New Routine

Okay, here it is, my new daily routine.

I started teaching at this school in Bambu Apus region in the beginning of July 2019. It’s one of an Islamic fancy schools in East Jakarta. Work starts at 8am. It takes about 40minutes by public transport from home commuting to school. However, since the school has shuttle buses that departs from Warbun (only 10minutes ride from my place), so I decided to take shuttle instead in a daily basis. I can save much!

Work ends at 3.30pm. I take shuttle to go back to the meeting point in Warbun and take TransJak or ojek online to reach home. I usually arrive at 4.30pm. I have early dinner and usually sleep after had my meals.

And the next day begins again.

Ri

Advertisements

Move Out of Your Comfort Zone

Banyak hal besar yang mungkin tak akan terjadi jika kita hanya menetap di satu tempat dan tidak mencoba untuk keluar dari zona nyaman.

Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah setelah banyak umat Muslim diserang dan disiksa di Mekkah. Hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW menandai awal mula tahun Hijriah. Apa yang terjadi setelah beliau di Medinah? Beliau mendapat lebih banyak pengikut, lebih banyak Muslim dan jika beliau tidak pergi dari Mekkah, beliau takkan bisa memimpin pasukan untuk menyerang kota itu dan menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah.

Suatu malam Ilham bercerita kalau dia tidak keluar dari NET. dia mungkin belum akan berani melamarku. Dia tidak yakin bisa memiliki waktu luang untuk sekedar meneleponku seperti yang dilakukannya setiap malam sebelum kami tidur. Dia keluar dari pekerjaan yang digelutinya selama lima tahun di Jakarta ke perusahaan e-commerce yang jam kerjanya lebih ramah dibanding jika dia bekerja di televisi.

Pekan lalu, saya menghadiri acara pertunangan salah satu teman kuliah di rumahnya disini. Dia akan menikah dengan laki-laki yang ditemuinya melalui Tinder, salah satu aplikasi pencari jodoh, di Jakarta. Saat menuju pulang ke rumah, saya melintasi tempat kerja teman saya itu saat dia masih bekerja di Makassar, sebelum dia akhirnya pindah kerja di Jakarta. Saya merenung sesaat dan mendapati kesimpulan bahwa dia mungkin takkan menikah dan bertemu dengan calon suaminya jika dia tidak pindah ke Jakarta.

Begitu pentingnya pindah ke satu tempat, betapa signifikan dampaknya dalam hidup seseorang. Mungkin memang itu sudah digariskan, dituliskan sejak awal di Lauhul Mahfuz. Namun saya juga yakin bahwa takdir mengikuti usaha. Kita tak bisa mendapatkan sesuatu jika tidak mengusahakannya. Berpindah ke tempat lain di luar zona nyaman butuh dilakukan untuk mengembangkan diri kita, agar kita tahu bahwa ternyata banyak sekali hal-hal yang awalnya kita pikir tak bisa kita lakukan, tapi ternyata kita bisa. Chank bilang hal yang membatasi kita hanyalah kata “tetapi”. Dan lihatlah apa yang terjadi?

Menikah adalah hijrahku yang lainnya.

Semoga segala hal yang mengikuti di belakangnya adalah hal-hal baik yang mengantarkanku dan suamiku kelak ke tempat yang lebih baik pula.
Aamin.

RI

Marriage is

Let’s admit it. When you are in early 30, settled, and you are still single and alone, it probably means something is wrong with you.

People around you will rise one and only question: when will you get married?

As if getting married is as easy as changing songs on our iPod.

No.

I, myself, think that getting married is a big thing. There are many things we should consider before we decide to do it. It’s not a cheap thing. It’s not only about two people love each other living together. No. It’s not only about I love you and you love me so let’s do it. No.

It needs long term commitment. It takes a hundred years responsibility, patience, sincerity, hardworking and forever and ever compromise.

But it doesn’t mean that marriage is scary and horrifying. No. So many friends of mine finally found their meaning of life after they have family to take care of, husband and children to raise. Marriage is the peak of man and woman relationship. Once they reach the peak, there would be so much hurricane they have to survive. If they don’t, they will fall apart.

The key is sticking together.

P.S: I found this note in my folder, I can’t believe I wrote this. I can’t believe I sounded so expert in this thing while I’m not married, yet.

Ri

Kuat

Apa yang membuat suatu hubungan menjadi kuat melawan waktu? Menurutmu?
Apa yang membuat misalnya Papi dan Mami sanggup menjalani pernikahan puluhan tahun hingga sekarang.
Apakah karena cinta?
Apakah karena komitmen?
Atau apa karena hal-hal lainnya?

Lalu apakah karena suatu hubungan tidak memiliki hal-hal diatas, maka hubungan tersebut akan berakhir?

Ri

Conflicts

Kata orang-orang yang pernah kudengar saat membicarakan pernikahan, konflik adalah sesuatu yang tak bisa dihindari. Akan selalu ada halangan dan rintangan yang ada di perjalanan untuk membuat kita menyerah untuk tidak meneruskannya.

Pernikahan adalah ibadah. Pernikahan adalah hal yang baik. Tentu saja akan selalu ada hal yang membuat kita ragu untuk menjalankannya. Sama halnya saat kita digoda untuk terus tidur dan melupakan solat subuh. Sama halnya saat kita lebih suka main game atau buka Instagram dibanding membaca Al Qur'an.

Mungkin seperti itu.

Saya harap, ditengah-tengah kegalauan, kegundahan dan keraguan yang menerpamu, diantara segala konflik dan godaan luar yang ada, kita tidak menyerah dan putus asa.

Akan ada banyak sekali hal yang perlu kita pahami dan kompromikan di masa depan. Kuharap kau tak keberatan. Kuharap kita bisa saling mendukung dan menguatkan.

Ri

Demam

Saya baru pulang dari trip Ijen-Bromo beberapa hari yang lalu. Sekarang, saya terbaring lemah di kasur, merasakan panas tubuhku semakin tinggi. Saya kena demam.

Seumur hidup, sebelum Ijen dan Bromo, saya hanya pernah hiking di satu tempat, yaitu di Grand Canyon, US.

Semalam, saya mengirim email ke mantan pacar dan saya berakhir dengan membaca percakapan kami di email yang kami kirim di masa lalu yang jauh.

Salah satunya adalah saat saya bercerita padanya tentang pendakian ke Grand Canyon itu.

Saya menulis bahwa disana sangat indah, dan betapa susahnya bagi saya untuk mendaki dan menuruninya. Namun saya tetap keukeuh melakukannya.

Sepulang dari Grand Canyon, saya meringkuk di kamar hotel dan tidak bisa menyaksikan sunset karena badanku demam.

Di email dia mengatakan bahwa hanya kita yang tau sampai mana batas kemampuan fisik kita. Dan betapa saya sering sekali melewatinya.

Saya sudah lupa bahwa perjalanan saya selama dua bulan di Amerika saat itu, terekam pula di email-email yang kami kirimkan. Dan betapa saya dan dia sebenarnya tak pernah benar-benar kehilangan kontak meskipun kami tidak lagi bersama-sama.

Ri