Mahasiswa

Akbar menghabiskan 9 tahun untuk menyelesaikan pendidikannya sebagai mahasiswa kedokteran. Anehnya, dia meraih gelar S.Ked nya dalam 3.5 tahun saja. 

Apa yang terjadi selama 3.5 tahun masa koasnya? Saya tidak tahu banyak, saat itu kami belum bertemu. Namun hal yang lebih aneh lagi adalah dia mampu menyelesaikan periode koas nya termasuk semua ujian-ujian kompre maupun UKMPPD 2 tahun setelah kami bersama. 

Begitu teman-temanku tau kalau saya menjalin hubungan dengan mahasiswa, mereka terkejut dan bertanya, “kenapa mau sama mahasiswa? kenapa tidak yang sudah berkarir saja atau yang sudah sukses?” 

Sekarang, pertanyaan itu sudah hilang. Akbar juga sudah bekerja. Saya hanya tidak percaya bisa bersama-sama dia melewati berbagai macam fase dalam hidupnya. 
“Tell them, Ri, that your man is a doctor, now”, Akbar berujar begitu saat saya bercerita soal pertanyaan dari temanku dulu. 

Ri

Makassar – Jakarta- Weda

Tiga kota yang penting dalam hubunganku dengan Akbar.

Malam setelah dia dinyatakan lulus UKMPPD, Akbar menelpon dan mengajak buka bareng terakhir Ramadhan sebelum dia berangkat ke Weda besoknya, which is tonight. Dia akhirnya bisa berkumpul dengan keluarganya di momen Idul Fitri besok, setelah 2 tahun berturut-turut tak pulang karena masih fokus koas.

Sedangkan saya masih di Makassar. Menunggunya kembali.

Dia hanya akan transit di Makassar, mengurus beberapa keperluan untuk wisuda sebelum ke Jakarta lagi bekerja.
Weda-Makassar-Jakarta.

Saya ingat kami bertelepon dan membicarakan masa depan. Saya bertanya apakah dia merasa saya adalah beban? Dia menjawab, tidak justru kamu yang meringankan bebanku. 

Di atas motor tadi dia juga bertanya, bagaimana bisa saya bertahan bersamanya, menemaninya di masa-masa koas hingga selesai. Saya mencubitnya dan berkata bagaimana bisa dia bertanya seperti itu. 
“Karena Ri, jarang ada perempuan yang mau temani laki-laki pas lagi susah”, 

Kata-kata yang keluar dari kepalanya selalu membuatku tercengang dan terharu. 
Semoga tak lama lagi, Tuhan

Ri

I Want to Remember 

Saya ingin selalu mengingat kata-kata manis yang Akbar ucapkan padaku. I want to remember those sweet words. 
Misalnya malam ini, di salah satu chat, dia bilang “Happy 2nd anniversary, my love”.

Akbar jarang mengingat tanggal 20. Tapi malam ini, tahun kedua kami bersama, dia mengatakan beberapa hal. Saya ingin menulisnya agar saya bisa terus mengingatnya, supaya kata-kata itu kekal disini. 
“Kamu adalah salah satu hal yang paling baik yang Tuhan berikan, setelah Abah, Mama, Dita dan Bang. Kamu itu seperti malaikat buatku. Ada banyak perempuan yang saya temui, tapi tidak ada yang seindah kamu”. 

“Mungkin kamu tidak tau, atau tidak sadar, tapi kamu sudah banyak sekali bersabar denganku. Saya sangat tau, Ri, kalau tidak gampang jadi kamu, yang memilih buat tetap bersabar”.

“Terimakasih sayang untuk semuanya. Untuk semua cinta dan sayang”, 

Waktu menulis ini, airmataku tidak bisa kutahan. Saya menangis terharu. Saya merasa begitu dicintai dan diinginkan. Saya bahagia. Saya tahu mungkin kedengaran gampangan, tapi perempuan memang mudah tersentuh. Saya hanya tidak menyangka, ada Akbar, yang begitu sabar dan tabah memilih tetap disampingku, despite of my every flaws, against all my odds. He stays no matter what. Saya kadang jadi begitu temperamen, emotional, critical dan seringkali speak before think, bikin orang di sekitarku merasa risih. Dan banyaaaak kekurangan-kekuranganku yang lain, selain I am also not physically attractive. 

But he stays. No matter what. 

Semoga Allah SWT menghendaki kami berdua bisa sama-sama. Menikah, berkeluarga dan hidup bahagia bersama-sama. 
I love you, sayang. 
Ri

Suara

Saya suka betul dengan suaranya Akbar di telepon. Suaranya adalah satu hal yang saya rindukan saat ini, saat-saat dimana saya dan dia tidak berada dalam satu kota, lalu tempatnya tak memiliki sinyal telepon yang bagus. Sehingga, percakapan telepon hanya berlangsung seminggu sekali. Sejauh ini setiap Kamis malam.

Masih untung ada wifi. Jadi masih bisa bertukar pesan lewat LINE.

Tapi tetap saja, chat berbeda dengan telepon. Saya tak bisa mendengar suaranya dalam pesan teks.

Tadi malam, kami bertelepon setelah saya mendesaknya meneleponku. Saat itu dia chat, “aku lagi antar pasien ke RS. Pulang dari sini kutelpon ya”.

