Makassar – Jakarta- Weda

Tiga kota yang penting dalam hubunganku dengan Akbar.

Malam setelah dia dinyatakan lulus UKMPPD, Akbar menelpon dan mengajak buka bareng terakhir Ramadhan sebelum dia berangkat ke Weda besoknya, which is tonight. Dia akhirnya bisa berkumpul dengan keluarganya di momen Idul Fitri besok, setelah 2 tahun berturut-turut tak pulang karena masih fokus koas.

Sedangkan saya masih di Makassar. Menunggunya kembali.

Dia hanya akan transit di Makassar, mengurus beberapa keperluan untuk wisuda sebelum ke Jakarta lagi bekerja.
Weda-Makassar-Jakarta.

Saya ingat kami bertelepon dan membicarakan masa depan. Saya bertanya apakah dia merasa saya adalah beban? Dia menjawab, tidak justru kamu yang meringankan bebanku. 

Di atas motor tadi dia juga bertanya, bagaimana bisa saya bertahan bersamanya, menemaninya di masa-masa koas hingga selesai. Saya mencubitnya dan berkata bagaimana bisa dia bertanya seperti itu. 
“Karena Ri, jarang ada perempuan yang mau temani laki-laki pas lagi susah”, 

Kata-kata yang keluar dari kepalanya selalu membuatku tercengang dan terharu. 
Semoga tak lama lagi, Tuhan

Ri

I Want to Remember 

Saya ingin selalu mengingat kata-kata manis yang Akbar ucapkan padaku. I want to remember those sweet words. 
Misalnya malam ini, di salah satu chat, dia bilang “Happy 2nd anniversary, my love”.

Akbar jarang mengingat tanggal 20. Tapi malam ini, tahun kedua kami bersama, dia mengatakan beberapa hal. Saya ingin menulisnya agar saya bisa terus mengingatnya, supaya kata-kata itu kekal disini. 
“Kamu adalah salah satu hal yang paling baik yang Tuhan berikan, setelah Abah, Mama, Dita dan Bang. Kamu itu seperti malaikat buatku. Ada banyak perempuan yang saya temui, tapi tidak ada yang seindah kamu”. 

“Mungkin kamu tidak tau, atau tidak sadar, tapi kamu sudah banyak sekali bersabar denganku. Saya sangat tau, Ri, kalau tidak gampang jadi kamu, yang memilih buat tetap bersabar”.

“Terimakasih sayang untuk semuanya. Untuk semua cinta dan sayang”, 

Waktu menulis ini, airmataku tidak bisa kutahan. Saya menangis terharu. Saya merasa begitu dicintai dan diinginkan. Saya bahagia. Saya tahu mungkin kedengaran gampangan, tapi perempuan memang mudah tersentuh. Saya hanya tidak menyangka, ada Akbar, yang begitu sabar dan tabah memilih tetap disampingku, despite of my every flaws, against all my odds. He stays no matter what. Saya kadang jadi begitu temperamen, emotional, critical dan seringkali speak before think, bikin orang di sekitarku merasa risih. Dan banyaaaak kekurangan-kekuranganku yang lain, selain I am also not physically attractive. 

But he stays. No matter what. 

Semoga Allah SWT menghendaki kami berdua bisa sama-sama. Menikah, berkeluarga dan hidup bahagia bersama-sama. 
I love you, sayang. 
Ri

Kata-Kata Menjelang Tengah Malam

Pukul dua pagi lewat sepuluh menit. Biasanya saya sudah tidur sejak sejam yang lalu. Tapi hey, it’s holy day for some people who are Christian enough, and luckily we had four days off! And mom’s not here. Everybody’s been sleeping since 11. So, screw with Rhoma Irama, i’m having my stay-up-late post!

Tengah malam

Kata-kata lahir 

Dalam kepala, dalam ruang

Mereka kadang bersuara lebih keras dibanding putaran kipas tua yang masih terus berputar. 

Ambang batas

kata-kata
Lebur

dalam pikiran
kemudian 

Pudar, pendar. 

Lari
Tak perlu kujelaskan 

Hanya itu yang kudengar

Kata-kata menjelang tengah malam.
Setelah kutuliskan

Mereka seharusnya bisa membiarkanku tidur

RI

You Can’t Leave Your Love Behind

Apa yang kau cinta tak bisa kau tinggalkan.

