinjai tadi, saya membaca petikan kalimat dari cerita Felix Siauw di beranda Facebook saya. 
Bunyinya begini: 

Wajar bila mereka merasa dunia tidak adil, karena materi jadi penanda sukses. 

Dan saya langsung berhenti membaca dan lantas berpikir. Kalimatnya benar. Dunia ini pasti akan terasa sangat tidak adil kalau kita menilai sukses itu dari seberapa banyak harta yang bisa kau hasilkan dalam hidupmu. 

Kenapa bukan dari misalnya: kebahagiaan? 

Maksudku, demi Allah, saya tidak punya apapun saat ini. Bahkan jika ingin kemana-mana, saya masih bergantung dengan ojek dan angkot. Adekku malah sudah bawa motor ke kampusnya. I own nothing. Which ones would say I’m not successful yet. 
But For Godsake, I’m happy. I’m happy I want to cry. And I’m thankful. And I want to say that in this case, I’m a successful one. I can make myself happy and that worths a world. 

Saya bahagia dan saya bersyukur Tuhan. Sebab saya aman, saya sehat dan saya bisa makan. Hahaha. 
Dan barusan keluargaku kumpuuul dan bahagia. Dan K, my love of my life, baru menelpon sampai dua jam saking rindunya gak telponan hampir seminggu. 

Dan sebab itu ya Allah, saya merasa sudah di zona nyamanku yang susah sekali kutinggalkan. But I have to. 

RI

Advertisements

Mimpi Pergi

ketakutan membakar mimpi
matamu redup
tak lagi kulihat kerlip cahaya disana
yang biasanya memantulkan bayangan wajahku yang bahagia
sehabis menangkap lengkung senyum di bibirmu

apa yang kau khawatirkan, sayang?

katamu dengan datar,
‘aku ingin pergi’
sepersekian detik aku menunggu
kau tak jua melanjutkannya dengan penjelasan

‘kini apa yang salah?’

tak kutanyakan pula perihal penyebabnya
aku hanya menuntunmu
membantu mengepak pakaian, buku-buku,
dan setiap keping kenangan yang ada padanya
aku menangis tapi kesedihanku raup oleh ketakutan

mulutku tertutup
pikiranku liar
hatiku perih dan pedih
mataku kering

derik pintu
membahana
menutup
cahaya mataku
sirna
aku berdiri menyaksikan langkahmu tak henti di ujung mimpiku

kusadari kaulah ketakutanku
kau pula yang membakar mimpiku
lalu pergi begitu saja
seperti asap
yang tak kenal api mana dia berasal

Falling

I am falling in love with you.

Since the first time I saw you.
in the corridor
that day
you didn’t notice
But I did

thought came instantly,
who is he?
what’s his name?
I promise I will find out

and then seems like universe blessing us
to knew each other
to see
to discuss about everything
you laughed big
I laughed bigger
phone conversation in the middle of the night

but now you are there
I am in here
I just want you to know that I like you
I want to memorize my feeling here
just like home

Sunshine

Amazing Sisters

I just got couple news from my two amazing sisters. Older one, Warni, bakalan yudisium besok dan younger one, Ayu, just passed Nestle’s job recruitments!

Dan katanya mereka bakalan move to Jakarta in short time period.

Apa yang saya rasakan?
Bangga, bahagia sekaligus khawatir.

Memiliki saudara yang hebat membuat saya merasa harus memacu diri lebih lagi. Boleh saja saudara, tapi rejeki beda-beda. I am afraid kalau nanti saya jauh tertinggal dan menemukan diri saya tak bisa mengejar.

Namun sebelum memutuskan menulis ini, saya jadi flashback ke masa kecil saya. Saat kami bertiga hanya gadis kecil yang sering sekali bertengkar, sering sekali berkelahi, saling cemburu, saling merebut perhatian Bapak Mama. Kami bersaing dalam segala hal, mencoba jadi yang terbaik untuk Mama Bapak.

Sekarang, kami sudah sama-sama dewasa. Masing-masing dari kami sudah punya pekerjaan dan profesi sendiri. Kami bukan lagi gadis kecil. Apa yang Mama Bapak kini rasakan kala kami bertiga akan meninggalkan rumah?

Semoga kami bertiga bisa membahagiakan orangtua kami ya Allah. Semoga kami sempat membuat mereka bangga dan hidup layak.

Sunshine

Surprise

Surprise!

Selama hidup aku tak pernah membayangkan bahwa suatu hari akan menginjak Amerika atau China. Suatu siang di akhir tahun 2009, telepon soal kelulusanku di program beasiswa itu datang. Aku luarbiasa terkejut. Aku tak pernah menyangka. Dulu, kupikir luar negeri itu hanya untuk orang yang kaya raya atau super pintar. Aku bukan keduanya.

