Singing in the Rain

Ayo mundurkan waktu ke beberapa bulan yang lalu.

Mama dan Warni akhirnya datang ke Jakarta. Saya dan Kak Fauzi, suami Warni, datang menjemput mereka di Soetta Airport. Saya memeluk Mama. Mama memelukku. Kami akhirnya bertemu di Jakarta.

Kemudian saya menghadapi hari-hari terakhir di Republika. Semangat liputan dan mood ngedrop. Untung ada Mama dan Warni jadi pengalihan isu. Jadi saya tidak sendiri menghadapi situasi menyedihkan itu.

Kupikir Tuhan menghendaki saya untuk stay lebih lama disana dengan membuat PT. S memberiku penawaran pekerjaan yang amat bagus. Mama pun senang saya bisa segera resign dari kantor dan tak berapa lama dapat kerjaan baru.

Di satu kesempatan makan malam di Pepper Lunch Mall Taman Anggrek, saya mengatakan pada Mama bahwa rasanya Tuhan sayaaang sekali pada saya.

“Ma, merasa ka Tuhan sayang sekali ka”,
“Iya Nak. Disayangko memang Tuhan. Mama rasa tahun depan nanti itu tahun emas mu”,

Ternyata Tuhan punya rencana lain. Seperti biasa, Dia selalu memberiku kejutan. Setiap malam saya gemetaran dan merasa takut. Namun saya harus tetap kuat dan melanjutkan hari-hari dengan semangat.

Di tengah-tengah deras hujan malam ini, saya ada di Makassar, di rumah dan mengingat lagi percakapan itu. Setelah apa yang saya alami dan hadapi, cobaan itu, apakah saya masih merasa Tuhan sayang pada saya?

Tentu saja. Malahan saya merasa kasih sayang-Nya tak pernah padam. As Sandy Sandoro’s song. 

Mama masih mengingat jelas kalimatnya malam itu. Dia membesar-besarkan hatiku bahwa dia meyakini apa yang dikatakannya.

“Tapi Mama bilang itu karena ditawarika PT. S dan belumka ketauan sakit”
“Mama bilang itu bukan karena alasan itu. Tapi karena Mama yakin jadi kau juga harus yakin. Mama percaya suatu hari kau bakalan jadi orang besar, Nak”.

Dan akhirnya saya sadar, menjalani hari-hariku sekarang di rumah bukanlah karena saya tidak ingin lepas dari zona aman. Tapi karena saya merasa menghabiskan waktu bersama keluarga adalah priceless. Menjalani kesusahan sama-sama, senang-bahagia bareng, membereskan rumah dengan bagi tugas sampai mendengar keluh kesah Mama tiap hari. Kalau saya berangan-angan ingin berguna, well, saya ingin menjadi berguna untuk keluargaku dulu.

Dan keluargaku inilah rahmat Tuhan yang paling besar yang paling saya syukuri. Selain teman-teman yang baik.

Hujan sudah reda.

Sunshine

Advertisements

Longing My Productive Days

Gak ngapa-ngapain just stay at home during holiday season itu gak enak banget. Now I am longing my productive days!

Dengan kepedean luarbiasa saya yakin bakalan bisa dapat kerja dengan mudah pas balik ke Makassar. Tapi udah sebulan lebih gak bikin apa-apa disini dan hal itu bikin hati dan pikiran mampet. Alhasil di rumah bosen. Diajak jalan keluar juga rada males. Gak ada pergaulan lagi. Bebi dan Andromiro juga cuma dipake update social media. Dapet bbm tapi semuanya broadcast.

Yah. What should I do ya selain menunggu hidayah dan rejeki dari Allah. Semua udah diatur juga. Aku udah kirim aplikasi kerja ke beberapa companies tapi mungkin masih suasana libur jadi belum ada panggilan sampe sekarang.

Sabar aja.

Oh iya. Semalam aku mimpi mau nikah! Hahaha. Katanya kalo kita mimpi mau nikah kita itu mau meninggal. Kata adek, artinya aku mau sakit. Tapi aku kan memang udah sakit. Jadi gak tau mana yang bener.

Okay. Have a wonderful days everyone. Alhamdulillah masih bisa dapet period minggu ini. Masih ada waktu kumpul bareng keluarga juga di rumah tanpa kurang satupun.

Sunshine

Eid Mubarak

Hello! What have been up to guys? Been a while, huh?

First, I want to say minal aidin wal faidzin. Maafkan lahir batin ya. Apapun yang saya posting disini yang tidak berkenan di hati, mohon dimaafkan. I did it not on purpose.