Saya ingat kemarin saat Pak Teguh membawakan materi orientasi ‘Investigative Reporting’ pada kami bertiga. Sebelumnya, dia membuka materi dengan pertanyaan sederhana;
“Apa kalian pernah menulis?”
Dia tidak memakai kata “suka menulis”. Mungkin karena dia ingin mendengar bukti. Bukti kita suka menulis adalah setidaknya, pernah menulis, bukan?
Dan kami bertiga menjawab, “pernah”, dan itu membuatnya mengatakan “Bagus, artinya kalian sudah punya modal untuk masuk ke dunia menjengkelkan ini”
Lalu dia menjelaskan kenapa dia bertanya seperti itu. Bahwa jika kita memang suka menulis, bagaimanapun sulitnya pekerjaan, kita akan tetap kembali.
“Jika misalnya kalian tidak suka bekerja disini lalu kalian keluar, pasti kalian akan masuk kerja ke media lain, bukan?”
Saya menunjukkan wajah serius.
“Jadi awalnya harus cinta dulu, Pak?”
“Benar! Harus cinta dulu…”

Saya menyebutnya passion. Seperti saya pada menulis, Rahma pada fotografi, Ilham pada film dan Kak Aan pada buku dan kata-kata. (Hanya orang-orang ini yang saya kenal konsisten pada passion mereka)

Tapi tiba-tiba saya malah mengaitkannya pada hubungan sepasang kekasih.

Kau tidak bisa meninggalkan orang yang kau cinta, kecuali jika ada kondisi yang tidak bisa kalian kendalikan, takdir.
Jika kau memang mencintai seseorang, kau tak akan mau dan mampu meninggalkannya, betapapun sulitnya hubungan yang kalian jalani, betapapun susahnya kalian berdua menyatukan pikiran. Misalkan kalian pergi, kalian pada akhirnya akan kembali- betapapun sulitnya kalian menjaga harga diri kalian.

Sunshine

Question

People keep questioning me
what’s so special in you
why do I love you
how could I so madly in love with you
am I mad or something?
or did you put any charm on me, somehow?
which I bluntly won’t believe any of it

I just love him.

words won’t enough to describe any feeling we felt
or any circumstance we had
It just happened and happened

Joke Disaster

Belakangan ini, sebab cuma di rumah saja pagi hingga malam, begitupun keesokan harinya, dan seterusnya, saya memikirkan banyak hal. Mungkin memang tidak penting amat. Hanya saja ya, mulai dari istilah fake follower kemarin, postingan ini juga mau membahas tentang satu istilah, yaitu Joke Disaster. Istilah ini juga lahir karena saya memikirkan satu situasi atau hal yang selalu terjadi di sekeliling kita, cuma kita belum tahu mau diistilahkan sebagai apa.

Nah.
Joke Disaster ini adalah jenis candaan yang melahirkan musibah. Bukan, bukan bencana alam. Ini lebih ke semacam akibat yang ekstrim, yang lebih ke negatif impact.

Misalnya, saya ambil satu contoh dari episode Glee yang baru-baru saja saya tonton; Glee Season 3 Episode 14- On My Way.

Karofsky akhirnya ketahuan gay. Satu sekolah akhirnya melempar banyak hinaan di wall Facebooknya. Dia panik, tak bisa menahan serangan itu dan akhirnya mencoba bunuh diri meskipun untungnya gagal.

Teman sekolah Karofsky melakukan hinaan itu dengan tujuan FUN. Tidak ada yang lain. Mereka menganggap itu joke, buat fun. Tapi seperti yang dikatakan Sebastian, “It’s all fun and games, until it’s not”. Sampai kapan candaan-candaan itu dianggap lucu dan menyenangkan? Tentu, sampai joke itu bikin seseorang nyaris mati gara-gara omongan kita- joke disaster.

Banyak teman-teman kita niatnya selalu bikin candaan hal-hal yang bikin kita sakit hati sampai tidak bisa tidur, karena selalu kepikiran. Mereka dengan santainya bilang, “Sorry, becanda..”. Padahal kita sudah sakit hati dan peras airmata hanya karena omongannya yang hanya bisa dipertanggungjawabkan dengan kata-kata BECANDA.

Maksud saya, tak ada yang salah dengan jokes. Saya juga suka begitu. Have fun dengan joke yang tidak lucu sama teman-teman. Godain satu persatu dengan hal yang lucu. Tiba-tiba saya sadar saja, tidak semua orang bisa menerima hal seperti itu. Jadi kita harus hati-hati saja, jangan sampai kita anggap lucu, tapi menuai sakit hati sama orang yang dituju. Oke?

Sunshine