Penyabar

Kadang saya butuh jarak dengan Eshan. Meski cuma 10-15 menit.

Saya bukan orang yang sabaran. Menikah dengan Lam membuatku latihan sabar terus-menerus. Memiliki Eshan membuat latihanku makin ketat.

Bersabar, bersabar, bersabar.

Sungguh orang yang sabar itu adalah yang kuat. Lepas kontrol itu gampang, mudah, lemah.

Kadang mendengar Eshan menangis sepanjang hari membuatku frustasi. Belum lagi memikirkan beban kerja yang banyak dan rumah yang berantakan. Menjaga Eshan adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi, sedangkan aku adalah orang yang suka keteraturan.

Sungguh hanya sabar kuncinya.

Saya harus lebih banyak berlatih.

Ri

Bilirubin

Malam ini untuk pertama kali sejak Eshan lahir di Jumat 20 Maret pekan lalu, saya tidur tanpa dia di sampingku.

Hari ini jadwal saya kontrol setelah operasi SC. Saya membawa serta Eshan kontrol ke dokter anak, lebih cepat empat hari dari jadwal kontrolnya. Itu karena di hari ke-7, badannya nampak makin kuning.

Darahnya diambil dan dicek di laboratorium. Dan hasilnya menunjukkan kalau bilirubin nya sangat tinggi. Jika kandungan bilirubin sangat tinggi pada bayi baru lahir, dia bisa-bisa kejang dan merusak tubuhnya. It scares the hell out of me.

Karena situasi di rumah sakit Pasar Minggu amat tidak kondusif (rumah sakit ini dijadikan pemeriksaan pasien Covid-19), saya akhirnya pulang tanpa membawa Eshan ke IGD untuk disinar.

Begitu suami tiba di rumah, dan tahu kondisi Eshan, dia lari mencari rumah sakit yang bisa merawat bayi dengan bilirubin tinggi. Perawatannya adalah fototerapi. Kami menggunakan BPJS dan rumah sakit dengan fototerapi yang menerima BPJS di dekat rumah adalah Siloam Asri.

Begitu Lam selesai mengurus administrasi pendaftaran, dia pulang ke rumah. Dia menjelaskan situasinya padaku, bahwa Eshan kemungkinan besar akan dirawat inap dan harus ditinggal beberapa hari. Kami juga harus menyerah dan memberinya susu formula selain ASI. Begitu tahu hal itu, saya menangis sambil menggendong Eshan yang tertidur. Begitu berat rasanya. Anakku yang baru berumur seminggu harus kurelakan dirawat di rumah sakit sendirian.

Jadi setelah akhirnya suami memberi pemahaman dan menguat-nguatkanku, saya melap airmata dan memutuskan menjadi tabah.

Begitu sampai di rumah sakit pukul 10 malam, Eshan rewel minta ASI, tapi tak setetes pun bisa keluar setelah kupompa. Dia juga menolak kususui langsung. Dia menangis hingga akhirnya tertidur.

Pukul 11 malam, dia masuk ke Kamar Bayi dan disiapkan untuk disinar. ASI ku mulai kupompa lagi dan alhamdulillah bisa keluar. Dia minum dari botol. Perawat juga membantu biar Eshan bisa kususui langsung.

Lam di luar keliling mencari susu formula untuk Eshan. Dengan bantuan farmasi rumah sakit, susunya bisa didapat.

Pukul 2 malam saya dan Lam pulang. Saya tidak berhenti menangis. Malam itu hingga esok paginya, separuh jiwa dan separuh tubuhku rasanya hilang. Saya tidak ingat pernah merasa sesedih itu. Saya berdoa dan berdoa agar dikuatkan, agar Eshan dikuatkan, agar Eshan dilindungi, agar Eshan segera kembali ke pelukanku.

Parenting is all about letting go things we can’t control and focus on things we can control.

RI

Observation Room

Jakarta, 19 Maret 2020

Dokter Juni melepas sarung tangan dan berkata pada suamiku dengan nada yang nyaris datar, “operasi besok ya Pak”.

Saya tau Lam panik dan bingung. Kami berdua tidak ada pikiran sama sekali tidak ada persiapan sama sekali mendengar kalimat itu dari dokter obgyn.

“Bayinya bukan cuma sungsang tapi ketubannya juga sudah sedikit. Kita tes detak jantung bayi dulu ya, kalau bagus operasinya bisa besok”, dokter melanjutkan.

Dan disinilah saya, Ruang Observasi. Lam pulang mengambil barang-barang kebutuhan bayi dan kebutuhanku. Mama Bapak dan mertua di Makassar sudah dikabari dan mereka insya Allah akan tiba nanti malam.

Sample darahku diambil, saya diinfus dan tadi juga sudah dites jantung.

Besok insya Allah. 20 Maret 2020.

Tadi sebelum Lam pergi, kami berpelukan dan saya menciumnya sambil minta maaf. Dia menangis terharu. Ini anak pertama kami.

Tiada daya dan upaya selain dari Allah SWT.

Bismillah.

Ri

Cepat Pulang

Setiap malam setiap kali saya sendirian menunggumu, saya berharap satu kali kamu bisa menghentikan apapun yang kau kerjakan di kantor saat itu, mengecek jam dan segera berlari pulang ke rumah.

Bukannya saya melarangmu bekerja, hanya saja, rasanya lebih nyaman menikmati kehamilan yang semakin tua ini bersama seseorang yang sedekat denyut jantung.

Tapi kau tidak suka setiap kali kau sampai di rumah lantas kutanyakan, “kenapa lama sekali pulangnya?”