So, tahun ini saya merayakan lebaran di Jakarta. Sendirian. Hahahaha. Yes, I did it and it thruu finally. No families, no sungkeman, no pelukan sama keluarga, no ketawa ketiwi, no siara’. Nothing. Sebelumnya, pas Kak Aan tau, dia bilang, “selamat menjadi semakin kuat, Ri”. Awalnya saya tidak paham. Tapi setelah merasakan dan melewatinya, baru kemudian saya mengerti. It hurts like a thousand knives stab my heart.

Tapi Tuhan tak henti-hentinya bersamaku. Adaa saja orang yang baik hati di sekitarku. Ibu Kos contohnya. Dia memberi saya setoples kue keju dan satu kantong rendang telor dan setoples kerupuk. Katanya buat lebaran. Dan dia juga bilang, karena gak ada warung yang buka, saya makan di bawah saja bareng sama keluarganya. Ibu Kos gak berenti naik ngecek ke kamar apa saya udah makan apa belum. Temen kosan semua pada mudik.

Gak ada yang spesial di Idul Fitri kali ini. Saya nginap semalam di rumah Rahma. Makan opor sama coto dan burasa. Selanjutnya hari-hari diisi dengan liputan dan liputan.

Baru kali ini saya mau waktu cepat bergulir. Saya ingin segera lompat ke Oktober. Dimana saya akan pulang menghadiri pernikahan Warni. Aaaak, I should prepare my dress too, right?

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Sunshine

Awesome News

How happy and grateful I am now.
I just got an awesome news from my older sister, Warni, that she just passed all her exams! That means, she would up to September graduation for being (finally) a dentist in university!

I am extremely happy and proud for her. Thank you Allah. Thank you. This September she would be a dentist and by October, she would be someone’s wife. Yes, yes, Warni is getting married this early October!

Geez, I cried while typing this.

Be blessed you all!

Sunshine

Demi Silaturahmi

My furthest journey alone. Seemingly.

Saya melintasi kota Jakarta dari Bekasi menuju Tangerang (persisnya di daerah Bintaro) mengunjungi atau lebih tepatnya menjenguk istri kakak sepupu saya yang baru saja melahirkan anak pertamanya sore tadi. Awalnya, kupikir saat dia mengatakan tinggal naik kereta dari stasiun Bekasi ke stasiun Jurangmangu, itu pasti tak seberapa jauh. Ternyata, diluar dugaan. Itu adalah perjalanan terjauh saya sendirian dengan kereta. Dua jam lebih dengan kereta dengan berganti rute tiga kali.

Dari Stasiun Bekasi, saya membeli tiket Commuter Line menuju Serpong dengan harga Rp16.500,-. Sesuai petunjuk, saya harus ke Stasiun Manggarai dulu, lalu ganti ke arah Tanah Abang, lalu langsung lanjut ke Jurangmangu.
Tapi menulis tak semudah mengalaminya. Perjalananya tentu dikali dua, sebab saya harus pulang balik saat itu juga.

Kalau masih ada lagi yang bertanya kenapa saya mau pergi, benar-benar saya tabok.
Karena apalagi kalau bukan silaturahmi?

Maksudku, mereka salah satu keluarga yang termasuk dekat. Dan saya suka mengunjungi seseorang yang bisa mengingatkanku dengan kampung halamanku, Makassar. Mereka membuatku merasa seperti itu, makanya saya rela menembus jarak sejauh tadi, yang mungkin takkan dilakukan orang lain di zaman modern seperti ini apalagi kalau mereka memakai alasan sibuk bekerja sehingga tidak sempat datang.

Akhirnya, saya pulang dengan kereta lagi dari Stasiun Jurungmangu. Namun pas sampai di Stasiun Manggarai, KRL ke Bekasi baru akan datang pukul setengah sebelas malam. Saya tentu tidak bisa menunggu sejam hanya untuk itu. Saya segera keluar dari stasiun, dengan bajaj, saya mencapai shelter TransJakarta Manggarai menuju shelter Matraman dan sambung ke arah PGC turun di Bidara Cina, ambil angkot 26 sampai Curug nyambung ojek masuk ke (akhirnya) RUMAH!

I am so sleepy but eventually I can barely sleeping so I am writing this silly post. Well, blogging is some kind of therapy for me. So here I am, with my warm blanket and pillow. Just so you know, I don’t want to be late tomorrow so I have to sleep now!

Sunshine