Overwork

I remember that one of my considerations not to choose him was about his work. I know him. I know that he loves working and I feel that I can't accept his work hour which is sometimes pass midnight or maybe until 2 am.

But now that I have committed to him, I care about him so I feel sorry. I'm worried about his overwork will affect to his health. He was complaining that he's got headache and the best thing I can do was nothing. I feel bad.

I'm looking forward to the nights I can caress his head every time he's home and needs my hand. I'm waiting to the days I can take care of him and remind him about how important he is to me so he must pay attention to himself.

Now that we are miles apart. I hope our heart is near.

Sunshine

Advertisements

Demam

Saya baru pulang dari trip Ijen-Bromo beberapa hari yang lalu. Sekarang, saya terbaring lemah di kasur, merasakan panas tubuhku semakin tinggi. Saya kena demam.

Seumur hidup, sebelum Ijen dan Bromo, saya hanya pernah hiking di satu tempat, yaitu di Grand Canyon, US.

Semalam, saya mengirim email ke mantan pacar dan saya berakhir dengan membaca percakapan kami di email yang kami kirim di masa lalu yang jauh.

Salah satunya adalah saat saya bercerita padanya tentang pendakian ke Grand Canyon itu.

Saya menulis bahwa disana sangat indah, dan betapa susahnya bagi saya untuk mendaki dan menuruninya. Namun saya tetap keukeuh melakukannya.

Sepulang dari Grand Canyon, saya meringkuk di kamar hotel dan tidak bisa menyaksikan sunset karena badanku demam.

Di email dia mengatakan bahwa hanya kita yang tau sampai mana batas kemampuan fisik kita. Dan betapa saya sering sekali melewatinya.

Saya sudah lupa bahwa perjalanan saya selama dua bulan di Amerika saat itu, terekam pula di email-email yang kami kirimkan. Dan betapa saya dan dia sebenarnya tak pernah benar-benar kehilangan kontak meskipun kami tidak lagi bersama-sama.

Ri

Mimpi

Semalam saya bermimpi. Mimpi itu lagi, mimpi yang sama saat saya baru saja pulang ke rumah Telkomas.

Another flight schedule dan lagi-lagi saya melewatkannya. Apa arti mimpi itu? Kenapa saya berulang kali mimpi ingin naik pesawat ke suatu tempat tapi tak pernah jadi?

Dan kenapa Brainwave juga selalu muncul dalam mimpiku? Aneh sekali karena saya tak pernah lagi mengingat-ingat dia saat saya sadar.

Kuharap ada jawabnya.

Sunshine

Stuck in Love

I am warning you, this post will be a lot about ‘stuck in love’. Things I shouldn’t talk or write about anymore in here.

Rasanya sudah lama tidak merasa deg-degan. Sudah lama sekali tangan tidak terasa dingin tanpa alasan jelas, perut tidak bergejolak seperti ada ribuan kepakan kupu-kupu bersarang di dalamnya. Sudah lama tidak merasa cemburu, marah, ngambek, bahagia, senang, hanya untuk satu orang.

Saya rindu rasanya jatuh cinta lagi, Tuhan.

And I just watched a movie entitled, “Stuck in Love”.

Filmnya menceritakan bagaimana satu cinta yang takkan bisa kau lepaskan dari dirimu. Jenis cinta yang membuat candu, gila dan obsesif tapi dalam arti yang bagus. Cinta itu menunggu. Cinta itu sabar dan memaafkan. Jenis perasaan yang murni, yang tak bisa kita tinggalkan begitu saja dari diri kita sendiri.

Kita takkan bisa hidup tanpa ada rasa peduli. Tanpa ada rasa menyayangi. Kita tak bisa, it’s impossible living life without love and care each other.