Aku ingat saat masih SMA, aku pernah iseng mengirim permohonan aplikasi ke Kanada di program perjalanan English First. Waktu itu, salah satu teman SMP ku berada di London melalui program itu. Aku juga ingin sekali pergi kesana. Aku lalu mengontak pihak EF. Mereka lalu menelepon dan bertanya tujuan program apa yang aku inginkan. Aku ingat aku menjawab, ‘apa saja yang bisa ke Kanada’. Aku tak tahu kenapa Kanada yang muncul, bukan London.

Orang yang bicara di telepon itu berkata akan mengirimiku brosur soal informasi yang perlu aku ketahui. Dua hari kemudian brosurnya datang. Aku bahagia sekali meski cuma brosur. Mama yang melihatnya bingung. Saat aku menjelaskan padanya bahwa aku ingin ke Kanada, ia bertanya darimana uangnya. Aku diam dan sadar bahwa Mama benar. Riana, darimana uangnya?

Sejak saat itu aku tak pernah lagi membayangkan akan memiliki kesempatan melihat dunia atau negara lain. Aku bahkan tak pernah kemana-mana. Aku hanya tahu rumah sekolah, rumah sekolah. Aku bahkan tak pernah naik pesawat. Aku tak tahu Jakarta itu seperti apa atau bagaimana kita bisa sampai ke Jogjakarta. Aku tak pandai bergaul. Aku tak tahu aku bisa apa, bahkan aku tak tahu apa yang ingin aku lakukan dalam hidupku. Berbeda sekali dengan teman-temanku yang lain.

Aku suka belajar bahasa inggris. Suka sekali. Aku juga suka membaca buku. Mama sering mendapatiku sedang membaca di kamar dan dia tak begitu suka aku menghabiskan waktu membaca di kamar dan tidak membantunya di dapur.

Sejak aku senang membaca, imajinasiku berkembang. Aku jadi suka menulis. Aku menulis banyak cerita. Kebanyakan cerita fantasi. Tapi tulisanku sering mandek dan tak selesai. Kemudian, aku jadi mahasiswa.

Kemudian, hidupku berubah. Bisa dibilang, I was transformed. Butuh waktu bertahun-tahun memang. Tapi aku yang dulu sangat menutup diri, perlahan-lahan mulai terbuka. Aku bergaul, aku ikut beraneka macam biro di himpunan. Aku berkawan, bersahabat dan merasakan disukai oleh lelaki untuk pertama kalinya. Aku merasa hidup.

Aku bahkan bekerja paruh waktu. Sesuatu yang mewah untuk seorang mahasiswa. Aku bisa walaupun sekali dua kali, membayar uang kuliahku sendiri.

Pada 2010 aku ke Tucson, Arizona, US selama dua bulan. Pengalaman pertama ke luar negeri yang tak terlupa. Aku menginjak Narita Airport, Jepang. Aku singgah di Los Angeles Airport selama delapan jam. Bukan main ajaibnya. Tapi aku tak pernah merasa hebat. Aku tetap saja merasa biasa di dalam diriku.

Di 2011 aku lulus kuliah dan 2012 aku mendapat pekerjaan. Aku yang dulu tak pernah kemana-mana, malah berada jauh dari rumah. Aku berani hidup sendirian dengan mandiri. Aku yang dulu tak pernah naik pesawat, sekarang malah menganggap airport rumah keduaku.

Kesempatan ke China datang di 2013. Pengalaman kedua yang masih saja penuh berkah dan keajaiban. Tapi, aku tetap merasa biasa, tak tahu apa-apa, merasa bodoh dan merasa sedikit beruntung. Aku tak pernah berani mimpi bisa kesana, bahkan rencana pun tak ada.

Hidup itu penuh kejutan. Kejutan karena kita tak merencanakannya. Kejutan karena datang di waktu yang tak disangka-sangka. Aku ingin dan yakin jodohku pun nantinya begitu. Disaat aku siap, disaat waktunya tepat, Allah pasti menunjukkan jalan padaku. Now, I just want to be the best version of myself, praying dan selebihnya biarkan Dia bekerja.

Sunshine,
karena hari ini indah

words shouldn’t hurt

The worst feeling that you could ever possess to someone is the feeling of possessing him/her, as if that person is completely yours. Because you could never, ever “own” a person. You could only be happy when the person you choose to be with also chooses to be with you.

Be happy. Because you only need yourself to be happy, and because you can. Allow yourself to be happy. With or without someone else. Isn’t it such a great feeling to realize that we can be happy on our own? As soon as we have allowed ourselves to be happy on our own, then we can be happy with another person.

-by Little Notes of Life from Alanda Kariza-