Suami

Hai. Halo.

Sudah empat bulan berlalu sejak saya pindah dan tinggal berdua bersama suami saya, mengontrak rumah petak di Jakarta Selatan. Saya senang menghitung-hitung hari, Entahlah, rasanya mengagumkan menyadari begitu cepatnya waktu berlalu berlari melewati kita.

Di Jakarta, saya tak punya kehidupan selain suami dan tempat kami tinggal sekarang. Teman-temanku yang bekerja disini terlalu sibuk dengan karir, kehidupan dan keluarga mereka juga sehingga hampir mustahil bisa mengajak salah satu diantaranya untuk menemani jalan atau nonton film. Keluargaku jauh dan video call hanya mengurangi sedikit jarak. Suami bekerja hampir dua belas jam setiap hari dan begitu dia pulang, dia masih juga bekerja untuk menambah penghasilan tambahan.

Saya bukan menulis ini untuk mengeluh. Saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya mungkin enam bulan atau setahun kemudian, bahwa saya pernah kesepian seperti ini. Apakah di masa depan saya masih seperti ini atau tidak? Hanya Allah SWT yang tahu.

Saya mulai menulis review tentang film-film yang saya tonton di blog wordpress baru berjudul filmfootprints. Percayalah kawan, saya telah menonton banyak sekali film empat bulan belakangan dan saya merasa punya beban moril untuk menulisnya sebagai ulasan. Saya juga cukup senang menulis review film dan buku. Saya sudah menyelesaikan empat buku dan sekarang saya sedang membaca buku kelima.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa Allah SWT telah memberi saya seorang suami yang sangat baik. Tuhan telah memberi saya seorang laki-laki yang bukan hanya berusaha menjadi suami yang baik, tapi juga seorang teman yang baik. Dia menghormati dan menyayangiku. Dia membuatku tertawa saat sedang sedih dan menangis. Dia memelukku saat saya sedang kesal dan marah. Dia menemaniku, mendengarkanku, dan juga beradu argumen denganku. Kami menertawakan hal yang sama tapi kadang tidak sepakat di banyak hal. Dia tahu kapan harus sekeras batu dan kapan harus mengalah demi kebaikan bersama. Dia punya kelemahan tentu saja, rumah tangga yang kami jalani ini membuat semua keburukan kita terkuak. Namun, commitment binds us. Love empowers us. Energi-energi dari hal-hal tersebut ditambah dengan berkah dan rahmat dari Allah SWT juga dukungan keluarga dan teman-teman, membuat kami terus menerus belajar untuk bertahan dan bersama sebagai suami istri.

RI

Advertisements

Lam

That day, I went to Somba Opu Street with Lam’s family. We wanted to buy some jewelries for me, as my Mahr (dower). He wasn’t with us because he worked in Jakarta. But he kept us company by standing by in phone, just in case I needed him.
Me and his Mom (Bunda) got a wedding ring. It’s a simple ring, plain, made of gold, without anything on it. I liked it instantly. So I said “this is it, this is what I want”. The shopkeeper asked me whether I want to engrave my husband’s name at the backside of the ring or not.

“That would be lovely, thanks”, I said.

The shopkeeper asked me to write it down. So I wrote “Ilham”. Less than a minute, I got a ring with Ilham’s name on it. I couldn’t believe I will wear it once I’m officially married him. Like the rest of my life.

After got home, at night, I called him and told what happened today in detail. I told him I have his name on my ring.

“A complete name?” he asked.
“No, just Ilham”,
“Hmmm..”
“Why?”
“I’d prefer you write Lam to Ilham but that’s okay”,

Ri

Anak Bapak

Malam ini saya jadi anaknya Bapak. 

Saudaraku yang lain jadi anaknya Mama.

Kupikir, nanti di masa depan saya akan menjadi seperti Bapak. 

Sama bingungnya seperti Bapak. 

Dan saya akan merasa terpojok karena saudaraku yang lain akan menjadi seperti Mama. 

Sama cerdasnya seperti Mama.

Dikala saya merasa sendiri seperti itu, maukah kau, sayang, merangkulku? 

lalu mengatakan takkan pernah meninggalkan tempatmu yang sudah ditakdirkan, disampingku? 

RI

I Pity Myself

This is going to be a quick post since less than 20 minutes, my evening class will be started.
I just can’t get this thought out of my mind.

I pity myself.
I pity myself not to have enough time to take care of my parents.
They are busy, so am I and I just can’t manage to only say “Hi” every morning. I hate that. I hate for the fact that I am sometimes not able to wake up to pray Subuh or to make tea for my sick mother and to my busy and old father. I hate that yet I do it every single day.

This morning I realized all these things and I drowned in regrets.

O dear God, I hope there will be enough time for me to take care of my parents in the near future.

RI

Notes from Rain

It’s been raining since morning. I planned to go to Zoya in Perintis today but because of rain, I postpone that plan. Here is one reason I really want to have a car. My parents cannot afford it neither my sister and me. So, yeah. I don’t put my hope too high on reality.

Ramadhan is going to an end. Couple days more. It’s time to put a big mirror in front of me and reflect “am I now a better person than last Ramadhan?”

Only God knows.

So many bad news recently. Gaza has blown up with missile, so many innocent people died. MH17 airlines was shot down in Ukraine, 295 died. Typhoon in Phlippine.

But so many happy days too from my family and friend. Like I said before, my two sisters passed the entrance exam in Senior High School and Hasanuddin University. It was like a miracle.

My two friends are getting married. And probably I will attend her wedding in Jakarta this November.

Work in office getting harder. But I am already 6th ONC this month. Time flies.

Sunshine

Eid Mubarak

Hello! What have been up to guys? Been a while, huh?

First, I want to say minal aidin wal faidzin. Maafkan lahir batin ya. Apapun yang saya posting disini yang tidak berkenan di hati, mohon dimaafkan. I did it not on purpose.

So, tahun ini saya merayakan lebaran di Jakarta. Sendirian. Hahahaha. Yes, I did it and it thruu finally. No families, no sungkeman, no pelukan sama keluarga, no ketawa ketiwi, no siara’. Nothing. Sebelumnya, pas Kak Aan tau, dia bilang, “selamat menjadi semakin kuat, Ri”. Awalnya saya tidak paham. Tapi setelah merasakan dan melewatinya, baru kemudian saya mengerti. It hurts like a thousand knives stab my heart.

Tapi Tuhan tak henti-hentinya bersamaku. Adaa saja orang yang baik hati di sekitarku. Ibu Kos contohnya. Dia memberi saya setoples kue keju dan satu kantong rendang telor dan setoples kerupuk. Katanya buat lebaran. Dan dia juga bilang, karena gak ada warung yang buka, saya makan di bawah saja bareng sama keluarganya. Ibu Kos gak berenti naik ngecek ke kamar apa saya udah makan apa belum. Temen kosan semua pada mudik.

Gak ada yang spesial di Idul Fitri kali ini. Saya nginap semalam di rumah Rahma. Makan opor sama coto dan burasa. Selanjutnya hari-hari diisi dengan liputan dan liputan.

Baru kali ini saya mau waktu cepat bergulir. Saya ingin segera lompat ke Oktober. Dimana saya akan pulang menghadiri pernikahan Warni. Aaaak, I should prepare my dress too, right?

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Sunshine