Debaran itu tak saya temukan lagi seperti setiap kali saya mengingat Brainwave years ago. Last time we met two days ago was so fun and ordinary. Namun meskipun begitu, ada saja little simple things that makes me wonder why he did that? Hal-hal yang membuatku geer bahwa dia masih suka padaku. Namun kutepis pikiran itu jauh-jauh, tentunya. Saya tahu baginya tak ada lagi sesuatu diantara kami. He is so over me, I know that. Sure hundred percent about it.

Misalnya dia memesan minuman yang sama dengan yang saya pesan. Saya tahu, dia melakukannya karena dia tidak tahu apa yang sebaiknya dia pesan. So, he just order the same drink as I had.

Dan setelah minumannya habis dan saya belum, dia hampir menghabiskan minumku dengan selalu bertanya, “Ini punya siapa? Riana?”. Dia masih saja begitu, seperti dulu.

Dan hal saat saya dan teman-teman bermain kartu Uno, sayalah yang pertama menang. Kemudian dia menyusul. Dan tak ada lagi yang menang setelah dia. Dan hal bahwa hanya saya dan dia yang menang? That makes our friends menyoraki kami berdua.

Silly.
You are 24 years old, Ri! and you still acted like teenager!!

Well, tomorrow is Eid Adha. So, after this indomi goreng+ telur, brush my teeth and sholat Isya, am going to sleep. I am in Rahma’s room now anyway. Borrow her laptop writing this.

Sunshine

Steve Jobs

I am watching “Jobs” movie now. Film biografi Steve Jobs dan kisah jatuh bangunnya dengan Apple Inc.

Brainwave pernah cerita kisah Steve Jobs ini dan sahabatnya Steve Wozniak padaku, waktu kami masih di Makassar, waktu dia mengantarku pulang ke rumah dengan motornya. Dia semangat sekali cerita dari A sampai Z dan saya cuma dengar tapi tidak mengerti, atau mungkin sudah lupa dia cerita apa saja.

Yang saya ingat cuma karena ceritanya masih panjang, dan dia mau cerita sampai selesai tanpa ada bagian terpotong. Motornya jalan pelaaaan sekali. Trus dia cerita, cerita, dan akhirnya ceritanya selesai pas sampai depan rumahku.

Saya sadari sudah banyak detil-detil yang sudah lepas terekam dari otakku tentang Brainwave. When we both still together. Tapi saya masih ingat soal betapa dia suka sekali pake Apple product. Laptop pertamanya itu Mac hitam, dia beli entah berapa harganya dari senior kampus yang waktu itu lagi jual ke dia. Trus akhirnya saya beri nama Mac nya itu, Mac-i tapi dia tidak suka. Mungkin dia masih pakai laptop itu sekarang. Entahlah.

*lanjut nonton*

Sunshine

Meanwhile

Saat membaca Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, entah kenapa keyakinan untuk diangkat jadi reporter, raib. Saya kemudian  memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada teman-teman Cals di Jakarta tentang hal itu nantinya. Atau mungkin untuk diriku sendiri.

Kenapa tidak diangkat, kenapa di-cut? Hmm, mungkin saya terlalu malas. Hanya bekerja memenuhi target sedangkan kantor mengharap lebih.
Lalu selanjutnya apa? Saya tidak tahu, ada keinginan cari kerja lain, ada juga kemauan untuk kuliah lagi, tapi bolehkah saya pulang?
Pulang? Kenapa? Apa kau menyerah?
Akan mengertikah kalian kalau saya menjawab kalau saya rindu rumahku, keluargaku?
Tapi kau bisa pulang kan, sewaktu-waktu menjenguk mereka. Kau tidak harus pulang.
Iya, kalian benar. Tapi, awalnya saya berani kesini karena, karena saya tak mau ada jarak dengan Brainwave. Sekarang kami bahkan sudah tak ada apapun lagi. Kini semua orang yang kucinta berkumpul di rumah. Saya ingin dekat dengan mereka, sebelum aku jauh dibawa oleh future husbandku kelak.

Apakah itu bisa jadi alasan?
Apakah seperti itukah nanti yang akan terjadi?
Kau yang pilih, Ri.

Sunshine