Back to Basic

So i’m officially quit my job in Briton and back to basic or you may called pengangguran. 

It’s been 2 weeks actually.

I planned to go to Immigration this morning but I woke up late. So maybe tomorrow. Today, I want to finish The Girl on the Train by Paula Hawkins, wash my clothes, cook, eat, watch some episodes of House, and study. 

And I hope today ends soon before I know it. 

RI

In Office Lately

I’m sorry if my postings lately has been dull and stupid. You know, fall in love always makes us fool. I am trying to update some more important things to be read instead of telling you how is my relationship going with K. 
I have been working for 1 year and 8 months in here. I am an english as a foreign language teacher for young learner in my city. I love my job. I like taking care of kids, knowing them in person, building their english ability from zero to flyer, jumping and rolling on the floor in class, running around, wiping tears when one of them cry. It’s like a warming up before I have kids in the future. 🙂
But I am afraid 4 months later I will say goodbye to all of them. Maybe this post is a little bit early but I start to think about this in office. How I will quit soon. How fast 4 months would be and I don’t know what comes after this. A new adventure maybe.
Today, my colleagues and I were  preparing our moving into the new building, which is specialized for children only. The new building is behind the old one. It’s not ready yet. My manager said it will be ready for the next 2 weeks. So meanwhile, I need to be in my clasroom for doing all my activities related with teaching. 

I have this healthy issue which I mind to write you the detail. 
I am happy since K always makes me feel happy. 
This morning I was really thankful for all the blessings I’ve got from You, dear Allah. 

RI

Bangunan Barat

Ciwedey

Jadi, sekitar tanggal 20 Maret kemarin, aku sudah jadi penghuni kosan di Jalan Bangunan Barat, Rawamangun. Kosannya nyaman dan mahal untuk ukuran sendiri. Tapi karena aku sekamar berdua Desi, tanggungan per bulan pun dibagi dua. Jatuh-jatuhnya lumayan murah untuk fasilitas kosan sejuta, aku hanya membayar sekian ratus ribu.

Tapi resikonya, aku harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk sampai ke wilayah liputan di utara. Dari Rawamangun ke Sunter sekitar 15 menit dengan busway kalau traffic bagus. 30 menit kalau traffic menggila.

Aku harus lebih bersabar.

Hidup sendiri, di bulan ke-10 aku jauh dari keluarga, membuatku harus belajar untuk lebih berhemat. Gaji lumayan untuk fresh graduate. Tapi aku belum bisa juga menabung. Ada saja kebutuhan yang selalu harus ditutupi. Aku harus benar-benar mengatur keuanganku sendiri dan itu salah satu ilmu yang tidak diajarkan saat kuliah dulu.

Bulan ini misalnya, aku harus mengeluarkan sekitar sejuta lebih untuk ongkos menghadiri resepsi pernikahan Nendenk di Makassar. Tiket pun dibela-bela beli atas nama persahabatan. Bulan ini juga, Desi dipindah ke Jogja. Jadi aku harus lagi berganti kosan juga, karena tak mungkin aku membayar sejuta lebih sendirian untuk kosan per bulan. Lalu, aku membeli powerbank di living social dengan penawaran yang sangat murah dan langka. I need it for work, you know.

So, it’s 3.00 AM now. I am going to sleep and will wake up when I wake up. Tomorrow is my day off and I am plan to go to Ciwedey, Bandung with Desi and Alicia. I am so excited! Though I have to spend extra money again. But I think it’s okay as long as it’s for me. I need vacation too!!

Anyway, my job is getting me exhausted day by day. I don’t think I can’t help it for more than 4 months. Tya said ‘No giving up!’ but the situation getting rough.

Sunshine

Resign

Dear Mama,

Bukan, bukan aku yang mau resign. Pas aku menulis ini, Paus Benediktus resign dan kebetulan yang aneh, karena Sudin Perumahan DKI, Novizal juga resign di hari yang sama.

So, am not going to tell you about resign.

Mama, kemarin ada kejadian seorang mahasiswi UI, Annisa, tewas setelah loncat dari angkot karena ia takut diperkosa. Ia sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit, tapi jiwanya tidak tertolong. Jakarta semakin tak bisa diduga. Bahaya selalu mengancam, tak kenal siapapun.

Apa aku takut? Ya, sedikit. Saat aku membicarakan kekhawatiranku pada anak-anak Cuaca, mereka terkesan tidak mengerti. Tapi, sudahlah.

Kejadian ini, Ma, masih bergulir. Sampai keluar isu untuk melarang angkutan umum beredar di kota-kota besar.

I hate it, Ma. Kenapa perempuan selalu jadi korban. Perempuan yang lemah, yang lebih penakut, malah terus diintimidasi. Bukannya dilindungi dan disayangi. Kenapa Ma? Kenapa laki-laki kadang begitu kejam?
Oh iya, tentang redaktur baru itu, aku tak mau terus-terusan tersiksa dengan pikiran negatifku padanya. Kalau dilihat-lihat, dia baik juga, Ma. Dia lebih keras dan menuntut kita agar lebih kritis. Aku memang butuh guru seperti itu.

Baiklah, sampai disini dulu. Nanti aku menulis lagi padamu.

Aku rindu, Ma. Salam buat Bapak dan saudaraku yang lain disana.
Semoga sehat-sehat selalu ya, Ma.

Sunshine