Senja di Jakarta

Kutulis pesan ini saat senja telah turun di Jakarta dengan ditemani setangkup kenangan pahit dan secangkir kopi tanpa gula di kafe yang namanya mirip dengan nama kota ini di jaman Belanda. 

Hatiku lebih getir dibanding cecap lidah yang mengisap gelapnya minuman yang beralaskan tatakan piring keramik putih. 

anak-anak di depan kafe sedang berlari-kejaran penuh ceria hingga tangan mereka direntangkan bagai sayap. 

mereka tahu takkan bisa terbang. namun seolah-olah saja, rasanya cukup bahagia. 

aku tahu kau takkan membalas pertanyaanku yang lebih mirip pernyataan itu dengan jawaban “ya”.

namun membayangkan kau menyambut tanganku yang kudiamkan di atas meja saja, 

sudah membuatku terbang 

bahagia

dan itu

kadang-kadang 

lebih indah

dari segala realitas yang ada disini. 

dunia butuh lebih banyak sayap dan kebahagiaan. 

RI

Advertisements

Hi

Hi. It’s been a long time since the latest post.

Malam ini pikiran yang begitu penting untuk ditulis adalah sebagai berikut.

I miss Jakarta and all its little pieces.

Saya rindu macetnya yang selalu bikin merinding. Saya rindu berada di busway yang disesaki orang sampai bernapas pun susah. Saya rinduuu teman dan sahabat-sahabat yang dulu begitu akrab dan kini harus menanggung perihnya jarak.

Saya rindu hiruk pikuk kota itu, mahalnya harga ojek, kopaja, ratusan pengamen yang naik turun angkot, jembatan penyebrangan, halte dan harga karcis busway 3500 perak.

Saking rindunya saya bahkan masih berpikir bagaimana seandainya jika enam bulan yang lalu sejak saya memutuskan pulang, instead of that. Saya bersikukuh tetap tinggal dan sekali lagi berjuang.

Tapi setelah memikirkan itu dan melihat keadaanku sekarang, hatiku tenang. Dan saya yakin bahwa beginilah jalan yang sudah ditetapkan untukku. Beginilah. Rasa rindu inilah yang kemudian harus saya tanggung. Rasa rindu lengkap dengan pertanyaan teman-teman, “kapan ke Jakarta lagi?”

Suatu hari jika entah kapan kesana lagi dan menemukan kerinduanku sekarang menjadi nyata, saya akan tertawa.

Perasaan bahagia seperti melihat  teman lama yang sudah lama tidak bertemu.

Sunshine

Wondering

Setiap kali saya melihat foto teman-teman di Makassar yang bahagia dengan keluarga mereka, saya jadi penasaran. Atau mungkin lebih tepatnya berpikir ulang, sebenarnya apa yang saya lakukan disini? Bersusah-susah bekerja, jauh dari keluarga dan orangtua. Apa sebenarnya yang saya mau tau? what exactly my goal? Haaa, jadinya kan saya seperti robot kalau begini. Manusia tanpa tujuan itu disebut apa?

Saya masih bertahan karena ingin tahu apa sebenarnya rencana Tuhan.

Sunshine

Jakarta, Kota yang Menyedihkan

Jakarta

JAKARTA — Aku orang baru di kota ini. Selama dua puluh tiga tahun, aku hanya mengenal kota ini dari media televisi dan cetak. Citra yang dibangun dari media tentang kota ini sangat bagus, mewah dan bergaya. Kota yang berkembang sangat jauh dari kota-kota lain di Indonesia, termasuk kota kelahiranku, Makassar. Semua orang tahu, Jakarta merupakan kota modern, pusat pemerintahan, hiburan dan bisnis menjadi satu. Semua ada di Jakarta. Rasanya hampir semua orang pernah punya mimpi untuk menjadi bagian darinya. Termasuk aku sendiri.

Kemudian, aku diberi kesempatan untuk tinggal di kota ini dan berinteraksi dengan masyarakat di dalamnya. Aku mengenal kota ini lebih dekat, lebih dalam dan intens. Jauh melebihi apa yang aku ketahui dari sebatas kotak televisi. Dan hari demi hari, aku melihat orang-orang yang wajahnya sendu dan lelah. Mereka bahkan tidak bisa melakukan apa-apa dengan hidup mereka. Mereka seperti tak bisa kemana-mana lagi. Orang-orang yang pasrah dan malang.

