Mimpi

Semalam saya bermimpi. Mimpi itu lagi, mimpi yang sama saat saya baru saja pulang ke rumah Telkomas.

Another flight schedule dan lagi-lagi saya melewatkannya. Apa arti mimpi itu? Kenapa saya berulang kali mimpi ingin naik pesawat ke suatu tempat tapi tak pernah jadi?

Dan kenapa Brainwave juga selalu muncul dalam mimpiku? Aneh sekali karena saya tak pernah lagi mengingat-ingat dia saat saya sadar.

Kuharap ada jawabnya.

Sunshine

Advertisements

Stuck in Love

I am warning you, this post will be a lot about ‘stuck in love’. Things I shouldn’t talk or write about anymore in here.

Rasanya sudah lama tidak merasa deg-degan. Sudah lama sekali tangan tidak terasa dingin tanpa alasan jelas, perut tidak bergejolak seperti ada ribuan kepakan kupu-kupu bersarang di dalamnya. Sudah lama tidak merasa cemburu, marah, ngambek, bahagia, senang, hanya untuk satu orang.

Saya rindu rasanya jatuh cinta lagi, Tuhan.

And I just watched a movie entitled, “Stuck in Love”.

Filmnya menceritakan bagaimana satu cinta yang takkan bisa kau lepaskan dari dirimu. Jenis cinta yang membuat candu, gila dan obsesif tapi dalam arti yang bagus. Cinta itu menunggu. Cinta itu sabar dan memaafkan. Jenis perasaan yang murni, yang tak bisa kita tinggalkan begitu saja dari diri kita sendiri.

Kita takkan bisa hidup tanpa ada rasa peduli. Tanpa ada rasa menyayangi. Kita tak bisa, it’s impossible living life without love and care each other.

Debaran itu tak saya temukan lagi seperti setiap kali saya mengingat Brainwave years ago. Last time we met two days ago was so fun and ordinary. Namun meskipun begitu, ada saja little simple things that makes me wonder why he did that? Hal-hal yang membuatku geer bahwa dia masih suka padaku. Namun kutepis pikiran itu jauh-jauh, tentunya. Saya tahu baginya tak ada lagi sesuatu diantara kami. He is so over me, I know that. Sure hundred percent about it.

Misalnya dia memesan minuman yang sama dengan yang saya pesan. Saya tahu, dia melakukannya karena dia tidak tahu apa yang sebaiknya dia pesan. So, he just order the same drink as I had.

Dan setelah minumannya habis dan saya belum, dia hampir menghabiskan minumku dengan selalu bertanya, “Ini punya siapa? Riana?”. Dia masih saja begitu, seperti dulu.

Dan hal saat saya dan teman-teman bermain kartu Uno, sayalah yang pertama menang. Kemudian dia menyusul. Dan tak ada lagi yang menang setelah dia. Dan hal bahwa hanya saya dan dia yang menang? That makes our friends menyoraki kami berdua.

Silly.
You are 24 years old, Ri! and you still acted like teenager!!

Well, tomorrow is Eid Adha. So, after this indomi goreng+ telur, brush my teeth and sholat Isya, am going to sleep. I am in Rahma’s room now anyway. Borrow her laptop writing this.

Sunshine

Steve Jobs

I am watching “Jobs” movie now. Film biografi Steve Jobs dan kisah jatuh bangunnya dengan Apple Inc.

Brainwave pernah cerita kisah Steve Jobs ini dan sahabatnya Steve Wozniak padaku, waktu kami masih di Makassar, waktu dia mengantarku pulang ke rumah dengan motornya. Dia semangat sekali cerita dari A sampai Z dan saya cuma dengar tapi tidak mengerti, atau mungkin sudah lupa dia cerita apa saja.

Yang saya ingat cuma karena ceritanya masih panjang, dan dia mau cerita sampai selesai tanpa ada bagian terpotong. Motornya jalan pelaaaan sekali. Trus dia cerita, cerita, dan akhirnya ceritanya selesai pas sampai depan rumahku.

Saya sadari sudah banyak detil-detil yang sudah lepas terekam dari otakku tentang Brainwave. When we both still together. Tapi saya masih ingat soal betapa dia suka sekali pake Apple product. Laptop pertamanya itu Mac hitam, dia beli entah berapa harganya dari senior kampus yang waktu itu lagi jual ke dia. Trus akhirnya saya beri nama Mac nya itu, Mac-i tapi dia tidak suka. Mungkin dia masih pakai laptop itu sekarang. Entahlah.

*lanjut nonton*

Sunshine

Meanwhile

Saat membaca Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, entah kenapa keyakinan untuk diangkat jadi reporter, raib. Saya kemudian  memikirkan bagaimana cara menjelaskan pada teman-teman Cals di Jakarta tentang hal itu nantinya. Atau mungkin untuk diriku sendiri.