Ri

Tidak Semua

Kepada diri sendiri kukatakan, tidak semua perempuan bisa bahagia sepertimu, tertawa sepertimu, bersyukur sepertimu, punya suami yang baik sepertimu.

Tidak semua orang masih punya orangtua lengkap seperti dirimu, punya pekerjaan yang baik dan kau sukai sepertimu, makan apapun yang kau inginkan sepertimu, mendapat kesempatan mengakses bacaan yang bermutu sepertimu.

Tidak semua orang bisa rebahan di kasur sambil memikirkan hal ini sepertimu, merasa beruntung dan bersyukur berkali-kali lipat padahal saldo di rekeningnya hanya sisa puluhan ribu.

Tidak semua, jadi kau wajib bersyukur, wajib bersyukur dengan berbagi kebahagiaan yang kau rasakan.

Ri

New Routine

Okay, here it is, my new daily routine.

I started teaching at this school in Bambu Apus region in the beginning of July 2019. It’s one of an Islamic fancy schools in East Jakarta. Work starts at 8am. It takes about 40minutes by public transport from home commuting to school. However, since the school has shuttle buses that departs from Warbun (only 10minutes ride from my place), so I decided to take shuttle instead in a daily basis. I can save much!

Work ends at 3.30pm. I take shuttle to go back to the meeting point in Warbun and take TransJak or ojek online to reach home. I usually arrive at 4.30pm. I have early dinner and usually sleep after had my meals.

And the next day begins again.

Ri

Move Out of Your Comfort Zone

Banyak hal besar yang mungkin tak akan terjadi jika kita hanya menetap di satu tempat dan tidak mencoba untuk keluar dari zona nyaman.

Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah setelah banyak umat Muslim diserang dan disiksa di Mekkah. Hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW menandai awal mula tahun Hijriah. Apa yang terjadi setelah beliau di Medinah? Beliau mendapat lebih banyak pengikut, lebih banyak Muslim dan jika beliau tidak pergi dari Mekkah, beliau takkan bisa memimpin pasukan untuk menyerang kota itu dan menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah.

Suatu malam Ilham bercerita kalau dia tidak keluar dari NET. dia mungkin belum akan berani melamarku. Dia tidak yakin bisa memiliki waktu luang untuk sekedar meneleponku seperti yang dilakukannya setiap malam sebelum kami tidur. Dia keluar dari pekerjaan yang digelutinya selama lima tahun di Jakarta ke perusahaan e-commerce yang jam kerjanya lebih ramah dibanding jika dia bekerja di televisi.

Pekan lalu, saya menghadiri acara pertunangan salah satu teman kuliah di rumahnya disini. Dia akan menikah dengan laki-laki yang ditemuinya melalui Tinder, salah satu aplikasi pencari jodoh, di Jakarta. Saat menuju pulang ke rumah, saya melintasi tempat kerja teman saya itu saat dia masih bekerja di Makassar, sebelum dia akhirnya pindah kerja di Jakarta. Saya merenung sesaat dan mendapati kesimpulan bahwa dia mungkin takkan menikah dan bertemu dengan calon suaminya jika dia tidak pindah ke Jakarta.

Begitu pentingnya pindah ke satu tempat, betapa signifikan dampaknya dalam hidup seseorang. Mungkin memang itu sudah digariskan, dituliskan sejak awal di Lauhul Mahfuz. Namun saya juga yakin bahwa takdir mengikuti usaha. Kita tak bisa mendapatkan sesuatu jika tidak mengusahakannya. Berpindah ke tempat lain di luar zona nyaman butuh dilakukan untuk mengembangkan diri kita, agar kita tahu bahwa ternyata banyak sekali hal-hal yang awalnya kita pikir tak bisa kita lakukan, tapi ternyata kita bisa. Chank bilang hal yang membatasi kita hanyalah kata “tetapi”. Dan lihatlah apa yang terjadi?

Menikah adalah hijrahku yang lainnya.

Semoga segala hal yang mengikuti di belakangnya adalah hal-hal baik yang mengantarkanku dan suamiku kelak ke tempat yang lebih baik pula.
Aamin.

RI

Marriage is

Let’s admit it. When you are in early 30, settled, and you are still single and alone, it probably means something is wrong with you.

People around you will rise one and only question: when will you get married?

As if getting married is as easy as changing songs on our iPod.

No.

I, myself, think that getting married is a big thing. There are many things we should consider before we decide to do it. It’s not a cheap thing. It’s not only about two people love each other living together. No. It’s not only about I love you and you love me so let’s do it. No.

It needs long term commitment. It takes a hundred years responsibility, patience, sincerity, hardworking and forever and ever compromise.

But it doesn’t mean that marriage is scary and horrifying. No. So many friends of mine finally found their meaning of life after they have family to take care of, husband and children to raise. Marriage is the peak of man and woman relationship. Once they reach the peak, there would be so much hurricane they have to survive. If they don’t, they will fall apart.

The key is sticking together.

P.S: I found this note in my folder, I can’t believe I wrote this. I can’t believe I sounded so expert in this thing while I’m not married, yet.

Ri

Kuat

Apa yang membuat suatu hubungan menjadi kuat melawan waktu? Menurutmu?
Apa yang membuat misalnya Papi dan Mami sanggup menjalani pernikahan puluhan tahun hingga sekarang.
Apakah karena cinta?
Apakah karena komitmen?
Atau apa karena hal-hal lainnya?

Lalu apakah karena suatu hubungan tidak memiliki hal-hal diatas, maka hubungan tersebut akan berakhir?

Ri