Blend In

It’s been 6 months I’ve been working in school and I still feel don’t belong to it. I got these complicated coworkers and sometimes I feel get left behind. I feel unwanted. 

Today I didn’t go to school. I informed them about it and they didn’t respond even only with “okay”. 

This is the first time and the first place I feel difficult to blend myself in. Everybody has already got everyone and they don’t want to take anyone new to join in. 

They never feel like to inform me about anything. I have to ask, I have to know by myself, I have to find out by my own. Nobody wants to try to getting closer to me, nobody wants to joke or something. Everything is so formal and strict. They only joke around with their friends and I don’t understand which part the funny sides.

It’s been 6 months and I don’t have a friend. 

I wish everything will be different in a year. 

Ri

Advertisements

Tuhan

Tuhan saya bingung,

bagaimana mungkin Engkau tetap mencintai, mengasihi dan menyayangi hamba-hambamu di dunia padahal kami sungguh sungguh amat penuh salah, nista dan dosa?
Padahal kami banyak sekali melakukan pelanggaran, tidak taat, bermaksiat.
Bagaimana mungkin Engkau tetap memberikan kami perlindungan, kesehatan, akal pikiran?
Sungguh Tuhan saya bingung. 

Mengapa kasih sayang dan cinta-Mu begitu tak terbatas? 

Ri

Happy Birthday Riana

Happy birthday to myself! Another year has passed successfully. Life is hard and 28 years old living it seems a natural achievement, don’t you think?

So, thank you God. For giving me so much things I can’t count. 

My life is blessed. I have friends who love me. I have a boyfriend whom I adore and loves me back. I still have a family who live in a big house, full of food. I am healthy, beautiful and smart. I am a Muslim. I don’t have difficulties to access water and sunlight. 

I am not living in a war like one third of people are living now in their country. 

Lastly but not least, I am sure that Allah SWT and Rasulullah SAW are always by my side. 

Then, what do I need more? 

Life has been given me enough. I am thankful and I am so excited for the year ahead. 

RI

Membakar Mimpi

rasa takut membakar mimpi
matamu redup
tak lagi kulihat kerlip cahaya disana
yang biasanya memantulkan bayangan wajahku yang bahagia
sehabis menangkap lengkung senyum di bibirmu

apa yang kau khawatirkan, sayang?

katamu dengan datar,
‘aku ingin pergi’
sepersekian detik aku menunggu
kau tak jua melanjutkannya dengan penjelasan

‘kini apa yang salah?’

tak kutanyakan pula perihal penyebabnya
aku hanya menuntunmu
membantu mengepak pakaian, buku-buku,
dan setiap keping kenangan yang ada padanya
aku menangis tapi kesedihanku raup oleh ketakutan

mulutku tertutup
pikiranku liar
hatiku perih dan pedih
mataku kering

derik pintu
membahana
menutup
cahaya mataku
sirna
aku berdiri menyaksikan langkahmu tak henti di ujung mimpiku

kusadari kaulah ketakutanku
kau pula yang membakar mimpiku
lalu pergi begitu saja
seperti asap
yang tak kenal api mana dia berasal

Pohon

Saat masih di Jakarta, saya pernah membeli dua buku catatan kecil. Satunya bergambar balon, satunya bergambar pohon. Buku balon saya beri ke sahabat saya, Rahma, saat dia berulang tahun. Buku pohon nya saya gunakan menulis catatan harian. 

Tadi siang saya menemukan buku pohon itu saat merapikan kamar dan laci lemari. Banyak sekali ternyata barang-barang yang sudah tersimpan disitu sejak lama dan tak pernah disentuh lagi. Salah satunya buku itu. 

Jadi saya membukanya dan kenangan membanjiri kepalaku begitu saja tanpa permisi. Halaman-halaman buku catatan itu rupanya saya tujukan untuk Kak Aan. 

Rawamangun, 18 April 2013

Dear Kak Aan,

Menurutmu bagaimana cara yang paling baik menghabiskan suatu sore berhujan seperti sore ini?

Enam tahun silam, saat saya hendak belajar ke Amerika selama dua bulan, Kak Aan memberi saya buku catatan bertuliskan Truth di sampulnya. Buku itu dimaksudkan agar saya menulis hal-hal yang menarik yang terjadi selama saya disana. Dan saat kami bertemu kembali, saya bisa bercerita kembali padanya, melalui buku catatan itu. 

Tapi, buku dan isinya itu tak pernah sampai padanya. 

Jadi saat saya melihat buku catatan kecil itu, saya berpikir, mungkin saya bisa menulis untuknya kembali. Saat itu saya di Jakarta dan sempat berkunjung ke China selama beberapa hari. Kemudian, jadilah saya menulis tentang hari-hariku di Jakarta dan tentang perjalanan singkat di China di buku itu. 

Dan tentu saja buku itu belum juga sampai pada Kak Aan. 

RI

Unfair

Di perjalanan pulang ke rumah dari Sinjai tadi, saya membaca petikan kalimat dari cerita Felix Siauw di beranda Facebook saya. 
Bunyinya begini: 

Wajar bila mereka merasa dunia tidak adil, karena materi jadi penanda sukses. 

Dan saya langsung berhenti membaca dan lantas berpikir. Kalimatnya benar. Dunia ini pasti akan terasa sangat tidak adil kalau kita menilai sukses itu dari seberapa banyak harta yang bisa kau hasilkan dalam hidupmu. 

Kenapa bukan dari misalnya: kebahagiaan? 

Maksudku, demi Allah, saya tidak punya apapun saat ini. Bahkan jika ingin kemana-mana, saya masih bergantung dengan ojek dan angkot. Adekku malah sudah bawa motor ke kampusnya. I own nothing. Which ones would say I’m not successful yet. 
But For Godsake, I’m happy. I’m happy I want to cry. And I’m thankful. And I want to say that in this case, I’m a successful one. I can make myself happy and that worths a world. 

Saya bahagia dan saya bersyukur Tuhan. Sebab saya aman, saya sehat dan saya bisa makan. Hahaha. 
Dan barusan keluargaku kumpuuul dan bahagia. Dan K, my love of my life, baru menelpon sampai dua jam saking rindunya gak telponan hampir seminggu. 

Dan sebab itu ya Allah, saya merasa sudah di zona nyamanku yang susah sekali kutinggalkan. But I have to. 

RI