Kenapa tidak diangkat, kenapa di-cut? Hmm, mungkin saya terlalu malas. Hanya bekerja memenuhi target sedangkan kantor mengharap lebih.
Lalu selanjutnya apa? Saya tidak tahu, ada keinginan cari kerja lain, ada juga kemauan untuk kuliah lagi, tapi bolehkah saya pulang?
Pulang? Kenapa? Apa kau menyerah?
Akan mengertikah kalian kalau saya menjawab kalau saya rindu rumahku, keluargaku?
Tapi kau bisa pulang kan, sewaktu-waktu menjenguk mereka. Kau tidak harus pulang.
Iya, kalian benar. Tapi, awalnya saya berani kesini karena, karena saya tak mau ada jarak dengan Brainwave. Sekarang kami bahkan sudah tak ada apapun lagi. Kini semua orang yang kucinta berkumpul di rumah. Saya ingin dekat dengan mereka, sebelum aku jauh dibawa oleh future husbandku kelak.

Apakah itu bisa jadi alasan?
Apakah seperti itukah nanti yang akan terjadi?
Kau yang pilih, Ri.

Sunshine

I am Into You

Lately, I enjoyed reading Divortiare and Twivortiare by Ika Natassa.

Rasanya seperti membaca ulang hubunganku denganmu, B.

Tokoh Beno dalam buku itu, punya beberapa hal yang sama sepertimu. Dia tidak banyak omong, and he’s really passionate when he talks about his job.

Alexandra punya karir dan dia juga cerewet soal ‘perhatian’. Gerutuan yang sama denganku.

And both of them really love each other although they have divorced.

Dalam beberapa postingan ke depan, mungkin aku akan menulis tentang buku ini dan mungkin juga tentangmu, B.

Sunshine

Left Only in Draft

Brainwave,
Hotel di Fangchenggang ini ndak ada wifinya seperti di Nanning kemarin. So, lebih banyak mati gayaku disini. Kemarin masih bisa bbm-an, WA, bahkan twitteran, tapi sekarang, sudah ndabisa berekspresi di socmed. Tau kan, Facebook dan Youtube diblokir di China? Tapi kayaknya bukan cuma dua website itu. Tapi juga beberapa website lain seperti wordpress atau blogspot ato Tumblr.

Akhirnya, dua hari formal itu lewat sudah. Besok naik kereta sekitar 12 jam ke Guangzhou. Dari Guangzhou baru pulang ke Indonesia. Works waiting. couple days more in Chinaaa!

By the way, tadi di closing ceremony, Indonesia satu-satunya delegasi yang menari. Delegasi ASEAN lain cuma nyanyi-nyanyi. Beberapa pejabat dari Indonesia, after closing ceremony, congratulate us. Termasuk Bapak Wiranto. Hehe. We’re so proud and happy. Acaranya meriaaah sekali. Tapi kayaknya pasti sering mi mu liat acara begitu pas di Esplanade dulu.

Disini satu hal yang perlu diperhatikan baik-baik adalah makanan halal. Susaaaaahnya minta ampun. Selama ini makanan pasti disediakan hotel. Tapi hotelnya pun sering tidak tahu batasan makanan halal buat kita itu bagaimana. Jadi, terpaksa, cuma bisa liat-liati orang non muslim makannya lahap sekali tapi saya cuma makan roti, buah atau ikan sama nasi. Saya tidak tahu bagaimana pelajar Indonesia bisa bertahan di China sekolah lama-lama dengan makanan kayak bgitu.

Email ini tidak terkirim saking kelelahannya aku. Mestinya bisa dikirim pake jaringan internet LAN. Besok paginya pas sadar email ini belum dikirim, aku terlalu sibuk untuk memencet tombol Send. Jadilah, aku menemukannya lagi di kolom Draft email, menunggu untuk dihapus, atau dipasang selamanya disini.

Sunshine

Empat Jam Sebelumnya. Four Hours Earlier

Jadi ini sudah menunjukkan pukul 2 pagi. So, it’s 2 AM now. Empat jam lagi, saya mestinya sudah berada di bandara Soetta, siap-siap keberangkatan ke Guangzhoum, Cina. Four hours later, I should have been in Soetta airport, preparing my flight to Guangzhou, China. Tapi sekarang yang saya lakukan adalah menulis ini dengan dua berita stok yang masih belum kelar. Riana, stop writing now.

Tadi saya bertelepon dengan Brainwave. Lama sekali. Dia tak mau menutup telepon, dan saya yang bodoh oon nya juga, tidak mau menutup telepon. Jaringanlah yang akhirnya memisahkan kami.

Lama sekali rasanya sejak bertemu Brainwave, sekitar nyaris dua bulan yang lalu. Waktu dia membantu cari kosan. Obrolan telepon tadi itu rasanya, terasa asing sekaligus terasa sudah biasa. Dia bercerita bla bla bla, aku mendengarkan. Aku yang bercerita bla bla bla, dia lalu yang mendengarkan. Tapi ada dead air sekitar lima belas menit, kami cuma mendengar diam dan hampa udara di balik telepon masing-masing. Aku semalam begitu rindu padanya, lalu dia mewujud dalam suara di telepon malam ini. Hahahaha, that’s happiness, dear friends. 🙂

Tapi Insya Allah pertemuan kami akan terpisahkan seminggu lagi. So, see you next week, B! I miss you already.

Riana, stop writing now. Lanjut kerja artikelmu. Kau tidak dengar smsnya redakturmu?

Sunshine