Resiko

Saya tak pernah menyangka akan punya partner seorang dokter. Well, first, profesi itu sama sekali bukan dalam lingkaran sosialku. Saya banyak bergaul dengan pekerja kreatif atau pekerja seni. 

Saya tak mengenal baik dan penasaran dengan teman-teman yang memilih masuk sekolah kedokteran. Bagi saya, mereka jauh dan sangat berjarak dengan kehidupanku sehari-hari. Meskipun kakakku seorang dokter gigi, dia pun tidak dekat dengan dokter. Suaminya sekarang adalah seorang sarjana teknik mesin dari ITB.

Bertemu dan mengenal K, membuatku masuk ke lingkaran itu. He is going to be a doctor. Setiap bertemu, ada saja fenomena biologis yang dijelaskannya secara medis. Hal itu kadang terasa menyebalkan sebab otakku tiba-tiba macet. Belum lagi cara bicaranya yang begitu cepat, saya sulit mengikuti. Kerap kali saya memotong pembicaraannya dengan berkata “tunggu, bisa ulangi bagian yang ini?”. 

Hari ini, K bertugas jaga di rumah sakit. Seharian kami nyaris tidak berkomunikasi kecuali bertukar kabar soal saya sudah di rumah atau belum. Saat ini, saya jadi memikirkan hal itu. Kemarin dia bilang bakalan jaga 7×24 jam di rumah sakit lain mulai minggu depan. It means, seminggu nanti komunikasi akan sesempat-sempatnya saja. 

Itu resiko yang harus saya jalani karena memilih buat bersama-sama dia, bukan?
Jadinya saya ingat drama korea berjudul Reply 1998. Tokoh utamanya juga adalah perempuan yang menyukai seorang residen rumah sakit. Residen itu adalah dokter yang sedang ingin mengambil spesialis. Hubungan mereka manis sekali, walaupun si cowok sibuknya amit-amit. Adegan melamar pun dilakukan di ruang istirahat rumah sakit, coba. Hehehe. 

Mungkin K sekarang sedang memeriksa, mengukur suhu tubuh atau memeriksa tekanan darah pasien. Pasti dia capek sekali. Pasti dia mau banget istirahat tapi belum bisa. 

Mengingat hal itu betul-betul mengingatkanku pada Oppa residen di Reply 1998. 🙂
RI

Advertisements