Aku berkunjung ke Kapuk Muara dan menemukan warga disana berteriak-teriak pada PALYJA karena mereka tak juga mendapatkan air bersih padahal mereka membayar iuran setiap bulan. Aku ke Kalibaru, Cilincing, dimana warga tinggal di rumah yang berdempet-dempetan dalam lorong kecil yang bahkan sepeda motor pun tak bisa masuk. Mereka tinggal disana selama berpuluh-puluh tahun tanpa bisa mengakses air bersih. Mereka hidup dengan membeli air pikulan yang digunakan untuk masak, mandi dan mencuci. Temanku, Rahma, bahkan pernah menyaksikan warga Kali Ciliwung yang menggunakan air kali untuk mencuci. Padahal tak jauh dari situ, tetangganya sedang buang air di sungai yang sama. Air kali itu tercemar dan mereka tahu tapi mereka tetap menggunakannya. Jawaban yang paling sering kudengar adalah, ‘YA MAU BAGAIMANA LAGI?’

Di kota ini, lalu lintasnya parah. Kemacetan hampir terjadi di semua titik. Angkutan umum bahkan berhenti di tengah jalan untuk mengambil atau menurunkan penumpang. Dampaknya, kendaraan di belakangnya berturut-turut ikut berhenti. Dalam waktu sepersekian detik angkot itu berhenti di tengah jalan, antrian kendaraan sudah mencapai tiga kilometer. Sopir angkot itu tentu tahu tindakannya salah. Penumpang yang naik pun tentu paham bahwa ia membuat kendaraan terhenti. Tapi toh, mereka pun tetap saja melakukannya.

Pemandangan yang paling miris dan merobek hatiku adalah melihat penjual-penjual jalanan menjajakan dagangannya dengan menunggu di pinggir jalan. Mulai dari penjual otak-otak, tahu gejrot, rujak, penjual minuman yang beraksi di tengah kemacetan hingga pengamen jalanan dengan puluhan modus operandi. Ada juga penjual air pikulan yang keberatan memanggul jerigen airnya bahkan odong-odong keliling pun ada yang melakoni.

Tadi di angkot aku melihat anak perempuan berumur lima tahun dengan kulit yang seperti melepuh. Tubuhnya kurus, kaki dan tangannya kecil tapi perutnya membuncit. Mirip anak yang kekurangan gizi. Ibu yang menemaninya justru kebalikan, kulitnya segar putih dan tubuhnya berisi. Saat mereka turun, sontak penumoang lain membicarakan mereka. Mereka mengatakan mungkin ibunya tak memedulikan anaknya dan sibuk bekerja.

Sunshine

Ojek

Dear Ma,

Suatu saat aku akan menjalankan bisnis transportasi, Ma.

Diilhami oleh pengalaman tidak mengenakkan selama berprofesi sebagai reporter dan bergantung pada satu profesi lain, yakni tukang ojek.

Mereka sangat berguna juga sangaaat menguras dompet. Hiks.

Pernah saat mengejar waktu dari satu liputan ke liputan lain, aku membayar ojek sampai Rp 50 ribu, Ma. Itu dari Plumpang ke Senayan. Utara ke Pusat. Cukup jauh, memang, tapi, rasanya tetap saja kurang ikhlas.

Lalu kemudian di Bandung, aku mengeluarkan total Rp 160 ribu untuk ojek saja. Rp 110 ribu berpindah ke empat tempat selama liputan dan Rp 50 ribu pas perjalanan dari Biro ke travel. Maksudku, it’s a big money! At least for me.

Ma, aku rinduuu padamu. Tapi aku juga ragu, antara mau balik Maret atau April. Ada sahabatku yang mau menikah di akhir April nanti, Ma. Apakah aku harus menahan rindu lebih lama lagi? Kalau ojek dari Jakarta ke Makassar itu berapa duit ya? Hahaha. I love you, anyway. 🙂

Sunshine

Merlion

Tucson, 2010
Sahara Apartment 3215

Gadis itu duduk di depan laptopnya, memeriksa email yang masuk. Senyumnya terbit saat membaca email dari lelaki itu. Sejak dia berada jutaan kilometer dari rumah, dia intens berkomunikasi via email hanya dengan laki-laki itu. Kemarin, dia bertanya pada lelaki yang dipanggilnya Dise itu, dia ingin dibelikan oleh-oleh apa dari Tucson.