Empat puluh menit setelahnya teleponku berdering dan kami mengobrol selama sejam.

“Saya hampir lupa suaramu”, kataku.

Setelah menutup telepon, saya baru menyadari betapa saya merindukan dan menyukai suaranya. Entahlah, mungkin karena saya cinta atau apa. Suaranya khas, menenangkan dan nyaman di telingaku. Suaranya membuatku betah menempelkan telepon di telinga, membuatku tak ingin mengakhiri obrolan. Membuatku selalu ingin memberitahunya “aku sayang padamu“, lalu dia akan mengatakan hal yang sama belasan kali sebelum akhirnya menutup telepon.

Ri

Relationship

Kalau ada satu topik yang saya paling senangi tulis, pikir dan bahas itu adalah tentang hubungan lelaki dan perempuan.

 
Saya bahkan subscribe beberapa mailing list dari coach tentang misalnya, How to Get Your Ex Back, atau How If He Is Not Into You, Signs That He Loves You, hal-hal semacam itu. Saya selalu penasaran tentang laki-laki, apa yang dipikirkannya, apa yang mereka rasakan tentang perempuan yang mereka cinta dan tidak. 

Mungkin itu karena Akbar. Saya selalu mau tau isi kepalanya. Isi hatinya. Tentang saya. Tentang hubungan kami yang sudah berjalan selama dua tahun. 
Kadang jika ada rasa ragu, saya lalu mengingatkan diri sendiri bahwa dia tidak mungkin tidak serius ingin bersama-sama, sebab dia sudah memberanikan diri untuk datang ke rumah dan bicara soal komitmen pernikahan kami ke Mama. 

He loves me. 

And I love him.
Ri

Perkara Pelukan

Memeluk seseorang yang belum menjadi pasangan kita secara halal, butuh keberanian. Apalagi kalau mau dilakukan di tempat umum. 

Saya sering sekali menahan keinginan memeluk Akbar hanya karena perkara belum boleh, dan malu dilihat orang. 

Namun ada beberapa momen saya ingat memeluknya dengan segenap perasaan. 

Seperti misalnya saat mengantar dia pulang ke Ternate beberapa bulan yang lalu di tahun ini. Dia berangkat pagi-pagi. Kita naik gocar ke bandara. Saya membuatkannya bekal nasi goreng dan ikan pepes. Dia bilang mau makan dulu sebelum masuk check-in dan dia mau ditemani. Pas di bandara, kita ke Starbucks. Akbar makan dengan lahap. Enak sekali, kata dia sambil makan. Saya bahagia sekali padahal cuma liatin dia makan bekal yang saya bawakan. 

Di gerbang keberangkatan, saya akhirnya berhenti dan bilang, saya cuma bisa antar sampai disini. Trus dia pamit dan dia memelukku. Saya mencium pipi kanannya. Disitu kita tidak perlu khawatir terlihat banyak  orang sebab semua orang juga paham perpisahan dengan masing-masing orang yang diantarnya. Saya ingat saya memeluknya dan begitulah, rasanya nyaman sekali, kalian tahu kan, memeluk orang yang kalian sayangi. 

Lalu seperti juga malam itu, sehabis nonton Fantastic Beasts and Where to Find Them. Kita bertengkar. Dia punya janji temu yang dia batalkan karena saya bikin agenda lain tanpa bilang dia dulu. Saya marah, dia marah. Saya ngambek dan bilang mau pulang naik angkot saja. Dia mengejar. Saya tidak mau. Dia marah lagi dan bilang, “ya sudah kita gak usah ketemu lagi”. Saya akhirnya mengalah dan mengejar dia balik. Trus saya memeluk dia di tengah-tengah parkiran sambil bilang, “maaf”. Dia luluh dan akhirnya ajak balik bareng. Disitu saya benar-benar takut sekali dia bilang pisah hanya karena marah sebentar. Pas di jalan, kita akhirnya bisa ketawa-ketawa lagi dan lupa persoalan tadi. Saya ingat saya memeluknya, melingkarkan tanganku di lehernya sambil jinjitan karena gak sampe. 

Malam ini, Akbar ke rumah bawain kotak makanku setelah dia kelar jaga di klinik. Pas mau balik, saya peluk dia. Tapi rasanya canggung sekali karena dia gak mau dipeluk. Dia bilang, “ada Shandy, gak enak diliatin”. Jadi, saya cuma bisa ngambek. 

Perkara memeluk ini mungkin akan seperti ini terus, hanya akan terjadi di momen-momen yang “besar”. Kau tahu perempuan suka sekali dipeluk, apalagi di saat-saat mereka membutuhkannya. 

Lagipula, Akbar itu ya, bukan laki-laki yang suka nyosor. Saya yang biasanya gemes. Dia ini sayang gak sih? Tapi dia sayang kok, cuma dia gak suka sayang pake cium apa peluk gitu. Dia cuma kerja dan belajar. Dia bilang, “tungguin saya selesai, Ri. Saya mau bikin kamu bahagia jadi saya harus kerja keras. Saya mau kita sama-sama terus”, 

Akbar baru saja chat line, dia udah di asrama dan langsung mau istirahat. 
So sekian ceritanya, good night. 

Ri