Surat buat Sahabat

Kepada Anita, Dini, Tya, Isti, Rahma dan Ira
Saudara seperguruan dan sahabat terdekatku.

Kita menyatu entah sejak kapan, karena apa dan siapa yang memulai pun aku tak ingat lagi. Yang jelas, suatu hari kita berkumpul dan menanyakan hal yang sama. Kita kebingungan dalam mengingat dan tak membahasnya lagi. Meninggalkannya tetap dalam pertanyaan hingga suatu hari seseorang tahu jawabnya.

Kurang lebih empat tahun kita bersama-sama. Kalian membuatku merasa tidak sendirian dengan apapun yang kuhadapi di dalam dan luar kampus. Sebagian kalian pendengar yang baik, penggerutu yang handal, tukang gosip yang menakjubkan, drama queen tak terkalahkan, nyonya manja yang tattalekang, kritikus yang ajaib, fotografer dan penulis yang andal. Karakter kita berbeda jauh, namun anehnya kemanapun dimanapun, kita tetap saling mencari.

Dulu, ingatkah kalian? Kita melihat diri kita dalam balutan busana kerja yang ciamik, datang bergerombol, duduk di Starbucks sambil memegang Blackberry masing-masing, bercerita betapa menyebalkannya pekerjaan kita di kantor. Dan betapa inginnya kita bertemu selepas kerja. Kita berjanji akan menjadi seperti itu kelak, saat sudah memiliki pekerjaan masing-masing, bahwa kita akan tetap saling bertemu, mendengarkan, bertatap muka. Tepat seperti karakter cewek-cewek di novel Kamar Cewek karya Okky Sepatu Merah.

Tapi sayangnya, itu belum terjadi sampai sekarang, kawan. Malahan, separuh dari kita terpisah ribuan kilometer. Tiga dari kita di ibukota, dan sisanya berada di kampung halaman masing-masing, mengejar masa depan dan karier yang berbeda-beda.

Nyatanya, aku rindu sekali kebersamaan kita. Seluruh dan semuanya. Sampai kapan kenangan akhirnya akan susut, hilang dalam ingatan? What bond us now? Komunikasi yang canggih dan modern sekarangpun belum bisa mengalahkan kecepatan dan kesibukan waktu.

Andai aku bisa membeli waktu. Aku akan memebekukannya sejenak, dalam potret kita duduk bersama di Starbucks, mengenakan blus kantor yang cantik, sambil tertawa terbahak-bahak entah terserah karena apa. Aku ingin mengingat itu sudah terjadi. atau tengah terjadi setiap waktu.

Love,
Sunshine

Advertisements

Foto Mesin Waktu

Setumpuk album foto diserahkan padaku begitu saja
kemudian Ibu berlalu melanjutkan rajutannya
aku membuka satu demi satu buku yang berisi potret itu
mereka bukan sekedar gambar diam terekam
Ibu bilang itu mesin waktu tanpa mesin

apa yang dikandung sehelai foto, sepucuk potret?
bukan, Nak. bukan sekedar gambar.
disitu banyak sekali ingatan yang bagi satu dua orang
lalu menjumpai kerinduannya,
kemudian ditemukannya kenangan

mereka mesin waktu yang canggih, Nak.
tak bisakah kau lihat tahun berapa yang tertera di bawah foto itu?
ah, Ibu. saat ini aku bahkan belum mengada
kau bahkan belum bertemu Bapak, bukan?

apa yang dikandung sehelai foto selain kenangan?

Pisah

Sayang, kita berpisah
tapi bukan berarti saya berhenti cinta padamu

masing-masing tanaman akan meninggalkan
paling tidak sehelai akar serabut
saat ia dicabut
ia menyisakan sesuatu
pada tanah
semacam cinderamata
bahwa ia pernah disana
begitu, bukan?

kau meninggalkan tidak satu, tapi ribuan kerlip
kenangan yang tetap bercahaya
ratusan kepakan kupu-kupu
yang tak mau pergi dari perutku yang perih
juga hatiku yang pedih
entah kapan akan berhenti

entah sampai masa apa saya berhenti cinta padamu

Sunshine