Gadis itu membaca jawaban Dise:
Sesuatu, apapun itu tak masalah, dari Singapore.

Singapore? Bukannya dia ada di Tucson, Arizona?

Gadis itu membalas email itu segera dengan jawaban:
Tentu saja.


Changi Airport, 2010

Gadis itu tiba di Changi Airport untuk pertama kali dalam hidupnya pukul 01.00 pagi. Dia hanya transit beberapa jam sebelum berangkat lagi dengan pesawat lain pukul 07.00, pulang ke negaranya. Pikirnya dia akan mencarikan sesuatu buat Dise disini.

Dia berpikir membeli kaos, seperti biasanya. Tapi, rata-rata toko tutup.

Dia mengelilingi salah satu bandara terbesar di dunia itu, sendirian. Terlalu besar. Dia berkali-kali berganti Skytrain untuk, akhirnya, sampai di sebuah toko suvenir yang masih buka.
Sepuluh menit kemudian, di tangannya sudah ada miniatur merlion silver yang cukup bagus.

Makassar, 2010

Mereka bertemu. Gadis itu memberikan Dise apa yang dibelinya saat di Changi.
”Maaf, cuma bisa kasih ini…”,
Gadis itu tak ingat Dise berucap terimakasih atau tidak. Dia hanya merasa kewajibannya telah selesai.
Gadis itu sudah akan pergi, saat Dise tiba-tiba berkata,
”Saya ingin kesana suatu hari”, sambil memandangi lekat-lekat merlion di tangannya.
”Singapore, maksudmu?”
Dise mengangguk.

Makassar, 2011
Rumah Dise

Gadis itu menemukan dirinya berada di dalam kamar Dise entah persisnya karena apa. Pemilik kamar sedang tidak ada. Saat gadis itu hendak keluar, dia melihat miniatur merlion yang diberikannya setahun lalu pada Dise, berada di atas monitor komputer. Berdebu, seakan-akan sudah ada disana sejak dulu, dan tak pernah dipindahkan.

Gadis itu tahu, Dise suka sekali bekerja di depan komputernya hingga lelap malam bahkan hingga pagi. Fakta penemuan merlion di atas monitor komputer itu, entah dengan alasan apa, membuatnya tersanjung.

Mestinya dia memandangi merlion itu sambil bekerja, setiap hari, bukan? Gadis itu tersenyum.

Jakarta, 2012
Erasmus Huis, Kuningan

”Tiket masuknya gratis kan?” seorang gadis bertanya pada salah satu panitia festival film.
”Iya, silahkan mendaftar dulu”, panitia itu menjawab sambil memberikan pulpen pada gadis itu.
”P-A-R-A” gadis itu menulis di kolom nama.

Kemudian gadis itu mendengar satu suara memanggil, suara yang amat didengarnya.
”Para!”

Gadis itu berbalik. Terkejut luarbiasa. Dia sama sekali tak menyangka,.. tapi kenapa Dise disini?

”Kau pasti tidak membaca jadwal acaranya dengan baik, bukan?”, Dise memperhatikan kebingungan Para dan menyodorkannya jadwal festival film. Para membaca perlahan dan paham saat mendapat nama Dise pada kolom sutradara film. Dia tersenyum. Bangga.

”Akhirnyaa, selamat!” Para berkata pelan. Dia masih belum tahu harus berkata dan bersikap apa. Tapi akhirnya dia bertanya.
”Tentang apa filmnya?”

Dise menjawab, ”I won’t tell, just watch by yourself. Yuk, filmnya sebentar lagi mulai”.

Saat Para menonton film Dise, dia berpikir ini tak mungkin soal miniatur merlion yang diberikannya dua tahun lalu dan sempat dilihatnya berdebu di kamarnya. Tak mungkin benda itu yang menjadi motivasi atas usaha kerja keras Dise hingga dia sampai ke titik ini. Kenapa cara kerja hidup seperti itu, Para tidak bisa paham.

”Kau ingat benda yang kuminta sebagai motivasi?”, Dise bertanya saat film berakhir.
Para mengangguk.

Obrolan mereka pun berlanjut, mengalir, seakan-akan memang sudah diatur sedemikian rupa seperti itu.

Flyer film berjudul ‘Merlion from Her’ terbang tersapu angin. Di bawah judul film, tertulis jelas tulisan ‘A Film by Dise’.

Jatiwaringin, akhir 2012