RIP Cory Monteith

finn rachel

finn

Last Saturday, this news made me so sad. I don’t know how to react but spread this news to my Gleeks friends by Twitter.

I started watch Glee from students in 2010. I loved it. My friends loved it, of course who’s not? The number of their songs and dances and life lesson, really exceptional. I can’t remember the last time I watch serial television show or movie that brings so much joy and happiness. I watched all the cast grown up, fighting and face their issues.

Until Cory Monteith as Finn Hudson, died. I am speechless. For now, I still can’t believe that guy, who really into love with Rachel Berry (Lea Michelle is his real life girlfriend too), gone. He was so genuinely kind and such a good gentleman. He had this staring and feeling to Rachel deeply in love. Cory is my favorite Finn Hudson, and my favorite man in Glee.

And now he’s gone. Glee will never be the same without him. And I don’t know whether I still want to watch Glee without Finn.

Rest in Peace, Cory.
We love you.

Advertisements

Joke Disaster

Belakangan ini, sebab cuma di rumah saja pagi hingga malam, begitupun keesokan harinya, dan seterusnya, saya memikirkan banyak hal. Mungkin memang tidak penting amat. Hanya saja ya, mulai dari istilah fake follower kemarin, postingan ini juga mau membahas tentang satu istilah, yaitu Joke Disaster. Istilah ini juga lahir karena saya memikirkan satu situasi atau hal yang selalu terjadi di sekeliling kita, cuma kita belum tahu mau diistilahkan sebagai apa.

Nah.
Joke Disaster ini adalah jenis candaan yang melahirkan musibah. Bukan, bukan bencana alam. Ini lebih ke semacam akibat yang ekstrim, yang lebih ke negatif impact.

Misalnya, saya ambil satu contoh dari episode Glee yang baru-baru saja saya tonton; Glee Season 3 Episode 14- On My Way.

Karofsky akhirnya ketahuan gay. Satu sekolah akhirnya melempar banyak hinaan di wall Facebooknya. Dia panik, tak bisa menahan serangan itu dan akhirnya mencoba bunuh diri meskipun untungnya gagal.

Teman sekolah Karofsky melakukan hinaan itu dengan tujuan FUN. Tidak ada yang lain. Mereka menganggap itu joke, buat fun. Tapi seperti yang dikatakan Sebastian, “It’s all fun and games, until it’s not”. Sampai kapan candaan-candaan itu dianggap lucu dan menyenangkan? Tentu, sampai joke itu bikin seseorang nyaris mati gara-gara omongan kita- joke disaster.

Banyak teman-teman kita niatnya selalu bikin candaan hal-hal yang bikin kita sakit hati sampai tidak bisa tidur, karena selalu kepikiran. Mereka dengan santainya bilang, “Sorry, becanda..”. Padahal kita sudah sakit hati dan peras airmata hanya karena omongannya yang hanya bisa dipertanggungjawabkan dengan kata-kata BECANDA.

Maksud saya, tak ada yang salah dengan jokes. Saya juga suka begitu. Have fun dengan joke yang tidak lucu sama teman-teman. Godain satu persatu dengan hal yang lucu. Tiba-tiba saya sadar saja, tidak semua orang bisa menerima hal seperti itu. Jadi kita harus hati-hati saja, jangan sampai kita anggap lucu, tapi menuai sakit hati sama orang yang dituju. Oke?

Sunshine

Not Good Enough

Pernahkah kalian merasa telah melakukan sesuatu dengan baik tapi belum terasa cukup untuk orang lain?
Pernahkah kalian merasa begitu yakin akan kemampuan yang kalian miliki namun menurut orang lain belum bisa dikatakan cukup?

Well, saya pernah. Dan itu selalu menyisakan sesal dan rendah diri yang membekas. Rasanya perih.

Saya yakin tulisan saya cukup bagus, tapi belum pernah dimuat di media.
Saya yakin cukup mampu berbahasa Inggris, tapi belum berani menulis English bahkan di blog sendiri dan TOEFL ku masih begitu-begitu saja.
Dan banyak lain sebagainya.

Bagian yang amat menyesakkan adalah saat orang-orang di sekitarmu sudah begitu yakin dengan kemampuanmu, mereka berekspektasi tinggi padamu, dan hasilnya… diluar perkiraan. Mereka kecewa, tidak puas, dan tak akan memberimu kesempatan kedua.

Kita berharap bumi bisa menelan kita, atau semacam itu- hal-hal absurd yang bisa menyembunyikan kita dari siapapun.

Tapi, sampai kapan kita akan terpuruk dengan hal-hal yang sudah lewat? Sampai kapan kita mengingat masa lalu yang buruk- yang tak membawa apapun kecuali sakit hati dan membuat minder? Pilihannya hanya ada dua; tetap seperti itu atau merubahnya.

Tetap seperti itu means you’re stuck. Kau tidak berbuat apapun untuk masa yang akan datang. Waktu berjalan cepat, merubah banyak hal, tapi kau sendiri bahkan tidak bergerak seinci pun. Apa yang bisa diharapkan? Kau tahu, tidak ada. Padahal kita hidup dengan harapan dan mimpi, cita-cita. Saat harapan kau hapus dari hidupmu, kau istilah kasarnya, sudah seperti mati.

Ada satu kalimat di Glee yang saya suka sekali. “You can’t change your past but you can let go and start your future”. Kita memilih bergerak, merubah diri, melihat diri kita sebagai masa depan itu sendiri. Bukan hanya kau yang takut akan masa depan, semua orang juga merasa begitu. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, semuanya misteri, tapi sebagian orang tetap berjuang, mewujudkan apa yang mereka inginkan terjadi pada diri mereka. Sesederhana itu. Mereka ingin sesuatu kemudian ada sesuatu yang merintanginya, tapi mereka tidak berhenti; mereka tetap bergerak, hingga mereka sampai tujuan.

Tak ada gunanya menyesalkan sesuatu apapun. Baik ataupun buruk, selesaikan dengan baik. Quinn- salah satu pemeran di Glee pernah berkata begini, “I wasted so much time hating myself for the stupid mistakes that I made, but the truth is that without all of those, I never would have dreamed this to be my future”. Awalnya dia membenci semua nasib buruk yang menimpanya, hingga dia belajar untuk bangkit dari itu, dan akhirnya membuat mimpinya jadi nyata: diterima di Yale University.

Jadi, menurutku, kemampuan itu kan bisa diubah. Mungkin memang sekarang kita membuat kecewa banyak orang, tapi suatu hari, kita harus membuktikan, bahwa kita bisa melakukannya lebih baik lagi. Kita hanya perlu terus berusaha dan berjuang.

Cheers,
Sunshine